News
·
12 November 2020 8:33

Kapal Tanpa Awak Menantang Indonesia

Konten ini diproduksi oleh Renan Hafsar
Maritime autonomous surface ship (MASS) adalah sebutan bagi kapal yang berlayar di permukaan air tanpa awak. Dari definisi ini, kapal selam dan kapal yang bisa melayang di atas permukaan air tidak termasuk kategori MASS. Istilah MASS mulai menjadi pembicaraan hangat di tingkat dunia karena ditargetkan dan diprediksi menjadi solusi yang efisien dan aman bagi semua pihak di masa depan.
ADVERTISEMENT
Beberapa perusahaan saling berlomba menargetkan peluncuran MASS. Rolls Royce menargetkan sebelum 2035 sudah mulai ada kapal purwarupa (prototype) tipe tertentu yang diluncurkan ke publik. Lebih ketat lagi, OSK Lines and Nippon Yusen menargetkan 2025 untuk peluncuran kapal MASS.
Kapal Tanpa Awak Menantang Indonesia (72600)
Ilustrasi teknologi kapal MASS.
Dari data kecelakaan, kecelakaan terjadi paling banyak didominasi oleh faktor manusia (human factor/HF). Istilah HF ini sering dijadikan kambing hitam yang dilontarkan berbagai pihak ketika suatu kecelakaan besar terjadi. Faktor tersebut antara lain kerja sama antar-awak kapal yang tidak optimal (bridge resources management), lelah (fatigue), konflik budaya (cultural conflict), kebiasaan buruk terhadap keselamatan (unsafe habit), dan kurangnya prosedur kerja yang jelas.
Kehadiran MASS diharapkan menjawab masalah seringnya kecelakaan kapal. Dengan pemrograman berbasis keselamatan dan keamanan, MASS tidak akan mengenal masalah HF. Mesin memiliki kemampuan untuk terus bekerja sesuai program yang diberikan kepadanya. Dan yang juga terpenting adalah performa akan cenderung konstan karena tidak akan mengalami kelelahan.
ADVERTISEMENT

Evolusi Kapal Tanpa Awak

Pengembangan kapal tanpa awak bukanlah sebuah proses yang tiba-tiba. Hal ini merupakan kelanjutan dari program e-navigation yang dijalankan IMO sejak tahun 2005 silam. Pada waktu itu, e-navigation belum mengarah pada kapal tanpa awak, tapi baru ke arah penyempurnaan tiga aspek terkait keselamatan pelayaran, yakni sistem navigasi di atas kapal, manajemen informasi lalu lintas kapal dari darat, dan infrastruktur komunikasi antara kapal dengan pihak lain di kapal lain, darat serta antar-stasiun darat.
Pada tahun 2019, penggunaan kapal komersil tanpa awak yang pertama kali di dunia dicatat oleh sejarah, sebagaimana dilansir oleh BBC. Pada waktu itu, kapal aluminium sepanjang 12 m sepenuhnya tanpa awak menyeberangi Selat Inggris menuju Belgia. Dengan muatan berupa satu kotak kerang, pengerasian kapal dikendalikan sepenuhnya dari pusat kontrol di Tollesbury, Essex di mana kapal tersebut diberangkatkan.
ADVERTISEMENT
“Kapal Pembawa Kerang” tersebut dilengkapi dengan beragam peralatan otomasi berbasis ramah lingkungan. Energi disuplai oleh mesin diesel hybrid dan generator listrik. Peralatan pemantau situasi menggunakan CCTV, kamera pemindai panas, dan sistem identifikasi keberadaan kapal-kapal lain di sekitarnya.
Kapal Tanpa Awak Menantang Indonesia (72601)
Kapal Sea-Kit pembawa kerang (atas) dan ruang kontrolnya (bawah). Foto: Hushcraft
Ketika teknologi kapal dinaikkan kemampuannya menjadi sepenuhnya autonomous, hal tersebut akan mengeliminasi masalah lain yang sebelumnya belum ada. Sebagai contoh, ketika navigasi masih mengandalkan komunikasi antara awak kapal dan petugas Vessel Traffic Control (VTS), masalah kemampuan Bahasa Inggris tidak jarang menjadi masalah serius yang mendasari terjadinya kandas atau tabrakan kapal. Adapun ketika kapal sudah sepenuhnya menjadi autonomous, komunikasi antara kapal, VTS, dan antarkapal menjadi sepenuhnya tanpa campur tangan manusia.

Tantangan di Indonesia

Meskipun kapal dengan teknologi MASS menawarkan kelebihan dalam hal keselamatan dan efisiensi, bukan berarti bebas dari tantangan. Revolusi industri adalah contoh tepat yang bisa kita ambil pelajarannya. Penemuan mesin uap adalah game changer di dunia industri manufaktur. Tapi pada saat yang sama, mesin uap menjadi musuh bersama para buruh sebagaimana diulas oleh Geoffrey Pearson (1979) dalam buku Resistance to the Machine.
ADVERTISEMENT
Kita ingat kembali bagaimana sejarah monumental penemuan mesin uap ditentang habis-habisan oleh para buruh yang merasa lapangan pekerjaannya digantikan oleh mesin. Sejarah mencatat kerusuhan The Plug Riots pada tahun 1842 sebagai salah satu contohnya. Buruh pada waktu itu merusak dan mencabut colokan listrik dari boiler mesin uap.
Hal yang sama jika tidak dipersiapkan secara matang juga akan terjadi pada teknologi kapal MASS. Revolusi industri dengan kapal MASS memiliki kemiripan. Keduanya sama-sama meniadakan peran awak kapal dalam jumlah sangat signifikan. Ujungnya, keduanya akan memaksa ribuan tenaga kerja pelaut untuk turun dari kapal. Ketika masalah ini menyentuh urusan “dapur”, bisa dipastikan bahwa hal ini menimbulkan kecemburuan besar antara manusia dan mesin.
Satu hal yang berbeda antara MASS dan teknologi industri adalah dalam hal cakupan wilayah. Dulu revolusi industri bersifat lokal di beberapa negara Eropa, misalnya Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Dalam beberapa dekade mendatang, MASS akan meliputi seluruh dunia. Hal inilah yang menyulitkan Indonesia untuk bersikap, kecuali ikut menerima teknologi MASS.
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa kali rapat di tingkat dunia, MASS sudah dibahas dalam kaitannya dengan kerangka kerja yang masih bersifat mendasar. Namun demikian, dari namanya MASS ini ditakuti oleh para pekerja yang menggantungkan hidupnya dari kapal berawak. Dalam hal ini, wajar jika Pemerintah Indonesia untuk saat ini bersikap “wait and see” terhadap teknologi MASS. Akan tetapi, sampai kapan harus terus menunggu?

Pengekor atau Pembuat Tren

Dalam dunia media sosial (medsos), hanya ada dua pilihan, yakni sebagai pengekor (follower) atau pembuat tren (trend setter). Dalam kebanyakan teknologi, Indonesia hampir selalu menjadi pengekor, misalnya dalam teknologi telepon seluler (ponsel) dan otomotif. Hal ini bakal dipastikan juga akan terjadi dalam teknologi MASS di masa depan.
ADVERTISEMENT
Dalam hal kebutuhan pelaut, setidaknya publik menjadi bingung dengan adanya dua kampanye. Di satu sisi, slogan bahwa “pelaut Indonesia dinanti dunia” hampir selalu digaungkan oleh banyak sekolah-sekolah kepelautan. Slogan yang seolah menjanjikan lapangan kerja cerah dengan bekerja di armada kapal dengan gaji tinggi ini mengabarkan bahwa kekosongan tenaga kerja adalah peluang emas yang harus ditangkap oleh para siswa sekolah kepelautan. Dari data yang dipercayai, sampai 2025 dunia masih kekurangan pelaut hingga 32.000 orang setiap tahunnya.
Kapal Tanpa Awak Menantang Indonesia (72602)
Salah satu berita terkait pelaut Indonesia. Gambar: CABM
Pada saat yang sama, kisah sedih tentang 850.000 pelaut Indonesia justru kontradiktif dengan kampanye di atas. Di mana-mana terlihat banyak pelaut yang banting setir. Penurunan kebutuhan jumlah pelaut diawali dengan penurunan harga minyak mentah setelah penemuan teknologi pengolahan minyak bumi di Amerika (shale oil). Hingga saat ini, hampir semua orang sepakat bahwa lapangan kerja di kapal lebih sedikit daripada jumlah pelaut yang ada. Lalu publik semakin bingung dengan validitas data kebutuhan pelaut tersebut.
ADVERTISEMENT
Penelitian yang dilakukan Munaf dan Windari (2015) dari ITB menjawab permasalahan mendasar rendahnya absorbsi pasar tenaga kerja terhadap pelaut Indonesia. Indonesia tertinggal oleh Filipina, India, Vietnam, Sri Lanka, Bangladesh, dan negara lainnya. Faktor utama adalah dalam hal kompetensi pelaut, terutama dalam hal Bahasa Inggris, di samping kualitas dan kuantitas pengajar yang bermutu tinggi. Kondisi ini sejatinya menjadi pelajaran bersama sekaligus alarm untuk mengejar ketertinggalan Indonesia.
Jika Indonesia akan menyambut teknologi MASS sebagaimana menyongsong era revolusi industri 4.0, sudah sepatutnya penyikapan tidak hanya berhenti di lembaran surat kabar atau spanduk pemanis seremonial. Perlu langkah ekstra keras berjuang agar perpindahan tempat kerja dari anjungan ke ruang kontrol berlangsung sesuai rencana. Kata kunci di sini adalah rencana.
ADVERTISEMENT
Kehadiran teknologi kapal MASS tidak bisa dipandang hanya sebagai ancaman pada tenaga kerja pelaut. Situasi ini harus dilihat dari kacamata positif sebagai peluang bagi Indonesia untuk masuk pada lapangan kerja baru yang akan tercipta dengan hadirnya MASS.
Oleh karena itu, Pemerintah perlu memiliki rencana peta jalan yang komprehensif hingga beberapa dekade mendatang. Rencana harus dibuat sedetail mungkin dan mengaktualisasikan rencana ke dalam fakta. Sebagai contoh, kebutuhan pemahaman mengenai sistem otomasi dan bahasa pemrograman akan menjadi kunci dalam jasa pelayanan kapal-kapal MASS. Untuk menangkap peluang itu, seyogyanya para siswa diajarkan pada hal-hal yang mengarah pada penguasaan teknologi MASS, bukannya pada suatu ilmu yang itu-itu saja. Di sini, pentingnya memastikan hubungan antara kemampuan pengajar dan kebutuhan pasar menjadi vital.
ADVERTISEMENT
Alih kemampuan pengajar menjadi salah satu faktor penting untuk menumbuhkan satu kemampuan baru yang sebelumnya kurang diperhatikan. Pelajaran informasi dan teknologi sangat dekat dengan teknologi MASS. Namun demikian, pengajar bidang ini dapat dihitung dengan jari karena saat ini pendidikan kepelautan masih fokus tentang bagaimana meluluskan siswa menjadi tenaga kerja yang bekerja di atas kapal. Penggantian pengajar dalam jumlah massal kiranya terlalu radikal, sehingga para pengajar dituntut untuk dapat menguasai hal lain yang dituntut oleh zaman.
Di samping itu, sarana pelatihan juga harus dijaga ketat. Sering ditemukan kasus di mana sekolah-sekolah dibuka untuk mengejar jumlah siswa ketimbang menjaga kualitas. Alhasil, ribuan siswa yang lulus kalah banyak dibandingkan saingannya dari negara lain ketika bertarung di kancah internasional.
ADVERTISEMENT
Sudah saatnya Indonesia menjadi pembuat trend dalam peluang teknologi MASS. Ketika pelaut Indonesia siap dengan kehadiran MASS, maka kekhawatiran yang ada seputar kehilangan tenaga kerja akan berbalik menjadi berkah bagi tenaga kerja yang sudah dipersiapkan menyongsong masuknya teknologi MASS.