Ternyata, Hidup Tidak Selalu Butuh Hal Besar untuk Terasa Berarti
Tulisan dari Refansyah Amru khalid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hari-hari ketika kita merasa hidup berjalan begitu saja.
Bangun tidur, melihat ponsel, menjalani aktivitas, mengerjakan sesuatu yang harus diselesaikan, bertemu orang, pulang, lalu tidur. Besoknya, semuanya terulang kembali. Kadang kita bahkan tidak benar-benar mengingat apa yang terjadi hari ini karena semuanya terasa seperti salinan dari hari kemarin.
Di tengah rutinitas itu, kita sering berpikir bahwa hidup baru akan terasa menyenangkan jika sesuatu yang besar terjadi. Mendapat pekerjaan impian. Memiliki banyak uang. Pergi ke tempat yang selama ini diinginkan. Bertemu seseorang yang tepat. Atau akhirnya mencapai sesuatu yang sudah lama diperjuangkan.
Kita terlalu sering menunggu kebahagiaan datang dalam bentuk yang besar.
Padahal, mungkin selama ini kita hanya kurang memperhatikan hal-hal kecil.
Seperti ketika hujan turun setelah hari yang panas. Duduk sendirian sambil minum sesuatu yang hangat. Mendengarkan lagu lama yang tiba-tiba membawa kita kembali ke masa tertentu. Tertawa karena percakapan yang sebenarnya tidak penting. Atau sekadar berbaring di tempat tidur setelah melewati hari yang melelahkan dan menyadari, “Akhirnya hari ini selesai.”
Hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana.
Namun justru di situlah kehidupan sering bersembunyi.
Kita terbiasa mengejar sesuatu sampai lupa menikmati perjalanan menuju ke sana. Kita sibuk memikirkan masa depan sampai lupa bahwa hari ini juga sedang berlangsung. Kita terlalu sering membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain sampai lupa bahwa setiap orang sebenarnya sedang menjalani cerita yang berbeda.
Di media sosial, misalnya, kita melihat orang lain sedang berlibur, mendapatkan pekerjaan baru, membeli sesuatu yang mereka inginkan, merayakan pencapaian, atau terlihat bahagia bersama orang-orang terdekatnya.
Sementara kita sedang duduk di kamar dengan hidup yang terasa biasa-biasa saja.
Lalu muncul pertanyaan kecil di kepala, “Kapan hidupku bisa seperti itu?”
Padahal kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Mungkin orang yang terlihat bahagia itu juga sedang bingung. Mungkin orang yang tampak sukses itu sedang kelelahan. Mungkin seseorang yang hidupnya terlihat sempurna di layar justru sedang berusaha keras menyembunyikan sesuatu.
Kita hanya melihat potongan kecil dari kehidupan mereka, lalu membandingkannya dengan seluruh bagian kehidupan kita.
Tentu saja hasilnya tidak akan pernah adil.
Karena itu, mungkin sesekali kita perlu berhenti.
Bukan berhenti mengejar mimpi, tetapi berhenti sebentar untuk melihat apa yang sebenarnya sudah kita miliki.
Kita masih bisa makan makanan kesukaan. Masih bisa mendengarkan lagu yang kita sukai. Masih punya kesempatan untuk berbicara dengan seseorang yang kita sayangi. Masih bisa berjalan keluar rumah dan merasakan udara malam. Masih bisa tertawa karena hal-hal bodoh. Masih bisa mencoba lagi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.
Bukankah itu juga bagian dari keberuntungan?
Kita sering baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya. Baru menghargai kesehatan ketika sakit. Baru merindukan rumah ketika jauh. Baru menyadari pentingnya seseorang ketika mereka tidak lagi berada di sisi kita.
Mungkin karena manusia memang seperti itu.
Kita mudah terbiasa dengan sesuatu yang selalu ada.
Padahal, tidak semua hal akan selalu tinggal.
Suatu hari nanti, mungkin kita akan merindukan masa yang sekarang sedang kita keluhkan. Kita mungkin akan merindukan kamar yang sekarang terasa membosankan. Merindukan percakapan dengan teman yang sekarang terasa biasa. Bahkan mungkin merindukan masa ketika kita masih memiliki masalah yang hari ini sedang ingin sekali kita tinggalkan.
Waktu punya cara yang aneh dalam mengubah sesuatu.
Hal yang hari ini terasa berat bisa menjadi kenangan. Orang yang hari ini terasa biasa bisa menjadi seseorang yang sangat dirindukan. Dan hari yang kita anggap tidak berarti ternyata bisa menjadi salah satu bagian hidup yang paling ingin kita ulang.
Karena itu, tidak apa-apa jika hidup kita hari ini belum sehebat yang kita bayangkan.
Tidak apa-apa jika kita masih berjalan pelan.
Tidak apa-apa jika pencapaian kita belum sebanyak orang lain.
Tidak apa-apa jika hari ini hanya diisi dengan hal-hal sederhana.
Hidup tidak selalu harus spektakuler agar layak dinikmati.
Kadang, hidup hanya membutuhkan secangkir minuman hangat, lagu yang tepat, seseorang untuk diajak bicara, dan sedikit waktu untuk menyadari bahwa kita sebenarnya sudah melewati begitu banyak hal.
Mungkin kita belum sampai di tempat yang kita inginkan.
Tetapi lihatlah ke belakang.
Kita juga bukan lagi orang yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Ada banyak hal yang pernah kita takutkan dan akhirnya berhasil kita lewati. Ada masalah yang dulu terasa seperti akhir dunia, tetapi ternyata berhasil kita tinggalkan. Ada hari-hari ketika kita merasa tidak sanggup, tetapi entah bagaimana kita tetap bangun keesokan harinya.
Dan mungkin itu sudah cukup untuk hari ini.
Tidak semua perjalanan harus dipercepat.
Tidak semua hari harus menghasilkan sesuatu.
Kadang kita hanya perlu hidup.
Menikmati pagi. Mengeluh sedikit. Tertawa lebih banyak. Beristirahat ketika lelah. Menangis ketika memang ingin menangis. Kemudian mencoba lagi ketika sudah siap.
Sebab pada akhirnya, mungkin kebahagiaan bukan tentang memiliki kehidupan yang sempurna.
Mungkin kebahagiaan adalah kemampuan untuk melihat kehidupan yang kita punya dan berkata,
“Memang belum sempurna, tapi ternyata ada banyak hal yang bisa aku syukuri.”
Dan mungkin, tanpa kita sadari, hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa itulah yang suatu hari nanti akan menjadi bagian paling indah dari hidup kita.

