Generasi Muda dan Budaya PayLater: Kemudahan Finansial yang Bisa Menjadi Beban

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Regina Mahfira Cahyarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital telah membuat berbagai aktivitas keuangan menjadi semakin mudah. Salah satunya adalah hadirnya layanan PayLater, yang memungkinkan seseorang membeli barang atau menggunakan layanan sekarang dan membayarnya kemudian. Hanya dengan beberapa klik melalui aplikasi, seseorang sudah dapat melakukan transaksi tanpa harus membayar secara langsung.
Bagi generasi muda, terutama mahasiswa dan pekerja muda, PayLater terlihat seperti solusi yang praktis. Ketika membutuhkan barang tetapi uang belum tersedia, PayLater memberikan pilihan untuk melakukan pembelian terlebih dahulu dan membayarnya kemudian. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan masalah apabila digunakan tanpa perencanaan keuangan yang baik.
Fenomena ini semakin menarik perhatian karena penggunaan PayLater di Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baki debet pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan pada Juli 2026 mencapai sekitar Rp31,56 triliun, tumbuh 31,22% secara tahunan. Data tersebut menunjukkan bahwa layanan pembayaran "nanti" semakin menjadi bagian dari kebiasaan keuangan masyarakat.
Pada dasarnya, PayLater bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Jika digunakan secara bijak, layanan ini dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan tertentu ketika memiliki keterbatasan dana dalam jangka pendek. Misalnya, seseorang membutuhkan tiket transportasi atau barang penting dan sudah memiliki rencana pembayaran pada saat jatuh tempo.
Masalah muncul ketika PayLater digunakan bukan untuk kebutuhan, tetapi untuk memenuhi keinginan. Promosi seperti "beli sekarang, bayar nanti", diskon, cashback, dan cicilan ringan dapat membuat seseorang merasa bahwa barang yang dibeli sebenarnya murah atau tidak terlalu membebani keuangan.
Padahal, setiap transaksi PayLater tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar. Jika seseorang melakukan beberapa transaksi secara bersamaan, cicilan yang terlihat kecil dapat menumpuk menjadi jumlah yang besar.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa menggunakan PayLater untuk membeli pakaian sebesar Rp300.000, kemudian memesan makanan sebesar Rp200.000 dan membeli aksesori elektronik sebesar Rp500.000. Secara terpisah, masing-masing transaksi terlihat tidak terlalu besar. Namun, total kewajibannya sudah mencapai Rp1.000.000, belum termasuk biaya atau kewajiban lain yang mungkin muncul.
Di sinilah budaya PayLater dapat menjadi masalah. Generasi muda yang belum memiliki pendapatan tetap atau belum memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik dapat mengalami kesulitan ketika seluruh tagihan jatuh tempo dalam waktu yang berdekatan.
Menurut saya, persoalan utama PayLater bukan terletak pada keberadaan layanannya, tetapi pada perubahan perilaku seseorang dalam menggunakan uang. PayLater dapat membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tipis.
Ketika seseorang terbiasa membeli sesuatu dengan uang yang sebenarnya belum dimiliki, ada risiko munculnya pola pikir bahwa selama cicilan masih mampu dibayar, maka pembelian tersebut dianggap aman. Padahal, kemampuan membayar cicilan hari ini belum tentu sama dengan kondisi keuangan pada bulan berikutnya.
Generasi muda seharusnya tidak hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi keuangan, tetapi juga memiliki literasi keuangan. Kemudahan transaksi harus diimbangi dengan kemampuan membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami konsekuensi dari setiap utang.
Menurut saya, PayLater sebaiknya diposisikan sebagai alat pembayaran alternatif, bukan tambahan penghasilan. Ketika seseorang mulai menganggap limit PayLater sebagai "uang tambahan", pada saat itulah penggunaannya dapat berubah menjadi beban.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi muda agar PayLater tidak berubah menjadi masalah keuangan.
Pertama, gunakan PayLater hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting. Jangan menggunakan PayLater hanya karena adanya diskon atau promo.
Kedua, hitung kemampuan membayar sebelum melakukan transaksi. Jangan hanya melihat besarnya cicilan per bulan, tetapi hitung seluruh kewajiban yang harus dibayar.
Ketiga, buat batas penggunaan utang. Jika penghasilan atau uang bulanan terbatas, jangan menggunakan seluruh limit yang tersedia.
Keempat, biasakan mencatat pengeluaran dan tagihan. Dengan pencatatan sederhana, seseorang dapat mengetahui ke mana uangnya digunakan dan berapa jumlah kewajiban yang harus dibayar.
Terakhir, tingkatkan literasi keuangan sejak muda. Generasi muda perlu memahami bahwa keputusan keuangan hari ini dapat memberikan dampak terhadap kondisi keuangan di masa depan.
PayLater memang menawarkan kemudahan finansial di tengah perkembangan ekonomi digital. Dengan layanan ini, transaksi menjadi lebih cepat dan kebutuhan tertentu dapat dipenuhi tanpa harus membayar secara langsung. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kontrol terhadap keuangannya.
Pada akhirnya, masalahnya bukan pada "boleh atau tidak menggunakan PayLater", tetapi pada "seberapa bijak kita menggunakannya." Generasi muda perlu memahami bahwa setiap kemudahan finansial selalu memiliki tanggung jawab di belakangnya.
Jangan sampai slogan "beli sekarang, bayar nanti" berubah menjadi "senang sekarang, pusing kemudian." Kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang memiliki uang yang banyak, tetapi tentang mampu mengambil keputusan keuangan dengan bijak.
