Konten dari Pengguna

Google Maps Bisa Menyesatkan (2)

Renan Hafsar

Renan Hafsar

Investigator Keselamatan Transportasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Republik Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Renan Hafsar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Open Map, Bukan untuk Balap

Google Maps mengusung konsep terbuka pada pelabelan. Dengan konsep ini, semua orang bebas menambahkan label lokasi apapun. Cara ini memudahkan Google untuk menambahkan ribuan tempat baru yang setiap hari muncul. Jika Google lakukan pemutakhiran (update) sendiri tanpa melibatkan masyarakat, Google harus setiap tahun survey ulang di setiap kecamatan. Akan sangat sulit.

Ilustrasi balapan menggunakan Google Maps.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi balapan menggunakan Google Maps.

Keterlibatan masyarakat sebagai kontributor menjadi penolong sekaligus penghambat. Seseorang bisa saja menambahkan lokasi yang menurutnya berguna, tetapi pada realitanya salah. Kesalahan melabeli ini bisa terjadi dalam aspek nama, lokasi, dan lokasi ganda.

Salah memberi nama pada suatu lokasi kadang menjadi masalah. Terutama jika relawan yang memasukkan suatu alamat tidak terlalu pandai masalah bahasa Inggris, tapi nama tempat itu menggunakan bahasa Inggris.

Jika nama salah, sebenarnya tidak mudah untuk mengoreksinya. Tinggal buka alamat dimaksud, lalu usulkan perubahan. Tuliskan alasannya. Sebagai contoh, suatu nama toko tertulis “Pret Shop”. Seharusnya nama toko itu adalah Pets’ Shop. Untuk mengatasinya, tinggal mengusulkan revisi nama itu agar menjadi tepat. Siapa pun bisa melakukannya, tidak harus pemilik tempat usaha.

Akan tetapi, jika ada seseorang yang sedang terburu-buru ingin ke toko itu, cenderung tidak memiliki waktu banyak untuk melakukan verifikasi apakah nama toko tersebut benar atau salah. Risiko paling apes adalah orang itu tersasar ke toko lain yang namanya mirip “pet shop”. Tentunya ini merugikan konsumen yang ingin ke toko itu dan pemilik toko Pets’ Shop.

Kesahan berikutnya terkait koordinat. Posisi berdasarkan lintang dan bujur memang lebih tepat untuk menentukan suatu lokasi, tapi terlihat lebih rumit. Karenanya, banyak orang lebih suka menentukan suatu lokasi dengan klik di gambar peta Google Maps, lalu memasukkannya ke Google Maps sebagai suatu alamat.

Contoh lokasi di tengah jalan di dalam Google Maps.

Sayangnya, banyak sekali kontributor salah memasukkan koordinat. Lokasi toko, misalnya, terletak di tengah jalan raya. Hal ini mungkin dapat dimaklumi bagi pengunjung toko yang berada di jalan kecil. Akan tetapi, jika toko itu terletak di jalan besar, butuh tenaga dan waktu ekstra bagi konsumen untuk memutar balik ketika toko yang dituju terletak di seberang jalan.

Lokasi ganda di dalam Google Maps sering terjadi. Biasanya disebabkan kontributor yang (kedua, ketiga, dan seterusnya) tidak memeriksa apakah suatu alamat sudah ada atau belum. Suatu hotel, misalnya, diset di dua titik. Terlepas dari apa niat masing-masing kontributor, hal ini akan menjadi masalah serius ketika dua titik hotel itu terletak di dua lokasi yang cukup berjauhan. Tamu hotel yang salah alamat tentunya harus pindah ke hotel yang benar dengan susah payah menenteng kopernya. Sungguh situasi yang menyebalkan.

Contoh double address di Google Maps.

Dari berbagai kelucuan sekaligus musibah bagi orang yang mencari alamat ternyata malah tersesat, jelas bahwa penggunaan Google Maps bukan untuk balapan. Sebelum menggunakannya harus cek silang berkali-kali apakah ada alamat yang ganda, salah lokasi, atau salah nama. Terlambat gabung rapat luring karena salah lokasi akibat Google Maps tentunya sangat tidak diinginkan oleh siapapun.

Blank Spot Bikin Repot Pengguna Google Maps

Google Maps setiap harinya bekerja menelusuri jalan baru. Jutaan jalan kecil dan besar dimasukkan ke dalam basis data (data base) Google. Perlu dicatat bahwa perubahan yang terjadi di kehidupan nyata tidak selalu masuk ke dalam pemutakhiran Google.

Mungkin pernah dengar istilah blank spot. Bukan istilah untuk sinyal, tapi untuk menyebut suatu lokasi tidak terjamah oleh Google Maps. Jika dibuka Google Maps, tidak terlihat jalan tersebut, padahal faktanya ada. Kondisi ini yang menyebabkan sejumlah pengguna jasa ojek/taksi daring kesulitan untuk dijemput. Pengemudi ojek/taksi daring juga kesulitan menjemputnya karena alamat yang dimaksud tidak tercantum di aplikasi. Akhirnya timbul cekcok di antara mereka.

Blank spot ini solusinya lebih sulit daripada masalah alamat salah. Hal ini disebabkan perbedaan konsep antara membuat jalan dengan membuat alamat. Pembuatan jalan hak Google sepenuhnya (subject to admin consideration), sedangkan membuat suatu alamat bisa dilakukan oleh siapa saja (open street map concept).

Memasukkan suatu jalan yang sebelumnya belum ada ke dalam Google Maps bisa dibilang hampir tidak mungkin. Penulis pernah mencoba hal tersebut dan tidak mendapatkan respons. Setelah sekian bulan, baru terealisasi dimasukkan ke dalam Google Maps.

Jika pembaca menemukan suatu jalan yang penting, tetapi tidak nampak di Google Maps, hanya ada satu solusinya. Harus ada upaya bersama yang dilakukan oleh beberapa orang serempak beramai-ramai mengusulkan kepada Google agar memasukkan jalan dimaksud ke dalam Google Maps. Tapi, hal ini belum tentu menjamin bahwa Google akan menerima permintaaan itu.

Contoh suatu jalan tidak nampak di Google Maps (blank spot), sehingga jalan terlihat terputus.

Sebagian lokasi dan jalan memang sengaja disembunyikan oleh Google. Semua pasti paham bahwa instalasi militer dan lokasi vital kenegaraan termasuk yang tidak boleh diekspos kepada publik secara terbuka. Dengan demikian, yang dapat diusulkan untuk masuk ke dalam Google Maps hanya terbatas pada lokasi yang tidak dirahasiakan.

Artikel selanjutnya (no. 3) akan membahas tentang akibat mengikut Google Maps hingga membuat pengendara tersesat, hingga kecelakaan.