Konten dari Pengguna

Mahasiswa UB Kembangkan Ekstrak Serai dan Cengkeh untuk Obat Scabies

Renaldi Saputra
Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya - Penerimaan Pendanaan Skema PKM-RE
10 Juli 2024 15:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Renaldi Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim mahasiswa peneliti serai dan cengkeh untuk pengendalian penyakit scabies pada ternak.
zoom-in-whitePerbesar
Tim mahasiswa peneliti serai dan cengkeh untuk pengendalian penyakit scabies pada ternak.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Eksakta oleh Kemdikbud Ristek tahun 2024.
ADVERTISEMENT
Mereka adalah Ade Surya Ananda, Renaldi Saputra dan Putri Salsabila Risa yang ketiganya merupakan mahasiswa FTP Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIP). Berikutnya Miftahul Jannah dan Tyas Fachrunnisa, mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan, FKH.
Tim mahasiswa peneliti serai dan cengkeh untuk pengendalian penyakit scabies pada ternak.
Kelima mahasiswa tersebut meneliti “Potensi Formula Ekstrak Serai Dapur (Cymbopogon citratus) dan Cengkeh (Syzygium aromaticum) dalam Menghambat Pertumbuhan Tungau dan Bakteri Penyebab Penyakit Scabies” di bawah bimbingan Prof. Dr. Sucipto, STP. MP. IPU.
“Fokus penelitian ini adalah bagaimana ekstrak serai dapur dan cengkeh dapat menjadi akarisida, ovicidal, antibakteri, bahkan anti inflamasi yang membantu penanganan scabies,” tutur Ade. Scabies, lanjut Ade, merupakan penyakit kulit yang banyak menyerang hewan ternak ruminansia, terutama kambing dan kelinci, serta dapat menular ke manusia (bersifat zoonosis) baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit ini sangat popular di kalangan peternak karena tersebar di seluruh Indonesia dan menyebabkan ternak mengalami stress, kurus, pertumbuhan terhambat, daya tahan tubuh menurun, penurunan produktivitas, hingga kematian yang tentunya merugikan peternak.
ADVERTISEMENT
Scabies disebabkan oleh parasit Sarcoptes scabiei, yang hidup di terowongan lapisan kulit sehingga memicu munculnya infeksi sekunder oleh bakteri, seperti bakteri Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus. Meskipun prevalensi cenderung sedang, akan tetapi apabila dalam satu kelompok ternak terdapat satu saja yang terinfeksi, maka akan menyebar dalam waktu singkat.
Sejauh ini, penanganan scabies menggunakan antibiotik berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit dan resistensi, sedangkan penggunaan obat kimia seperti permethrin, oral ivermectin, formaldehyde juga memiliki efek samping berupa peradangan kulit, alergi, dan bahkan potensi menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, Ade dan rekan-rekanya berupaya menghadirkan solusi alternatif yang aman dan ampuh dalam menghambat pertumbuhan tungau dan bakteri pada penyakit scabies.
Serai dapur dipilih oleh Ade dan rekan-rekanya, karena minyak serai dapur (Cymbopogon citratus) memiliki bahan aktif citral, berupa geranial dan neral yang bersifat anti mikroba, antioksidan, anti inflamasi, dan ovicidal sehingga efektif mencegah pembengkakan, pertumbuhan bakteri dan tungau, serta penetasan telurnya.
ADVERTISEMENT
Sedangkan minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) memiliki bahan aktif eugenol yang bersifat antioksidan, akarisida, insektisida, dan antibakteri sehingga dapat membunuh tungau dan bakteri. Bersama rekan-rekanya, Ade telah melakukan berbagai tahapan penelitian untuk menguji efektivitas ekstrak serai dapur dan cengkeh dalam penanganan scabies pada kelinci.
ADVERTISEMENT
Ade berharap penelitian yang dilakukan bersama rekan-rekannya dapat bermanfaat luas, tidak hanya bagi peternak, tetapi juga nantinya dapat menjadi acuan untuk dilanjutkan uji terhadap manusia. “Harapan kami PKM ini ke depannya dimudahkan dalam publikasinya, PIMNAS-nya, medali emasnya, serta hasil penelitian bermanfaat luas, tidak hanya bagi peternak, tetapi dapat dipertimbangkan untuk diuji pada manusia,” pungkasnya.