Konten dari Pengguna

Budaya Literasi Sejak Dini

Reihan Rachman

Reihan Rachman

Seseorang yang terlahir di Jakarta, memiliki hobi olahraga, dan sedang belajar jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reihan Rachman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak membaca. Sumber: Pexels-Lina-Kivaka
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak membaca. Sumber: Pexels-Lina-Kivaka

Rintik gerimis menemani perjalanan Rasya di Kota Hujan pada sore hari. Para pejalan kaki berjalan cepat menghindari tetesan air dari langit, seraya menutup kepala dengan barang seadanya. Rasya dan adik kecilnya, Tasya pergi ke sebuah toko buku di Kota Bogor. Kaki kecilnya tergopoh-gopoh mengikuti langkah besar sang kakak, namun dirinya tetap bersemangat menyusuri jalan menuju toko buku kesayangannya.

Sesampainya di tempat tujuan, Tasya langsung bergegas menuju rak buku kesukaannya. Tangan mungilnya dengan lincah memilih buku dengan sampul dan warna yang menarik, khas anak-anak seusianya. Pilihannya jatuh pada sebuah ensiklopedia bergambar yang lucu dan menarik. Ia mengaku menyukai buku dengan warna dan gambar yang unik, seperti ensiklopedia bergambar, komik anak, dan juga buku cerita.

Budaya membaca memang telah dikenalkan sang ibu sejak kecil. Anak pertamanya, Rasya pun mengaku jika dirinya sewaktu kecil gemar membaca majalah anak-anak. Hobi tersebut ia turunkan kepada adiknya, dengan harapan agar kelak memiliki kegemaran yang sama dengannya.

Perkembangan teknologi dan informasi tak hanya mengubah pola komunikasi masyarakat saat ini, tetapi juga mengubah budaya serta gaya hidup. Mayoritas orang di era industri 4.0 tentu memiliki gawai elektronik, dari yang muda sampai tua, bahkan anak-anak kecil telah menggunakan barang tersebut.

Kehadiran gawai pintar seakan menggantikan peran alat komunikasi konvensional, karena mempermudah proses pertukaran informasi. Hanya dengan satu alat, semua bisa didapatkan. Sebelum ada gawai pintar, anak-anak kecil riang bermain dengan teman sebayanya di lapangan atau di taman, namun saat ini pemandangan tersebut jarang ditemukan.

Akibat hadirnya gawai pintar masyarakat cenderung melakukan beragam aktivitas sosial melalui barang tersebut, sehingga pola komunikasi yang terjalin tidak berjalan secara langsung. Meski demikian, Tasya merupakan satu dari sekian anak Indonesia yang tidak bergantung pada gawai pintar dan masih gemar membaca. Banyak koleksi novel, buku cerita anak, majalah anak, serta komik yang dipajang di rak buku rumahnya.

Christina, selaku ibu dari Tasya dan Rasya berpendapat jika anak sebaiknya mulai dikenalkan dengan buku bacaan sesuai usianya sedari kecil. Karena jika kita membekali harta sifatnya hanya sementara dan lambat laun akan habis.

Jika kita membekali anak dengan ilmu yang bermanfaat, ibaratnya seperti kita mengukir di atas batu. Pada awalnya terasa sulit, namun lambat laun akan menghasilkan ukiran yang indah. Bagaimana dengan pembaca, sudahkah Anda mengenalkan budaya literasi pada si kecil?