Menggugat Pikiran yang Dibentuk oleh Kebiasaan

Pemuda kelahiran Jawa Tengah ini adalah intelektual muda dari UIN Imam Bonjol Padang serta anggota HUMAS dari instansi tersebut. Ia gemar menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rehanda Galih Aprilio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kalimat yang hampir semua orang pernah dengar: "Jangan mengeluh, masih banyak orang yang lebih susah darimu."
Maksud dari kalimat itu sebenernya baik. Ketika seseorang kecewa karena gagal, kehilangan sesuatu, atau sedang merasa berat dalam menjalani hidup, orang-orang di sekitarnya mencoba untuk mengingatkan dengan cara membandingkan penderitaannya dengan
orang lain. Seolah-olah luka itu akan menghilang ketika ia melihat luka orang lain lebih besar darinya.
Masalahnya, apakah rasa sakit itu benar-benar hilang hanya karena ada orang yang lebih menderita dari kita?
Di situlah persoalannya. Kita sering mengajarkan seseorang untuk bersyukur dengan cara membuatnya merasa bersalah atas keluhannya sendiri.
Kalimat seperti "masih untung", "jangan banyak mengeluh", atau "lihat orang lain yang lebih susah" telah menjadi bagian dari kebiasaan berpikir masyarakat kita. Ia diwariskan dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, bahkan sering muncul dalam berbagai ruang sosial sebagai bentuk nasihat.
Namun, sesuatu yang diwariskan tidak semuanya selalu benar. Sesuatu yang sudah lama dilakukan bukan berarti tidak boleh dipertanyakan.
Sebab, terkadang yang paling sulit kita kritik bukanlah sesuatu yang salah secara jelas, melainkan sesuatu yang sudah terlalu lama kita anggap wajar.
Kebiasaan Berpikir yang Menyamar Jadi Kewajaran
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep habitus untuk menjelaskan bagaimana lingkungan sosial membentuk cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak. Menurut Bourdieu, kebiasaan dan cara pandang yang kita anggap biasa saja, sebenarnya terbentuk dari kebiasaan yang telah ditanamkan secara terus-menerus sejak kecil.
Kita belajar cara berbicara, cara menilai sesuatu, bahkan cara memahami kesulitan hidup melalui lingkungan di tempat kita tumbuh.
Dalam konteks ini, kebiasaan membandingkan penderitaan juga dapat dilihat sebagai bagian dari habitus. Kita terbiasa menganggap bahwa bersyukur harus selalu dimulai dengan melihat orang yang lebih buruk nasibnya dari kita.
Akibatnya, kita takut untuk bertanya: apakah cara berpikir ini benar-benar membantu seseorang menjadi lebih kuat? atau justru hanya membuat mereka merasa tidak berhak atas perasaannya sendiri?
Bahaya terbesar dari sebuah kebiasaan bukan ketika ia dipaksa percaya sebagai sesuatu yang dianggap wajar, melainkan ketika orang sudah terbiasa menerimanya hingga tidak terpikir lagi untuk mempertanyakan apakah hal tersebut benar atau tidak.
Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sering menyamar sebagai kebenaran.
Ketika Derita Orang Lain Dijadikan Ukuran Kebahagiaan
Kalimat "masih untung" sebenarnya menyimpan persoalan logika yang sederhana. Ia mengajarkan seseorang untuk merasa lebih baik bukan karena memahami nilai dari apa yang ia miliki, tetapi karena ada orang lain yang memiliki kondisi lebih buruk darinya.
Psikolog sosial Leon Festinger melalui teori perbandingan sosial menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan memahami dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Kita membandingkan pencapaian, kondisi hidup, maupun kemampuan diri dengan lingkungan sekitar.
Namun, tidak semua bentuk perbandingan menghasilkan dampak yang sama.
Membandingkan diri dengan orang yang lebih maju dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Sebaliknya, membandingkan diri dengan orang yang lebih menderita dari kita mungkin hanya memberikan rasa lega sementara.
Masalahnya, rasa lega bukanlah hal yang sama dengan rasa syukur.
Jika seseorang merasa bersyukur hanya karena melihat ada orang lain yang lebih buruk keadaannya, maka rasa syukur tersebut berdiri di atas penderitaan orang lain. Ia menjadi rapuh. Sebab ketika menemukan orang yang kondisinya lebih baik, rasa syukur itu mudah berubah menjadi kecemasan, iri, atau rasa tidak cukup.
Syukur yang sehat tidak membutuhkan pembanding sebagai korban.
Kita dapat bersyukur karena masih memiliki keluarga yang lengkap, tubuh yang sehat, kesempatan untuk belajar, atau dapat pekerjaan yang layak. Semua itu memiliki nilai tanpa harus menunggu penderitaan orang.
Sebab nilai sebuah nikmat tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak orang lain tidak memiliki nikmat tersebut.
Mengembalikan Makna Syukur yang Sebenarnya
Menariknya, penelitian mengenai rasa syukur justru tidak menempatkan perbandingan penderitaan sebagai fondasi utama.
Robert Emmons, psikolog dari University of California, dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rasa syukur berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis. Salah satu pendekatan yang banyak dikaji adalah kebiasaan mencatat hal-hal yang disyukuri dalam kehidupan sehari-hari.
Yang menariknya, praktik syukur dalam penelitian tersebut tidak meminta seseorang mencari orang lain yang lebih menderita. Syukur muncul dari kemampuan seseorang menyadari nilai dari sesuatu yang sudah ada dalam kehidupannya.
Ada perbedaan besar antara dua cara berpikir.
"Saya bersyukur masih bisa berjalan karena tubuh saya bekerja dengan baik."
Berbeda dengan:
"Saya bersyukur masih bisa berjalan karena ada orang lain yang tidak bisa berjalan."
Kalimat pertama menunjukkan penghargaan terhadap tubuhnya. Kalimat kedua secara tidak sadar menjadikan penderitaan orang lain sebagai alat ukur kebahagiaan dirinya sendiri.
Keduanya mungkin terdengar mirip, tetapi memiliki dasar moral yang berbeda.
Menggugat Bukan Berarti Menolak
Mengkritik kebiasaan berpikir ini bukan berarti menolak nilai syukur. Justru sebaliknya, kritik ini bertujuan mengembalikan syukur pada makna yang sebenarnya.
Manusia tetap membutuhkan nasehat. Kita tetap perlu diingatkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Namun, cara menyampaikan nasihat tersebut juga penting.
Seseorang yang sedang terluka tidak selalu membutuhkan perbandingan. Kadang ia hanya membutuhkan ruang untuk didengar saja.
Ada perbedaan antara membantu seseorang melihat dari segi perspektif yang lebih luas dengan memaksa seseorang merasa tidak pantas mengeluh.
Kita boleh menghargai kebijaksanaan generasi sebelumnya, tetapi kita juga perlu memiliki keberanian untuk menggugat kembali kebiasaan yang diwariskan kepada kita.
Sebab, sesuatu yang sudah bertahan sejak lama tidak selalu berarti benar. Sebagian bertahan hanya karena tidak pernah dikritik secara kritis.
Pikiran kritis bukan berarti selalu menolak apa yang sudah ada. Pikiran kritis adalah kemampuan untuk berhenti sejenak dari arus kebiasaan dan bertanya: mengapa kita berpikir seperti ini? Apakah cara berpikir ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?
Pada akhirnya kebiasaan berpikir yang tidak pernah dikritik bukanlah sebuah kebijaksanaan.
Ia hanya kebiasaan yang berhasil bertahan cukup lama, lalu menjadi paradigma untuk anak cucu.
