Tempe dari Pliken, Usaha Rumahan yang Jadi Sumber Rezeki Warga

mahasiswa ilmu komunikasi universitas amikom purwokerto
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Regita Rahmaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyumas- Aroma khas kedelai yang sedang direbus menjadi bagian dari keseharian warga Desa Pliken, Kecamatan Kembaran,Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dibalik Tempe yang kerap dijumpai di meja makan terdapat cerita panjang tentang perjuangan ratusan keluarga yang menggantungkan kehidupan dari usaha tempe.
Desa Pliken sangat dikenal sebagai salah satu desa yang warga nya bermata pencaharian tempe. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pengrajin tempe yang ada di Desa Pliken mencapai 400.
Tidak semua pengrajin mulai membuat usaha tempe diwaktu yang sama. Namun, bagi sebagian warga ada juga yang sudah menjalankan usaha tempe dari turun temurun keluarganya dan terus berlanjut hingga sekarang.
Usaha tersebut dikerjakan dari rumah ke rumah mulai dari proses perebusan, pencucian, pemberian ragi, hingga pengemasan. Setiap hari para pengolah memproduksi tempe untuk dijual kepada konsumen dipasar. Selain dijual kepasar sebagian tempe sudah memiliki pelanggan tetap. Dalam sehari, produksi setiap pengrajin berbeda-beda bisa sekitar 50-70 kg tempe.
Tempe yang dijual warga tidak hanya dalam bentuk mentah saja, ada sebagian warga yang menjual tempe dalam bentuk siap konsumsi seperti kripik tempe. Lalu untuk jenis dan bentuk tempe juga bermacam macam ada yang untuk mendoan, tempe yang diolah menjadi bacem berbentuk segitiga, ada juga tempe yang berbentuk kotak tebal memakai plastik.
Untuk bahan baku kedelai dan ragi yang digunakan dalam proses pembuatan tempe dibeli langsung kepada orang lain yang sudah menjadi langganan mereka lalu untuk daun pisang ada sebagian pengrajin yang mendapatkan dari kebun belakang rumah mereka sendiri ada juga yang membeli.
Kegiatan membuat tempe bukan pekerjaan yang baru dijalankan oleh warga Desa Pliken. Bagi sebagian pengrajin, usaha ini sudah ditekuni selama bertahun-tahun dan menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah satunya Pak Kusman. Dari usaha tempe yang dijalankannya, ia dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak. Usaha tersebut bahkan mampu mengantarkan anaknya hingga melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Cerita serupa juga datang dari Pak Pardi kumis. Usaha tempe yang dijalankannya bersama sang istri merupakan usaha yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Menurut cerita istrinya, kondisi usaha mereka saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya.
"Dulu penjualannya belum sebanyak sekarang. Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik dibandingkan dulu," ujar istri Pak Pardi kumis.
Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan keluarga Pak Pardi tetap mempertahankan usaha tempe yang sudah dijalankan secara turun-temurun. Bagi mereka, usaha ini bukan hanya menjadi pekerjaan, tetapi juga sumber penghasilan keluarga yang terus dijaga hingga sekarang.
Para pengrajin berharap usaha tempe yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga bisa terus berjalan. Di tengah biaya produksi yang semakin tinggi, mereka berharap harga bahan baku tetap terjangkau dan penjualan tetap stabil. Sebab, ketika biaya produksi naik, pengrajin juga harus mempertimbangkan harga jual agar tetap sesuai dengan kemampuan pembeli.
