Konten dari Pengguna

Peran Pajak pada Subsidi BBM Nasional: Antara Keadilan dan Beban Fiskal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rendra Ardinand tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali mendengar kabar kenaikan harga BBM, kita melihat antrean panjang di SPBU, protes di jalanan, hingga perdebatan sengit di media sosial. Di balik semua itu, ada satu hal yang jarang kita bicarakan, yakni pajak. Pajak yang kita bayarkan setiap bulan melalui gaji, PPN saat belanja, hingga PPh dari kegiatan usaha, ternyata menjadi urat nadi yang menjaga subsidi BBM tetap berjalan.

Subsidi BBM memang selalu menjadi perbincangan hangat. Pemerintah beralasan pemberian subsidi demi menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa dana untuk subsidi itu berasal dari APBN, dan sumber terbesar APBN adalah pajak. Artinya, setiap liter BBM bersubsidi yang kita nikmati sejatinya adalah “uang kita sendiri” yang dikembalikan oleh negara dalam bentuk BBM. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana skema subsidi BBM memberikan keadilan kepada semua?

Gambar oleh Ali Mkumbwa di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Ali Mkumbwa di Unsplash

Subsidi BBM: Sudahkah Tepat Sasaran?

Di satu sisi, subsidi BBM membantu rakyat kecil tetap bisa bergerak dan bekerja. Namun di sisi lain, kita tahu bahwa tidak sedikit subsidi justru lebih banyak dinikmati oleh mereka yang mampu membeli kendaraan pribadi, bahkan "si kaya" pun ikut menikmati subsidi. Inilah menimbulkan dilema lama, apakah pajak rakyat seharusnya digunakan untuk subsidi konsumsi energi yang boros dan tidak tepat sasaran, atau sepatutnya dialihkan pada sektor lain yang lebih produktif seperti pendidikan, kesehatan, dan energi terbarukan?

Pajak sebagai Instrumen Keadilan Sosial

Di sinilah peran pajak menjadi penentu arah kebijakan. Pajak bukan sekadar nominal pada slip gaji atau tagihan SPT, tetapi berperan dalam alat penggerak keadilan sosial. Jika pajak dikelola dengan transparan dan kebijakan subsidi tepat sasaran, maka rakyat akan merasakan manfaat sesungguhnya. Sebaliknya, bila pajak dipakai menambal subsidi tak terstruktur, beban fiskal akan semakin berat, dan kita kembali masuk ke lingkaran masalah yang sama setiap tahun.

Dari Subsidi Menuju Investasi Masa Depan

Subsidi BBM seharusnya menjadi jembatan, bukan kebijakan permanen. Pajak bisa menggerakkan transformasi kebijakan, seperti mengalihkan bertahap beban subsidi ke pembangunan infrastruktur energi hijau, mendorong transportasi publik, dan membuka ruang fiskal untuk pendidikan yang lebih merata. Dengan begitu, uang rakyat tidak hanya habis terbakar di mesin kendaraan, tapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang bangsa.

Antara Subsidi atau Kebijakan Berkelanjutan

Pada akhirnya, bicara tentang peran pajak dalam subsidi BBM adalah bicara tentang pilihan, apakah kita mau terus terjebak dalam zona nyaman yang menguras kas negara, atau berani beralih ke model pembangunan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan. Jawabannya ada pada kebijakan yang disepakati bersama. Namun, yang perlu kita evaluasi bersama adalah memastikan bahwa tiap rupiah yang kita bayarkan dalam bentuk pajak, kembali kepada kita untuk kemaslahatan bersama.