Kesehatan Mental Dokter Hewan: Ancaman Tersembunyi Empathic Distress Fatigue

Dokter hewan praktisi, a cat person and dog lover, penggiat self-improvement dan self-compassion, serta vet mental health warrior
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Reinilda Alwina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suatu waktu, pukul 1 dini hari aku harus berdiskusi dengan klien terkait tindakan sesar yang harus dilakukan untuk anjingnya. Obrolan yang berkutat tentang biaya, risiko yang mengancam puppy dan induknya, kesempatan hidup, hingga perawatan, dilakukan cukup kompleks hingga akhirnya klien bersedia untuk dilakukan tindakan tersebut. Pukul 2 lebih dini hari kami berhasil menyelamatkan kelahiran 1 ekor puppy. Rasanya? Wow… bahagia bisa ikut mengantarkan si puppy untuk bertemu induknya di dunia. Tapi… kita tahu hukum alam di dunia ini, bahwa dimana ada kelahiran maka ada kematian. Selang 30 menit kemudian, tanganku melakukan CPR yang berujung harus merelakan kepergian salah satu pasien 13 tahun yang sudah berjuang mengalami penyakit chronic kidney disease stadium lanjut selama setahun terakhir. Yang membuatku berat adalah karena selama beberapa bulan terakhir, sudah menjadi rutinitas bagiku dan tim menyapa kedatangannya setiap 3 hari ketika dia datang untuk melakukan infus subkutan rutin, dan hari itu akhirnya aku harus melepas kepergiaannya dengan air mata. Pukul 5.40, ponsel klinik berbunyi dan tangisanku harus pecah kembali setelah mendengar pasien geriatrik ku yang lain menutup umurnya dikelilingi keluarganya. Hari itu, aku merasakan kelelahan yang sangat berat, bukan fisik saja, namun secara emosional dan psikis. Sesaat aku merasa baik-baik saja saat bertemu dengan tim, namun dinding kamarku menjadi saksi tangisan yang mengisi ruang tidurku. Rasa bingung, kebahagian dan kehilangan oleh klien yang berbeda di hari itu, kurasakan dalam satu waktu hingga membuatku berada di titik terendah. Seakan aku hanya merasakan kebahagiaan sesaat kemudian harus menghadapi fakta bahwa mereka juga makhluk hidup yang bisa tua, bisa sakit dan kemudian meninggalkan dunia ini.

Sebagai dokter hewan, kami dipersiapkan secara matang sejak bangku kuliah untuk memeriksa pasien, menganalisis hasil pemeriksaan penunjang, hingga mengambil keputusan tindakan medis. Dan sebagai dokter hewan, kami menyediakan jasa layanan medis dan dituntut mengasah kemampuan komunikasi untuk bisa melakukan customer service excellent. Pada akhirnya, kami selalu mengembangkan diri untuk pasien dan klien, namun melupakan satu hal terpenting, yaitu diri kami sndiri sebagai dokter hewan. Mereka sering bertanya, apa yang akan kami lakukan bila ada pasien seperti ini atau apa yang akan kami katakan bila klien seperti itu, tapi mereka tidak pernah bertanya apa yang kami rasakan setelah apa yang kami lalui. Dokter hewan belajar hard skill untuk pasien, mengasah soft skill untuk klien, tapi tidak tahu surviving skill untuk diri kami sendiri. Apa yang dokter hewan lakukan di profesi ini, tidak hanya menantang secara fisik, namun emosional, intelektual, psikis, dan sosial bahkan moral.
Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman tentang hal-hal yang berkaitan seperti kesehatan mental dari profesi ini, tidak hanya institusi juga masyarakat bahkan dokter hewan sendiri perlu mengenalnya. Mengapa? Karena dokter hewan sering tidak menyadari dan menyepelekan hal tersebut, padahal hal tersebut menjadi poin penting untuk bisa bertahan dalam menjalani karir profesi ini. Banyak hal terkait kesehatan mental yang berhubungan dengan profesi ini, namun salah satu ancaman yang selalu bersembunyi di balik bayangan setiap dokter hewan adalah empathic distress fatigue.
Dulu Compassion Fatigue, Sekarang Empathic Distress Fatigue
Pernahkah kalian mendengar istilah compassion fatigue? Istilah ini digunakan berkaitan dengan kelelahan non-fisik yang sering terjadi pada perawat, dokter manusia hingga dokter hewan. Namun, sejak adanya penelitian menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) yang menunjukkan bahwa kondisi tersebut lebih menunjukkan aktivitas otak yang menyerupai empati dibandingkan compassion (belas kasih), maka istilah tersebut mulai beralih menjadi empathic distress fatigue. Karena pada akhirnya, kita bukan lelah dalam memberikan rasa belas kasih, melainkan lelah dalam merasakan empati (2).
Apakah Berbeda antara Empathic Distress Fatigue dengan Burn Out?
Tentu saja berbeda, namun bukan berarti tidak berhubungan. Burn out, istilah yang marak digunakan dalam beberapa tahun terakhir ini sangat melekat pada kesehatan mental dan work-life balance namun berbeda dengan empathic distress fatigue. Singkatnya, jika burn out berkaitan dengan faktor eksternal berupa lingkungan kerja, maka empathic distress fatigue berkaitan dengan respon internal terhadap apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu, burn out juga bisa berperan terhadap timbulnya empathic distress fatigue karena kita akan selalu bersinggungan dengan lingkungan tempat kita bekerja.
Empathic Distress Fatigue Berkaitan atas Respon terhadap Penderitaan Orang Lain yang Berdampak pada Kesehatan Mental Diri Sendiri
Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain adalah sesuatu yang baik dimana menandakan rasa kemanusiaan dan peduli sesama. Namun, apakah kita sadar bahwa terlarut dalam paparan tersebut juga memiliki dampak lain yang disebut sebagai “the cost of caring”?. Dokter hewan sebagai salah satu profesi dengan belas kasih, yang tidak hanya berusaha untuk meringankan rasa sakit dari pasien, namun juga berperan sebagai pendukung emosional dari para klien. Bayangkan, terlepas dari pendidikan dan pelatihan secara medis, dokter hewan juga berperan menjadi “penasihat keuangan” tentang rencana pengobatan, edukator terkait menagemen kesehatan hewan peliharaan, team leader dalam tindakan medis, hingga grief councellor ketika klien merasakan kehilangan hewan peliharaan mereka. Hal ini tidak lain karena dokter hewan memiliki empati berupa ikut merasakan penderitaan (suffering of others) terhadap klien dan berusaha untuk memahami agar bisa meringankan beban mereka.
Caring for patients and clients can be tremendously satisfying, offering a sense of meaning, purpose, and difference making incomparable to that which may be found in any other field, yet it can incur a cost, “the cost of caring” (4).
Kabar baiknya, dokter hewan menjadi salah satu profesi paling penyayang di dunia dengan berbekal rasa empati. Kabar buruknya, rasa empati dapat mengancam kesehatan mental dokter hewan jika tidak dikelola dengan baik. Secara normal, suffering of others yang direspon dengan theory of mind, self-awareness dan emotion regulation secara baik akan menghasilkan pro-social behavior yang bersifat positif. Kemampuan distress tolerance serta kapasitas dalam membedakan self-other berperan penting dalam menentukan dampak suffering of others tersebut. Ketika respon terhadap suffering of others tidak dikelola dengan baik, maka dapat menghasilkan empathic distress. Empathic distress yang dialami dokter hewan bisa menimbulkan perubahan seperti mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, menelantarkan kasus pasiennya, memandang pasien dan klien sebagai “sesuatu yang mengganggu”, menarik diri dari lingkungan, hingga merasa kehilangan rasa (numb). Pada tahap ekstrim, dokter hewan dapat merasa terputus dengan lingkungannya hingga berpotensi untuk self-harming. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan mengakhiri karir hingga kehidupan mereka sendiri. Tidak heran jika penelitian di Inggris menunjukkan bahwa risiko kematian dokter hewan akibat bunuh diri 2 kali dibandingkan tenaga medis profesional lainnya dan 4 kali dibandingkan populasi pada umumnya (1).
Fakta Empathic Distress pada Profesi Dokter Hewan
Kenapa di awal aku menyebutkan empathic distress fatigue sebagai ancama bagi setiap dokter hewan? Karena selama dokter hewan memiliki rasa empati ketika bekerja, mulai dari fresh graduate hingga spesialis yang sudah berkarir selama 10 tahun, maka dokter hewan tersebut berisiko mengalami empathic distress fatigue. Tidak sedikit yang pada akhirnya berganti jalur karir, terutama dari profesi dokter hewan praktisi, dan ini akan berpengaruh terhadap jumlah dokter hewan praktisi yang melakukan pelayanan kesehatan hewan.
Fakta lain yang didukung oleh penelitian menyebutkan bahwa kepuasan klien tidak berbanding lurus dengan status kesehatan mental dokter hewan (3). Artinya seorang dokter hewan yang memiliki rasa empati tinggi memang dapat menghasilkan tingkat kepuasan klien yang juga tinggi, namun dokter hewan tersebut juga berisiko memiliki kesehatan mental yang buruk. Ironis sekali bukan?
Kenapa dokter hewan rentan dengan empathic distress? Sebagai dokter hewan, salah satu sumbernya berupa tindakan yang sering dilakukan dokter hewan dibanding tenaga medis lainnya, yaitu euthanasia. Proses euthanasia lebih kompleks dibandingkan dengan tindakan euthanasia itu sendiri. Mengapa begitu? Karena pada prosesnya, mulai dari penjelasan diagnosis dan prognosis hingga kesempatan dan kualitas hidup pasien, membutuhkan empati yang tinggi dari dokter hewan agar klien bisa paham pengambilan keputusan tersebut didasarkan kondisi pasien. Sering saat klien bertanya, “dok, apakah saya jahat atau salah bila mengambil keputusan tersebut?”, di saat bersamaan dokter hewan melemparkan pertanyaan yang sama pada dirinya sendiri. Dan ketika proses ini selesai, dokter hewan terkadang masih mendampingi pemilik hingga bisa berdamai dengan kondisi tersebut. Apakah setelah itu ada yang menanyakan bagaimana perasaan dokter hewan yang melakukan tindakan tersebut? Tentu tidak, karena mereka menganggap dokter hewan sudah terlatih, meski pada kenyataannya kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk belajar mengelola hal tersebut.
Pengelolaan yang Baik Melibatkan Diri Sendiri dan Peran Institusi
Isu kesehatan mental profesi dokter hewan sudah menjadi perhatian khusus di dunia kedokteran hewan internasional. Pada tahun 2019, World Small Animal Veterinary Association (WSAVA) telah membentuk Professional Wellness Group yang dikhususkan dalam memandu para dokter hewan untuk tetap bisa menjaga kesehatan mentalnya selama berkarir. Berbagai penelitian dan jurnal internasional mulai banyak diterbitkan untuk membuka wawasan dan mengungkap fakta lainnya, meski di Indonesia belum ada penelitian atau perhatian khusus untuk hal tersebut.
Empathic distress tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dari karir profesi ini, namun dokter hewan dapat memupuk protective factor yang dapat memberikan perlindungan terhadap karir dan kehidupan personal. Compassion (belas kasih) menjadi kunci protective factor, karena dengan adanya peningkatan aktivitas positif seperti kasih sayang, harapan serta apresiasi akan menjadi buffer dari paparan emosi negatif agar tidak menjadi berlebihan (overwhelmed). Apa saja yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri? Mulai dari praktik self-care hingga self-compasssion yang sering kita tahu dari berbagai media sosial atau pelatihan dapat kita lakukan.
Adakah peran institusi di dalam mengelola kesehatan mental dokter hewan? Tentu saja ada, seperti yang disebutkan sebelumnya terkait hubungan burn out dan empathic distress, maka institusi dapat berperan serta seperti dengan membentuk budaya bekerja yang sehat. Institusi juga dapat menyediakan pendampingan bahkan konseling bagi tim, mencukupkan jumlah tim yang bekerja, hingga membentuk lingkungan suportif seperti dibentuknya peer-support.
... compassion is a skill that can be cultivated, and that empathic distress can be reversed, by learning how to turn empathy into compassion (2).
Dan pada akhirnya, selama dokter hewan berhadapan dengan hubungan manusia dan hewan yang kompleks, maka dokter hewan tidak akan pernah bisa lepas dari ancaman empathic distress fatigue seperti bayangan yang selalu mengikuti kemanapun dokter hewan bekerja. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahaminya, maka kita bisa bersama-sama melindungi dan mendukung dokter hewan untuk bisa tetap bertahan agar tetap menikmati perjalanan karir dan melakukan tugasnya dengan mental yang sehat.
