4 Kebiasaan Buruk dalam Rumah Tangga Penyebab Perceraian

Dalam hubungan itu butuh tips dan zodiak
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Relationship Goals tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di dalam sebuah hubungan rumah tangga, beberapa kebiasaan buruk ini bisa berujung pada perceraian. Ada empat perilaku yang memiliki peluang yang menuntunmu pada perceraian.

Dikutip dari Yourtango, penelitian mengatakan bahwa dalam 15 menit, para ahli dapat memprediksi 15 menit interaksi antar pasangan dan mereka dapat menebak apakah pasangan ini dapat bersama selama 5 tahun. Dalam interaksi, para ahli mengidentifikasi empat perilaku yang perlu kamu hindari jika tidak ingin menempuh perceraian.
1. Tuduhan
Menuduh pasangan adalah salah satu perilaku yang bisa menyebabkan perceraian. Menuduh atau menyalahkan pasangan, padahal kita pun belum mengetahui fakta, menyebabkan komunikasi yang kurang baik.
Jika kamu ingin memiliki hubungan yang berkualitas, belajarlah untuk memberikan pasangan ruang dan cobalah berpikir mengenai hal yang baik. Misal, muncul notifikasi pembelanjaan e-commerce di emailmu. Alih-alih bilang, “Beli apa lagi kali ini? Kok ga bilang-bilang?” dengan nada tinggi, kamu bisa berkata,” Yang, apa ada pembelian barang yang belum aku tahu?” dengan nada yang nyaman didengar.
2. Eskalasi
Dalam sebuah tekanan, emosi manusia bisa cenderung naik atau mengalami eskalasi atau malah turun dan hal ini berkaitan erat dengan perilaku menuduh.
Seseorang yang terbiasa berselisih paham akan cenderung mempertahankan posisi mereka dan menyalahkan pihak lain. Mereka akan menangkis argumen dan tetap berusaha untuk menjadi pihak yang benar.
Untuk menghilangkan perilaku ini, kamu cukup bertanya satu hal pada dirimu, “Kamu ingin menjadi benar atau menjadi orang yang dicintai pasanganmu?”. Pertanyaan sederhana ini akan membawa kita untuk selalu bergerak ke arah pemahaman terlebih dulu, baru resolusi atau aksi yang akan dijalankan.
3. Invalidation
Secara harfiah, invalidation diartikan sebagai pembatalan atau penyingkiran. Dalam hubungan rumah tangga, invalidation ini bisa diterjemahkan ke dalam aksi untuk mendiskreditkan atau melemahkan pasangan dengan menghilangkan karakteristik ‘manusia’ dalam pasangan dan fokus pada asumsi dan prasangka negatif. Ketika hal ini dilakukan oleh pasangan, invalidation ini bisa menghancurkan harga diri seseorang.
4. Keterasingan
Selalu meninggalkan diri dari argumen atau tidak menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi membuat salah satu pihak merasa diasingkan.
Biasanya, pasangan yang melakukan hal ini juga melakukan silent treatment alias mendiamkan orang lain agar membuatnya merasa bersalah. Kadang mereka juga suka membanting pintu dan pergi, memberikan kesan bahwa pasanganmu mengabaikan masalah ini.
Jika kamu ingin bertahan dalam hubungan rumah tanggamu, kamu perlu berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain dan menyelesaikan perilaku buruk yang masih dilakukan.
