Hari Batik Nasional: Kita Memakainya, tapi Masih Memahaminya?

Peneliti dan Mahasiswa S2 Sosiologi Universitas Airlangga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Reihan Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 2 Oktober, pemandangan itu nyaris selalu berulang. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan batik, pegawai datang ke kantor mengenakan kemeja bermotif, mahasiswa berfoto sebelum masuk kelas, dan linimasa media sosial serentak dipenuhi satu warna yang sama. Hari Batik Nasional membuat pakaian yang biasanya hanya muncul di acara tertentu tiba-tiba hadir di hampir setiap ruang kehidupan kita, entah karena aturan sekolah dan kantor, karena memang menyukainya, atau sekadar mencari momen tampil beda di media sosial.
Bagi sebagian orang, pemandangan ini terasa sederhana saja, toh memakai batik adalah bentuk kecintaan terhadap budaya Indonesia. Tapi kalau kita berhenti sejenak dan melihatnya lewat kacamata sosiologi, ada sesuatu yang jauh lebih menarik di balik kebiasaan tahunan ini. Mengapa kita merasa perlu memakai batik pada hari tertentu? Apa yang sebenarnya sedang kita tunjukkan ketika mengenakannya? Dan yang tak kalah penting, apakah memakai batik selalu berarti memahami kebudayaan di baliknya?
Hari Batik Nasional sebagai Ritual Tahunan
Hari Batik Nasional pada akhirnya bukan sekadar soal pakaian. Ia telah menjelma praktik sosial yang dilakukan berulang oleh jutaan orang pada hari yang sama. Sekolah membuat kegiatan bertema batik, kantor mewajibkan pegawainya mengenakan batik, dan masyarakat ramai-ramai mengabadikannya di media sosial, seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa hari ini, batik adalah pakaian yang pantas, bahkan perlu, untuk dikenakan.
Di satu sisi, ritual semacam ini menunjukkan batik masih punya tempat dalam kehidupan sosial kita. Budaya yang benar-benar kehilangan relevansinya tidak akan mudah menggerakkan begitu banyak orang melakukan hal serupa secara serentak. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang sedikit mengganggu: apakah kita memakai batik karena memahami nilainya, atau karena lingkungan sosial membuat kita merasa memang seharusnya begitu? Perbedaan ini penting, sebab sebuah kebudayaan bisa saja tetap terlihat hidup secara simbolik, tapi belum tentu dipahami secara mendalam oleh orang-orang yang menjalankannya.
Bukan Sekadar Kain yang Kita Pakai
Kita sering memperlakukan batik sebagai sesuatu yang sederhana: kain, kemeja, rok, atau pakaian kerja. Padahal, hubungan manusia dengan benda-benda budaya tidak pernah sesederhana itu. Di balik sehelai kain selalu ada pengetahuan, sejarah, simbol, dan pengalaman sosial yang membuat seseorang memberi makna tertentu pada apa yang dikenakannya.
Di sinilah gagasan Pierre Bourdieu tentang modal budaya terasa relevan. Bourdieu melihat bahwa pengetahuan, selera, dan kompetensi budaya tertentu bisa menjadi modal yang membentuk posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Dipinjam untuk membaca batik, kita bisa menemukan perbedaan antara sekadar memiliki atau memakai batik dengan benar-benar memahami batik. Seseorang bisa punya banyak batik di lemarinya tapi tak pernah tahu asal-usul motif yang ia kenakan. Sebaliknya, seseorang mungkin hanya punya satu kain batik, tapi memahami sejarah, makna motif, teknik pembuatan, dan masyarakat yang melahirkannya. Keduanya sama-sama "memiliki" batik, tapi hubungan kultural mereka terhadapnya jauh berbeda.
Ketika Generasi Muda Memberi Makna Baru
Menariknya, hubungan generasi muda dengan batik juga terus berubah. Batik tak lagi melulu hadir sebagai kemeja formal untuk acara resmi. Kita menemukannya dalam outer, rok, jaket, tas, sepatu, hingga berbagai bentuk fashion yang jauh lebih dekat dengan gaya hidup anak muda hari ini.
Perubahan ini sebetulnya menunjukkan bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Apa yang diwariskan generasi sebelumnya bisa diterima, diubah, dan diberi makna baru oleh generasi berikutnya. Motif tradisional yang dulu terasa terlalu formal kini bisa dipadukan dengan sneakers dan celana jeans, masuk ke desain yang lebih modern, bahkan menjadi bagian dari gaya personal seseorang. Perubahan semacam ini tidak harus dilihat sebagai bentuk meninggalkan tradisi. Bisa jadi, justru begitulah cara generasi muda membuat kebudayaan tetap relevan dengan hidup mereka. Sebab budaya tidak selalu bertahan karena bentuknya tidak pernah berubah, melainkan karena masyarakat terus mampu memberinya arti baru.
Ketika Budaya Bertemu Pasar
Namun ada pergeseran lain yang tak kalah penting: batik hari ini bukan cuma kebudayaan, melainkan juga komoditas. Ia diproduksi industri, dijual UMKM, dipasarkan merek fashion, dipromosikan influencer, dan dipamerkan di media sosial. Motif batik bahkan bisa menjadi bagian dari strategi sebuah merek untuk membangun identitas produknya. Semakin dekat batik dengan dunia fashion dan pasar, semakin luas pula ruang perjumpaannya dengan masyarakat luas, termasuk mereka yang sebelumnya mungkin tak pernah tertarik pada pakaian tradisional.
Tapi ada pertanyaan yang perlu tetap kita jaga di tengah kemudahan ini: ketika batik semakin gampang dijual sebagai produk fashion, apakah pengetahuan tentang kebudayaan di baliknya ikut bergerak maju? Jangan sampai kita berada di situasi ketika batik semakin sering terlihat, tapi justru semakin sedikit dipahami.
Ketika Batik Berubah Menjadi Konten
Media sosial membuat persoalan ini makin menarik untuk dicermati. Hari Batik Nasional kini tak hanya dirayakan dengan memakai batik, tapi juga dengan memperlihatkannya kepada orang lain: kita memakainya, memotretnya, mengunggahnya ke Instagram atau TikTok, lalu menanti komentar dan tanda suka dari orang lain. Batik pun tidak lagi sekadar pakaian, melainkan juga bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya di ruang digital.
Di sana, batik bisa berarti banyak hal sekaligus: simbol kebanggaan sebagai orang Indonesia, identitas daerah, gaya fashion, bentuk partisipasi dalam perayaan nasional, atau sekadar pilihan outfit untuk konten. Satu pakaian, banyak makna, tergantung siapa yang mengenakan dan di ruang sosial mana ia ditampilkan. Di titik inilah terlihat bahwa kebudayaan selalu mengalami negosiasi tanpa henti: maknanya tidak pernah berhenti pada apa yang diwariskan generasi sebelumnya, melainkan terus dibicarakan, dimodifikasi, dan ditampilkan ulang oleh masyarakat yang hidup di zaman berbeda.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Rayakan?
Pertanyaan terbesar pada Hari Batik Nasional barangkali bukan lagi apakah kita masih memakai batik. Buktinya ada di mana-mana, dari sekolah, kantor, kampus, pusat perbelanjaan, sampai linimasa media sosial yang hari ini pasti dipenuhi warna batik lagi. Pertanyaannya justru lebih sederhana sekaligus lebih sulit dijawab: apakah kita masih memahami apa yang kita rayakan?
Memakai batik tentu bukan hal yang salah. Justru, menghadirkan batik dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi salah satu cara agar budaya ini tetap hidup, tidak hanya tersimpan di museum atau buku sejarah. Generasi muda juga tidak harus mengenakannya persis seperti generasi sebelumnya untuk dianggap menghargai budaya. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai pelestarian budaya berhenti hanya pada tampilan luarnya, sebab budaya bukan cuma sesuatu yang kita kenakan, melainkan sesuatu yang kita pahami, praktikkan, wariskan, sekaligus terus kita beri makna baru.
Hari Batik Nasional karena itu semestinya tidak berhenti pada pertanyaan "sudah pakai batik hari ini?," melainkan satu pertanyaan lain yang jauh lebih penting: sudah tahu apa yang kita pakai? Sebab batik tidak akan benar-benar lestari hanya karena setiap tahun kita mengenakannya. Ia akan tetap hidup ketika generasi setelah kita bukan hanya mengenali motifnya, tetapi juga memahami cerita, pengetahuan, dan kehidupan sosial yang membuat sehelai kain menjadi lebih dari sekadar pakaian. Dan barangkali di situlah letak makna sesungguhnya dari merayakan budaya: bukan sekadar memastikan warisannya masih terlihat, melainkan memastikan kita masih tahu mengapa warisan itu layak diwariskan.
