Konten dari Pengguna

Pause Before Posting: Mengelola Amarah di Tengah Budaya Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rendra Putra Riastyo - Mahasiswa Universitas Siber Asia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Ilustrasi Pribadi - License Free)
zoom-in-whitePerbesar
(Ilustrasi Pribadi - License Free)

Media sosial kini bukan hanya tempat berbagi cerita dan informasi. Ia juga menjadi ruang untuk meluapkan emosi. Ketika merasa kecewa, tersinggung, diperlakukan tidak adil, atau tidak didengar, seseorang dapat dengan mudah menuangkan kemarahannya melalui unggahan, komentar, maupun story. Persoalan yang awalnya bersifat personal pun dapat berubah menjadi konsumsi publik dan, dalam hitungan menit, menjadi viral. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan: apakah setiap kemarahan memang perlu segera dipublikasikan?

Marah bukanlah sesuatu yang salah. Kemarahan merupakan respons emosional yang wajar ketika seseorang menghadapi gangguan, pertentangan, kekecewaan, frustrasi, atau merasa disakiti. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan amarah, melainkan bagaimana emosi tersebut dikenali dan diekspresikan. Kemarahan yang tidak terkendali dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Media sosial membuat jarak antara emosi dan tindakan menjadi semakin pendek. Seseorang dapat membaca sesuatu yang memancing amarah, mengetik respons, lalu mempublikasikannya hanya dalam beberapa detik. Ketika emosi sedang tinggi, respons pun dapat muncul sebelum seseorang benar-benar mempertimbangkan akibatnya. Dalam kondisi tersebut, sebuah unggahan yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai pelampiasan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Hal ini berkaitan dengan anger out, yaitu ketika kemarahan diarahkan kepada orang atau sesuatu di luar diri sebagai bentuk ekspresi kebencian atau permusuhan. Di media sosial, bentuknya dapat berupa sindiran, komentar kasar, unggahan yang mempermalukan seseorang, hingga serangan verbal terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kemarahan yang semula bersifat pribadi akhirnya melibatkan banyak orang karena ruang digital memungkinkan siapa pun untuk ikut memberikan respons.

Namun, tidak semua kemarahan yang disampaikan di media sosial dapat dianggap keliru. Ada kalanya seseorang memang perlu menyampaikan pengalaman buruk, kritik, atau ketidakadilan yang dialaminya. Media sosial bahkan dapat menjadi sarana untuk membuat persoalan yang sebelumnya tidak mendapatkan perhatian menjadi diketahui publik. Karena itu, yang perlu dibedakan bukan antara marah dan tidak marah, melainkan antara menyampaikan kritik dan sekadar melampiaskan emosi.

Kritik berusaha mengangkat persoalan, sedangkan pelampiasan lebih berorientasi pada pelepasan emosi. Kritik dapat disampaikan dengan tegas tanpa merendahkan orang lain. Sebaliknya, kemarahan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang menyerang pribadi, menggunakan kata-kata yang menyakitkan, atau mengajak orang lain untuk ikut melakukan hal serupa. Pada titik inilah kemampuan mengelola amarah menjadi penting.

Persoalannya semakin rumit ketika kemarahan di media sosial mendapatkan validasi. Sebuah unggahan yang memperoleh banyak likes, komentar, dan dukungan dapat memberikan perasaan bahwa seseorang akhirnya didengar. Perasaan diabaikan atau tidak dipedulikan memang dapat menjadi salah satu pemicu kemarahan. Manusia membutuhkan hubungan dan pengakuan sosial, sehingga ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, emosi negatif dapat muncul.

Akan tetapi, viralitas tidak selalu identik dengan kebenaran. Pengguna media sosial sering kali hanya mengetahui satu sisi cerita, sementara konteks yang lebih lengkap belum tentu tersedia. Ketika sebuah persoalan telah menjadi viral, penilaian publik bahkan dapat terbentuk sebelum seluruh fakta diketahui. Banyaknya dukungan juga tidak otomatis menunjukkan bahwa cara seseorang mengekspresikan kemarahannya sudah tepat.

Karena itu, “pause before posting” menjadi kebiasaan yang penting. Berhenti sejenak sebelum mengunggah sesuatu ketika sedang marah bukan berarti membungkam diri atau menerima perlakuan yang tidak adil. Jeda justru memberikan kesempatan untuk memastikan bahwa respons yang diberikan lahir dari pertimbangan, bukan sekadar dorongan emosi.

Sederhana saja: tuliskan apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak perlu langsung mengunggahnya. Tinggalkan ponsel sejenak, tenangkan diri, lalu baca kembali ketika emosi sudah mereda. Setelah itu, tanyakan apakah yang hendak disampaikan benar-benar merupakan kritik atau hanya pelampiasan. Apakah yang dibahas adalah persoalan atau justru pribadi seseorang? Apakah unggahan tersebut membantu menyelesaikan masalah atau malah memperbesar konflik?

Jika setelah tenang seseorang masih merasa perlu berbicara, kemarahan dapat disampaikan dengan cara yang lebih terukur. Menjelaskan penyebab kekecewaan tanpa menyalahkan pihak lain dan menjaga cara berkomunikasi tetap terkendali memungkinkan seseorang menyuarakan persoalannya tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah penyebab manusia menjadi marah. Media sosial hanya menyediakan ruang yang membuat ekspresi emosi menjadi lebih cepat, terbuka, dan luas. Tantangannya terletak pada kemampuan manusia untuk menentukan bagaimana ruang tersebut digunakan.

Kita tetap boleh marah, kecewa, dan mengkritik. Namun, kebebasan untuk bersuara perlu berjalan bersama kemampuan mengendalikan diri dan menghargai orang lain. Tidak semua yang kita rasakan harus segera menjadi konsumsi publik.

Maka, sebelum menekan tombol posting ketika emosi sedang tinggi, mungkin kita memang perlu memberikan sedikit jeda. Bukan untuk memendam amarah, tetapi untuk memastikan bahwa kita yang mengendalikan amarah, bukan sebaliknya.