Masih Relevankah Activity-Based Costing untuk Bisnis Digital di Era Modern?

Mahasiswi Semester 5
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Refiasalwa cm tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana perusahaan aplikasi ride-hailing, e-commerce, atau layanan streaming menentukan biaya operasional mereka? Bagi sebagian besar orang, bisnis digital terkesan sangat hemat biaya karena tidak memerlukan toko fisik atau gudang di setiap sudut kota. Namun, sebagai mahasiswa Manajemen yang mempelajari Akuntansi Manajemen, saya justru melihat tantangan baru yang jauh lebih kompleks: bagaimana cara mengalokasikan biaya tak berwujud (overhead) seperti server cloud, algoritma AI, dan pemeliharaan platform secara akurat?
Di sinilah metode klasik bernama Activity-Based Costing (ABC) kembali dipertanyakan relevansinya.
Metode ABC pertama kali populer untuk merinci biaya di pabrik-pabrik manufaktur tradisional—misalnya menghitung biaya bahan baku, jam kerja mesin, hingga pengemasan per unit barang. Lantas, apakah konsep yang dirancang untuk pabrik fisik ini masih relevan saat diterapkan pada bisnis digital era modern yang produk utamanya berupa kode dan layanan digital?
Menurut pandangan saya, metode ABC masih sangat relevan, namun bentuk dan penerapannya harus bertransformasi.
Dalam bisnis digital, pemborosan biaya sering kali tidak terlihat secara kasat mata (invisible cost). Tanpa pendekatan berbasis aktivitas seperti ABC, perusahaan digital berisiko mengalami under-costing atau over-costing pada fitur layanan mereka. Sebagai contoh, sebuah perusahaan start-up e-commerce mungkin menganggap semua transaksi pelanggan memakan biaya yang sama. Padahal jika dianalisis dengan metode ABC, aktivitas pemrosesan pembayaran instan, alokasi bandwidth server saat flash sale, dan layanan bantuan pelanggan (customer support) memakan porsi biaya aktivitas yang sangat berbeda.
Mengutip penerapan praktis pada perusahaan teknologi modern, ABC membantu manajemen mengidentifikasi pemicu biaya (cost driver) yang sebenarnya. Aktivitas server cloud tidak lagi dibebankan secara rata (flat rate), melainkan dialokasikan berdasarkan kapasitas transaksi atau jumlah pemanggilan API (API calls) yang digunakan oleh masing-masing fitur.
Dari sudut pandang akuntansi manajemen, keunggulan utama ABC di era digital adalah kemampuannya memberikan transparansi margin keuntungan per produk atau per segmen pelanggan (profitability analysis). Bisnis digital jadi tahu fitur mana yang benar-benar menghasilkan profit dan fitur mana yang justru menjadi beban biaya (cost drain).
Tentu saja, penerapan ABC di bisnis digital tidak tanpa tantangan. Menurut saya, tantangan terbesarnya adalah kompleksitas pengumpulan data aktivitas yang berubah sangat cepat (high dynamic data). Namun, dengan integrasi analitik data modern dan sistem ERP berbasis cloud, proses pelacakan aktivitas ini kini bisa dilakukan secara otomatis.
Kesimpulannya, Activity-Based Costing tidak ketinggalan zaman. Di era modern, ABC justru mengalami evolusi: dari sekadar alat hitung biaya manufaktur menjadi kompas strategis bagi bisnis digital untuk mengambil keputusan penetapan harga, efisiensi fitur, dan alokasi sumber daya secara presisi.
