Konten dari Pengguna

Refleksi Gizi Nasional: Menolak Tumbuh dalam Ketimpangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Al-Faatih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi makanan gizi seimbang. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan gizi seimbang. Foto: Shutter Stock

Ketika seorang anak tumbuh tanpa gizi yang cukup, siapa sebenarnya yang menanggung akibatnya? Keluarganya hari ini, atau kita semua beberapa puluh tahun kemudian?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah ini sejak awal memunculkan pro dan kontra. Di ruang publik, muncul berbagai sentimen, mulai dari “gizi, susu, gratis” hingga kekhawatiran mengenai anggaran, utang, bahkan potensi korupsi (Attaulah & Soyusiawaty, 2025).

Perdebatan tersebut wajar. Program dengan skala sebesar MBG tentu tidak mungkin berjalan tanpa persoalan. Namun, ada hal yang lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah program ini layak didukung atau dikritik: mengapa persoalan gizi harus menjadi urusan kita semua?

Indonesia masih menghadapi persoalan stunting yang menjadi salah satu tantangan dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 19,8 persen atau sekitar 4,4 juta balita. Angka tersebut memang menurun 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi jumlahnya tetap menunjukkan bahwa persoalan gizi belum selesai (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025).

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Gizi bukan sekadar persoalan tentang apa yang tersaji di atas meja makan sebuah keluarga. Gizi adalah bagian dari persoalan kesehatan, pendidikan, produktivitas, bahkan masa depan sebuah bangsa.

Program MBG pada dasarnya berangkat dari persoalan tersebut. Pemerintah tidak hanya ingin meningkatkan asupan gizi anak sekolah, tetapi juga mendorong partisipasi siswa dalam pembelajaran dan menggerakkan produksi pangan lokal (Merlinda & Yusuf, 2025). Namun, keberadaan program ini seharusnya tidak membuat kita berhenti pada pertanyaan apakah makanan yang dibagikan enak, murah, atau gratis. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa masih ada anak yang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan makanan bergizi?

Sebab, dua anak tidak selalu memulai kehidupan dari titik yang sama.

Ilustrasi makanan 4 sehat 5 sempurna. Foto: Shutterstock

Keduanya mungkin sama-sama mengetahui bahwa protein, sayur, buah, dan makanan bergizi penting bagi tubuh. Tetapi anak pertama tumbuh dalam keluarga yang mampu menyediakan makanan dengan beragam pilihan. Sementara anak lainnya mungkin tumbuh dalam keluarga yang setiap hari harus memilih antara harga makanan dan kandungan gizinya.

Dalam kondisi seperti itu, mengatakan bahwa gizi adalah persoalan pilihan individu menjadi tidak cukup.

Status gizi seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi tempat ia tumbuh. Penelitian menunjukkan bahwa persoalan stunting dan kekurangan nutrisi berkaitan dengan tingkat pendapatan keluarga serta akses terhadap pangan (Aryastami & Tarigan, 2017). Artinya, kesempatan untuk hidup sehat tidak hanya ditentukan oleh seberapa disiplin seseorang memilih makanan, tetapi juga oleh apakah makanan tersebut tersedia, aman, bergizi, dan mampu dibeli.

Di sinilah gagasan health equity menjadi penting. Keadilan kesehatan bukan berarti setiap orang harus mendapatkan makanan yang sama. Keadilan berarti setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk memperoleh pangan yang aman, bergizi, dan terjangkau.

Persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian generasi muda.

Mengapa? Karena anak-anak yang hari ini mengalami kekurangan gizi adalah generasi yang kelak memasuki dunia pendidikan tinggi, pasar kerja, ruang publik, dan berbagai posisi yang menentukan arah bangsa. Masalah gizi pada masa pertumbuhan tidak berhenti ketika seorang anak meninggalkan bangku sekolah. Malnutrisi pada masa tumbuh kembang dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan potensi manusia dalam jangka panjang (Black et al., 2013).

Dengan demikian, persoalan gizi sebenarnya adalah persoalan masa depan kita sendiri.

Kita sering membicarakan bonus demografi, produktivitas tenaga kerja, kualitas pendidikan, dan Indonesia Emas 2045. Namun, semua gagasan besar tersebut pada akhirnya akan bergantung pada manusia yang tumbuh di dalamnya. Tidak mungkin membangun generasi yang produktif jika sejak awal sebagian dari mereka tumbuh dalam kondisi yang tidak memungkinkan mereka mencapai potensi terbaiknya.

Karena itu, perhatian terhadap gizi tidak seharusnya berhenti pada keluarga masing-masing.

Ilustrasi MBG. Foto: Saraswati19/Shutterstock

Tentu, pelaksanaan MBG tidak boleh luput dari kritik. Program berskala besar membutuhkan pengawasan yang ketat. Persoalan standardisasi kesehatan, distribusi logistik, keamanan pangan, pembiayaan, hingga kasus keracunan harus menjadi bahan evaluasi serius. Penyelenggaraan program juga perlu memastikan keberlanjutan pembiayaan dan tidak hanya bergantung pada anggaran negara (Qomarullah et al., 2025).

Tetapi kita perlu membedakan dua hal: kegagalan pelaksanaan dan pentingnya tujuan.

Jika terdapat makanan yang tidak memenuhi standar, yang harus diperbaiki adalah sistem pengadaannya. Jika distribusi tidak menjangkau daerah terpencil, yang harus dibenahi adalah rantai pasoknya. Jika terjadi persoalan keamanan pangan, standar dan pengawasan harus diperketat. Kritik semacam itu justru dibutuhkan agar program berjalan lebih baik.

Kita tidak harus menganggap MBG sempurna untuk mengakui bahwa persoalan yang hendak diselesaikannya memang nyata.

Di sinilah generasi muda dapat mengambil peran. Kepedulian terhadap gizi tidak cukup diwujudkan melalui unggahan media sosial tentang pola hidup sehat. Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki pengetahuan, pendapatan, dan akses pangan yang sama.

Sebagian orang masih harus memilih antara makanan yang murah dan makanan yang bergizi. Sebagian lainnya bahkan belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami kebutuhan gizi. Ada pula masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses pangan dan layanan kesehatan yang terbatas.

Ilustrasi gizi seimbang. Foto: Shutter Stock

Maka, kepedulian terhadap gizi dapat dimulai dari hal yang paling dekat: membangun literasi.

Di tengah derasnya informasi, generasi muda perlu mampu membedakan informasi gizi yang kredibel dari mitos, misinformasi, dan konten yang menyederhanakan persoalan kesehatan menjadi sekadar masalah kemauan atau kedisiplinan. Pengetahuan tentang gizi penting bukan hanya agar kita dapat memilih makanan yang lebih baik untuk diri sendiri, tetapi juga agar kita memahami mengapa orang lain mungkin tidak memiliki pilihan yang sama.

Kepedulian itu kemudian dapat dibawa ke lingkungan sekitar.

Kampus, sekolah, komunitas, organisasi, dan lingkungan tempat tinggal merupakan ruang yang memungkinkan generasi muda terlibat secara langsung. Edukasi gizi, kegiatan komunitas, dukungan terhadap kelompok rentan, hingga keterlibatan dalam memastikan kualitas pangan dapat menjadi bentuk partisipasi yang sederhana tetapi berarti.

Lebih jauh, generasi muda juga perlu belajar mengawal kebijakan.

Kita tidak harus menjadi ahli gizi untuk bertanya mengapa makanan bergizi belum terjangkau semua orang. Kita tidak harus menjadi birokrat untuk mempertanyakan bagaimana program pangan dijalankan. Kita juga tidak harus menjadi akademisi untuk bertanya kelompok mana yang paling terdampak ketika akses pangan tidak merata.

Media sosial dapat digunakan bukan hanya untuk mengomentari hasil akhir sebuah kebijakan, tetapi juga untuk membangun percakapan publik tentang persoalan yang lebih mendasar: siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang tertinggal, dan apa yang perlu diperbaiki.

Kepedulian juga dapat berkembang menjadi kolaborasi.

Ilustrasi generasi muda bergandengan tangan Foto: Getty Images

Persoalan gizi terlalu besar jika dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah membutuhkan masukan masyarakat. Akademisi membutuhkan pengalaman lapangan. Tenaga kesehatan membutuhkan dukungan komunitas. Pelaku usaha dapat berperan dalam menciptakan pilihan pangan yang lebih sehat dan terjangkau.

Generasi muda dapat menjadi penghubung di antara ruang-ruang tersebut.

Dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, keterlibatan itu bahkan dapat dilakukan secara konkret. Ada yang dapat membantu membangun sistem distribusi pangan yang lebih efisien. Ada yang dapat mengembangkan teknologi rantai pasok. Ada yang dapat melakukan edukasi keamanan pangan kepada pengelola dapur. Ada pula yang dapat mendorong penerapan sistem seperti Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) untuk meningkatkan keamanan proses produksi makanan.

Dengan demikian, kepedulian terhadap gizi tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Yang lebih penting adalah mengubah cara kita memandang persoalan tersebut.

Kita perlu berhenti melihat gizi hanya sebagai urusan apa yang dimakan keluarga kita hari ini. Gizi juga menyangkut kesempatan: apakah seorang anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat? Apakah keluarganya memiliki akses terhadap pangan bergizi? Apakah lingkungan tempat ia tinggal mendukung kehidupan yang sehat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting bagi generasi muda karena merekalah yang akan hidup paling lama dengan konsekuensi dari keputusan yang dibuat hari ini.

Kita mungkin tidak dapat menentukan bagaimana sebuah program pemerintah dirancang. Tetapi kita dapat menentukan apakah kita akan menjadi generasi yang hanya mengomentari persoalan dari kejauhan atau generasi yang ikut memastikan persoalan tersebut diperbaiki.

Masa depan yang sehat bukan hanya tentang memastikan keluarga kita memiliki makanan bergizi di atas meja. Masa depan yang sehat adalah ketika keluarga lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya.

Sebab, yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya rumah, pekerjaan, atau pertumbuhan ekonomi. Kita juga mewariskan lingkungan sosial yang menentukan seberapa adil mereka dapat tumbuh.

Pada akhirnya, gizi bukan sekadar tentang bagaimana kita hidup sehat hari ini. Gizi adalah tentang apakah kita bersedia memastikan generasi setelah kita tidak mewarisi ketimpangan yang sama.