Google Maps Bisa Menyesatkan (3)

Investigator Keselamatan Transportasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Republik Indonesia
Tulisan dari Renan Hafsar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah Jenis Jalan
Kasus salah jenis jalan sering terjadi pada pengguna Google Maps. Misalkan seseorang ingin bepergian dari lokasi A ke B menggunakan mobil. Google Maps menunjukkan waktu tempuh sekitar 20 menit. Seharusnya, 20 menit itu hanya bisa dicapai jika melewati jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor atau sepeda, tidak bisa untuk mobil. Alhasil, karena terlalu percaya pada Google Maps, pengguna tersebut malah terbuang waktunya hampir sejam. Di jalan tersebut, ban mobilnya masuk ke lubang saluran air.
Contoh kasus nyata yang pernah dialami tidak separah itu, namun tetap tidak nyaman. Misalnya, karena Google Maps mengarahkan ke jalan pintas, malah berpapasan dengan kendaraan lain dan harus mundur cukup jauh dengan sangat hati-hati karena gang yang dilalui sangat sempit.
Dari beberapa contoh kasus di atas, lalu timbul pertanyaan. Mengapa Google Maps yang cerdas itu bisa salah memilihkan jalan bagi penggunanya? Apakah Google tidak melakukan survey lapangan sebelum memasukkannya ke peta? Ada Street View, kok Google tidak paham ini jalan bukan untuk mobil, saya malah disuruh ke sini? Aplikasi yang dipakai lebih dari 1 miliar orang kok begini kualitasnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mencurahkan kekesalan lainnya.
Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa Google bukan Dewa Jalanan. Google hanyalah mesin yang masih harus terus belajar. Jika manusia saja bisa salah, mesin juga bisa salah karena input atau program yang tidak tepat.
Berikutnya, kita harus sadar bahwa Google Maps selalu meletakkan faktor waktu tempuh sebagai prioritas. Misalkan ada tiga rute yang ditampilkan sebagai pilihan dari A ke B. Maka secara asali (default) Google Maps akan menyarankan pengguna untuk memilih rute dengan waktu tempuh tercepat, bukan jarak terpendek.
Dalam dunia bisnis dan kehidupan yang serba cepat, waktu lebih berharga daripada bahan bakar atau tarif tol. Dengan demikian, Google mengadopsi nilai tersebut ke dalam perhitungan algoritma dengan selalu menyarankan durasi perjalanan terpendek kepada penggunanya, apapun moda transportasi yang dipilihnya.
Kalaupun pengguna mengubah rute yang ditempuhnya, karena suatu sebab yang bersifat mendadak, Google juga akan tetap menyarankan rute terbaik menurutnya, yaitu rute dengan waktu tempuh terpendek. Sebagai ilustrasi, pengendara tadi ketika bergerak dari A ke B terhalang oleh kegiatan warga. Ada jalan yang ditutup total karena hajatan. Karenanya, pengendara tadi berbelok ke suatu jalan yang disarankan oleh warga. Google Maps akan menyarankan pengendara tadi untuk melalui rute lain yang berhasil ditemukan oleh Google. Biasanya Google mengucapkan tawaran, “We found a faster route, would you like to follow it?”
Dan terakhir, kita harus sadar bahwa di dalam Google Maps belum ada fitur untuk menghindari suatu titik. Pengguna Google Maps memang bisa meminta untuk menambahkan titik-titik tujuan, misalnya dari A ke B, lanjut ke C, lalu D, dan berakhir di E. Akan tetapi, belum ada fitur untuk menghindari titik tertentu, seperti halnya lampu merah, persimpangan, jalan raya, komplek perumahan tertentu, dan sebagainya. Yang ada hanyalah fitur untuk menghindari tol, jalan tanah/berlumpur, dan penyeberangan perairan (kapal ferry).
Untuk mengatasi hal ini, kita harus mengakali titik yang tidak boleh dilewati dengan menambahkan titik-titik tertentu. Sebagai contoh, seorang pengendara ingin berkendara dari Watford ke London. Google Maps menyarankan dia untuk melewati rute tol M1 ke arah tenggara. Karena ada sesuatu hal, dia harus melewati jalan biasa di Brent Cross.
Di sini, tidak ada fitur untuk meminta Google Maps agar pengendara bisa menghindari M1 di Brent Cross. Yang bisa dilakukan hanyalah menambahkan destinasi baru di Hendon Park, dekat tol M1 Brent Cross. Dengan cara ini, pengendara tadi bisa menentukan rute sesuai keinginannya. Cara menambahkan destinasi baru ini bisa dilakukan melalui gawai/ponsel atau komputer.
Saran Google Maps Menyesatkan
Perhatikan cara Google mendefinisikan suatu jalan. Tidak semua jalan diverifikasi kembali oleh Google satu per satu, apakah jalan ini hanya muat untuk sepeda motor, apakah jalan itu boleh untuk mobil. Setelah gambar melalui balon udara/pesawat direkam, komputer akan mengenali jalan secara pukul rata. Jika suatu jalan memiliki lebar lebih daripada mobil, maka secara otomatis akan dianggap itu bisa dilalui mobil oleh sistem.
Di Colorado, Amerika Serikat, sekitar 100 pengendara mobil terjebak ke suatu jalan berlumpur setelah mengikuti pesan mbak Google di bulan Juni 2019. Awalnya mereka terhenti dalam kemacetan dan diperkirakan harus menunggu hingga 43 menit untuk tiba di lokasi. Kemudian Google Maps menawarkan rute lain dengan waktu tempuh hanya 23 menit. Puluhan mobil pun segera beramai-ramai masuk ke areal tersebut dan terjebak di lumpur bersama-sama.
Walikota Sardinia, Italia, mengeluarkan larangan setelah seringnya kendaraan sedan dan kendaraan kecil lainnya tersesat di jalan yang tidak layak dilalui oleh kendaraan bermotor. Tahun 2018, tercatat sedikitnya orang telah diselamatkan petugas setempat akibat mereka tersesat akibat saran Google Maps seperti dilansir oleh New York Post. Oleh karenanya, di jalan yang mengarah ke lokasi tersebut dipasangi papan bertuliskan “Don’t Follow the Directions of Google Maps.”
Kasus mirip, namun lebih parah, juga terjadi di Indonesia di tahun 2019. Dilansir dari Jakarta Post, seorang pengemudi truk terjatuh ke jurang di daerah Ubud, Bali setelah mengikuti saran Google Maps. Ternyata, Google Maps menyarankan pengemudi truk untuk mengikuti jalan yang hanya cocok untuk sepeda motor saja.
Di daerah Gunung Lio, Jawa Tengah, saran Google Maps membuat banyak pengendara sepeda motor matic terjatuh. Penyebabnya, Google Maps memberi saran kepada pengendara untuk melewati suatu jalan yang terjal. Motor matic memang kuat menanjak. Tetapi, ketika jalan menurun, maut mengancam.
Dari beberapa kali investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), disampaikan bahwa jalanan di Gunung Lio tidak cocok untuk motor matic. Ketika pengereman, sepeda motor matic hanya mengandalkan rem karena rem mesin (engine brake) tidak terlalu berpengaruh seperti halnya pada motor bukan matic. Hal ini membuat kampas rem terlalu panas. Ketika sudah memerah, kinerja rem menurun drastis hingga membahayakan pengendara sepeda motor matic.
KNKT sudah menyarankan kepada Google dan Pemda untuk bekerja sama agar informasi yang berkaitan dengan keselamatan seperti ini dapat terus dimutakhirkan. Jika dibiarkan terus, semakin banyak pengendara yang jatuh menjadi korban.
Di tahun lalu juga, seorang pengendara tersesat di Gurun Arizona selama lima hari. Awalnya, dia hanya ingin berlibur ke Grand Canyon sendirian. Google Maps memberitahunya suatu arah ke pemukiman terdekat. Tiba di alamat dimaksud Google, dia terkejut karena di lokasi itu tidak ada siapa-siapa, hanya hamparan pasir coklat dan rumput tipis. Pada saat yang sama, bahan bakarnya habis. Beruntung, setelah lima hari bertahan di gurun sendirian, akhirnya dia sempat tertolong setelah berjalan kaki sejauh 17 km ke telepon darurat terdekat.
Estimasi Waktu Tidak Tepat
Kita semua paling sering mengalami salah estimasi waktu. Google Maps perkirakan bisa tiba dalam waktu satu jam. Nyatanya, bisa hingga satu setengah jam, bahkan lebih. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah di kota besar dengan kemacetan seperti Jabodetabek.
Perkiraan waktu yang Google Maps lakukan tergantung pada variabel terbatas. Faktanya, ada begitu banyak variabel yang mempengaruhi durasi perjalanan. Sebagai contoh, lebar jalan, banyaknya kendaraan, banyaknya persimpangan dan lampu lalu lintas, rintangan di jalan.
Hanya ada satu solusi untuk menghadapi masalah ini, yaitu berangkat lebih awal. Anggap Google Maps adalah pemberi saran. Keputusan tetap di tangan pengguna.
Salah Foto
Terkadang, foto yang nampak di Google Map salah. Seharusnya gambar rumah berpagar hitam, misalnya, tapi yang terlihat di Google Map justru rumah tanpa pagar. Tidak jelas rumah siapa yang dimunculkan di situ.
Masalah salah foto di Google Maps sama seperti pelabelan alamat. Karena menganut konsep open street map (OSM), maka siapapun boleh berkontribusi foto ke Goole Map. Parahnya, tidak sedikit orang yang mengunggah foto dirinya untuk sekedar “numpang eksis” di Google Map. Yang dirugikan adalah orang-orang yang memang niat untuk mencari informasi foto suatu alamat. Alih-alih menemukan foto yang tepat, yang ditemukan malah foto-foto narsis.
Google memang menyediakan fitur untuk melaporkan foto yang salah dengan menyertakan alasannya. Akan tetapi, ribuan gambar yang dilaporkan per hari ke Google tentunya belum tentu dapat ditindaklanjuti dengan cepat.
Terkait dengan foto, Google Map menyatukan Google Street View ke dalam foldernya. Di dalam folder itu, tercampur antara foto yang diambil oleh Google sendiri dan foto unggahan dari pengguna secara sukarela. Meski demikian, tidak semua foto dari semua tempat bisa ditemukan. Untuk mempelajari bagaimana Google Street View dibuat, silakan klik tautan ini.
Kairo, Mesir adalah salah satu contoh kota yang tidak akan kita temukan gambar Google Street View, kecuali hanya sedikit sekali. Shanghai, Cina juga termasuk kota yang sulit sekali menemukan Google Street View.
Google Map merupakan alat bantu yang cukup banyak manfaatnya. Meski demikian, tidak sedikit juga yang sudah kesal dengan kesalahan yang dibuatnya. Dengan demikian, tidak tepat jika kita berada di salah satu posisi yang ekstrem: terlalu mendewakan Google Maps karena manfaatnya banyak atau terlalu anti Google, tidak mau menggunakan Google Maps karena takut tersesat. Secanggih apapun teknologi, ketepatan penggunaan tetap kembali kepada penggunanya.
- Habis -
