Apa yang Dilihat Dokter dari Sepiring Makanan Anak?

Dokter Spesialis Anak Mahasiswa MARS UMY
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rendy Yoga Ardian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mangan ora mung wareg
“Dok, anak saya sebenarnya makannya banyak. Tiga kali sehari. Tapi kok berat badannya susah naik?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering saya dengar ketika bertemu orang tua di ruang praktik.
Biasanya, saya tidak langsung menjawab. Saya akan bertanya balik: makanannya apa, berapa banyak proteinnya, apakah anak masih mendapat ASI, bagaimana pemberian MPASI-nya, apakah anak sering sakit, bagaimana pola pertumbuhannya, sudah bisa apa saat ini dan bagaimana kondisi makan di rumah.
Sebab bagi dokter anak, sepiring makanan tidak hanya berisi nasi, lauk dan sayur. Dari situ kami bisa melihat banyak hal: bagaimana anak tumbuh, bagaimana imunitasnya bekerja, bagaimana perkembangan otaknya, bagaimana kebiasaan makan dibentuk, bahkan sedikit banyak bagaimana kondisi keluarga di rumah.
Ada ungkapan Jawa yang menurut saya sangat sederhana tetapi relevan: “mangan ora mung wareg”—makan bukan hanya soal kenyang.
Anak memang perlu kenyang. Tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan makanan yang cukup untuk tumbuh dan berkembang.
Pertumbuhan Anak adalah Bahasa Tubuh
Dalam praktik sehari-hari, saya melihat pertumbuhan sebagai salah satu “bahasa tubuh” anak.
Berat badan yang tidak bertambah sesuai harapan, misalnya, sering kali menjadi tanda awal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Tidak selalu berarti anak sudah mengalami gizi buruk atau stunting. Justru pada tahap inilah kita mempunyai kesempatan untuk melakukan intervensi lebih awal.
Karena itu, menurut saya, kita tidak seharusnya menunggu sampai anak terlihat sangat kurus atau tinggi badannya sudah jauh tertinggal baru kemudian bergerak.
Penyebab gangguan pertumbuhan juga tidak pernah sesederhana “anak kurang makan”.
Infeksi yang berulang, pemberian ASI, pola MPASI, imunisasi, berat badan lahir, kondisi ibu selama kehamilan, pendidikan orang tua, sampai kondisi ekonomi keluarga dapat saling berhubungan.
Dalam pengalaman saya menangani anak dengan masalah pertumbuhan, sering kali persoalannya bukan hanya satu faktor. Ada anak yang nafsu makannya kurang karena sering sakit. Ada yang sudah makan cukup banyak tetapi komposisi makanannya kurang baik. Ada pula keluarga yang sebenarnya ingin memberikan makanan bergizi, tetapi pilihan makanannya terbatas karena kondisi ekonomi.
Artinya, ketika kita berbicara mengenai pertumbuhan anak, kita juga harus melihat lingkungan tempat anak itu tumbuh.
Gizi dan Imunitas Berjalan Beriringan
Gizi dan imunitas juga tidak bisa dipisahkan.
Anak yang mendapatkan asupan tidak cukup atau tidak seimbang dapat lebih rentan mengalami masalah kesehatan. Sebaliknya, ketika anak sering sakit, nafsu makan bisa menurun, kebutuhan energi dan zat gizi dapat meningkat, dan akhirnya berat badan sulit bertambah.
Kalau tidak diputus, kondisi ini dapat menjadi sebuah lingkaran.
Anak kurang makan, kemudian sakit. Setelah sakit, makannya semakin sedikit. Berat badan tidak bertambah. Kondisi tubuh menurun dan anak semakin mudah mengalami masalah kesehatan.
Karena itu, ketika melihat seorang anak yang berat badannya tidak naik, saya tidak hanya bertanya, “Anaknya makan berapa kali sehari?”
Saya ingin tahu apa yang dimakan, seberapa banyak yang benar-benar masuk, apakah anak sering sakit, dan bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu.
MPASI Bukan Hanya untuk Membuat Bayi Kenyang
Pada usia sekitar enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan tersebut.
Di sinilah MPASI mempunyai peran penting.
MPASI seharusnya bukan sekadar membuat perut bayi penuh. Makanan pendamping ASI perlu diberikan secara tepat waktu, aman, cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan anak, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI.
Bagi saya, salah satu hal penting dalam MPASI adalah kualitas makanan, bukan hanya volumenya.
Anak bisa saja makan sepiring penuh, tetapi jika sebagian besar hanya makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang kurang memadai, belum tentu kebutuhan pertumbuhannya terpenuhi.
Karena itu, sumber protein seperti telur, ikan, ayam, daging, dan sumber pangan lainnya perlu mendapat tempat dalam menu anak, disertai sayur dan buah dengan keragaman yang sesuai.
Kita perlu mengubah cara pandang bahwa anak yang makan banyak otomatis berarti gizinya baik. Anak bisa kenyang, tetapi belum tentu cukup gizi.
Bagaimana Saya Melihat MBG?
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG menurut saya mempunyai peluang besar untuk menjadi salah satu bagian dari upaya memperbaiki kualitas gizi anak.
Namun sebagai dokter anak, saya melihat keberhasilan program tidak cukup hanya dari pertanyaan: “Berapa banyak makanan yang sudah dibagikan?”
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
“Apakah makanan itu benar-benar dimakan oleh anak?”
Seporsi makanan yang bergizi tetapi tidak disukai, tidak sesuai dengan kebiasaan makan anak, atau banyak tersisa di piring tentu tidak akan memberikan manfaat seperti yang diharapkan.
Karena itu, menurut saya evaluasi program makanan anak perlu melihat lebih luas: kualitas menu, keberagaman makanan, keamanan pangan, penerimaan anak, jumlah makanan yang benar-benar dikonsumsi, sisa makanan, serta perubahan status kesehatan dan pertumbuhan anak.
Di sinilah suara anak juga penting.
Apa yang mereka sukai? Apa yang sering tersisa? Apakah teksturnya sesuai? Apakah porsinya terlalu banyak atau justru kurang?
Hal-hal yang tampak sederhana tersebut sebenarnya sangat menentukan apakah makanan yang disediakan benar-benar menjadi asupan bagi tubuh anak.
MBG Jangan Hanya Memberi Makan, Tetapi Juga Mengajari Makan
Ada satu hal lain yang menurut saya tidak kalah penting: pendidikan gizi. Program makanan di sekolah jangan berhenti pada aktivitas membagikan makanan.
Anak juga perlu belajar mengapa mereka harus makan sayur, mengapa protein penting, mengapa buah perlu dikonsumsi, dan mengapa tidak semua makanan yang membuat kenyang memiliki nilai gizi yang sama.
Guru dan orang tua juga perlu dilibatkan.
Sebab kebiasaan makan anak tidak dibentuk hanya di sekolah. Apa yang dipelajari anak pada siang hari bisa saja bertemu dengan kebiasaan yang berbeda ketika ia pulang ke rumah.
Karena itu, sekolah dan keluarga idealnya menjadi satu ekosistem dalam membangun kebiasaan makan yang sehat.
Jangan Lupa Anak yang Belum Sekolah
Ketika membicarakan program untuk anak sekolah, kita juga jangan sampai lupa bahwa pencegahan stunting dimulai jauh sebelum anak masuk sekolah.
Masa kehamilan, menyusui, pemberian MPASI, pencegahan infeksi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan pada masa awal kehidupan sangat penting.
Seribu hari pertama kehidupan adalah periode yang sangat menentukan.
Di lapangan, saya melihat bahwa ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan yang cukup berat, memperbaikinya tidak selalu mudah. Karena itu, prinsip yang lebih baik adalah mencegah sedini mungkin daripada memperbaiki ketika masalah sudah menjadi besar.
Rumah sakit pun mempunyai peran dalam hal ini. Bukan hanya mengobati anak yang sudah sakit, tetapi juga membantu deteksi dini, memberikan edukasi, menangani masalah gizi, dan membangun jejaring dengan fasilitas kesehatan primer.
Mulai dari Meja Makan di Rumah
Tetapi pada akhirnya, upaya memperbaiki gizi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah, rumah sakit, atau tenaga kesehatan.
Ada satu tempat yang setiap hari paling dekat dengan anak: meja makan di rumah. Orang tua tidak harus menunggu adanya program besar untuk mulai memperbaiki pola makan anak.
Tidak harus selalu dengan menu mahal atau makanan yang rumit. Yang penting adalah memastikan makanan anak cukup, beragam, aman, dan memiliki sumber protein yang baik sesuai usia dan kebutuhannya.
Mulailah dengan hal-hal sederhana.
Biasakan anak mengenal telur, ikan, ayam, daging, sayur dan buah. Perhatikan apakah makanan yang diberikan benar-benar dimakan, bukan hanya disediakan. Pantau berat badan dan tinggi badan secara berkala. Jangan menunggu sampai anak terlihat sangat kurus atau pendek baru kemudian mencari bantuan.
Jika berat badan anak tidak bertambah, anak mengalami kesulitan makan berkepanjangan, sering sakit, atau orang tua merasa ada sesuatu yang tidak sesuai dalam pertumbuhan dan perkembangannya, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Meja makan juga merupakan tempat belajar.
Makan bersama anak, mengurangi penggunaan gawai saat makan, memberikan contoh memilih makanan yang sehat, dan tidak menjadikan makanan sebagai sesuatu yang menakutkan atau penuh paksaan adalah bagian dari membangun kebiasaan.
Karena itu, setiap kali orang tua melihat sepiring makanan anak, mungkin ada baiknya tidak hanya bertanya:
“Sudah habis belum?”
Tetapi juga:
“Apa yang dimakan?”
“Apakah cukup bergizi?”
“Apakah anak menikmatinya?”
“Apakah pertumbuhannya sesuai?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Kebiasaan baik apa yang sedang saya tanamkan kepada anak hari ini?”
Tidak perlu menunggu sampai ada masalah. Mulailah dari satu perubahan kecil di meja makan hari ini.
Karena kebiasaan makan yang baik, jika dilakukan terus-menerus, dapat menjadi bekal besar bagi pertumbuhan, kesehatan, dan masa depan anak.
Alon-alon Waton Kelakon
Ada ungkapan Jawa lain yang juga saya suka: “alon-alon waton kelakon.”
Dalam konteks kesehatan anak, saya memaknainya bukan sebagai ajakan untuk berjalan lambat, tetapi sebagai pengingat bahwa sesuatu yang baik membutuhkan proses dan konsistensi.
Pertumbuhan anak tidak dibentuk dalam sehari.
Begitu pula imunitas, kebiasaan makan, kemampuan belajar, dan perkembangan anak. Semuanya merupakan hasil dari berbagai hal kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya hari ini. Tetapi apa yang diberikan kepada anak hari ini dapat memengaruhi kondisi tubuhnya bertahun-tahun kemudian.
Seperti orang Jawa mengatakan “nandur”—menanam.
Kita menanam hari ini, tetapi hasilnya mungkin baru bisa dinikmati beberapa tahun kemudian.
Sepiring Makanan adalah Investasi
Karena itu, saya melihat MBG bukan hanya sebagai program menyediakan makanan. Ini adalah kesempatan untuk membangun budaya makan yang lebih baik pada anak-anak Indonesia. Tetapi kesempatan besar juga membutuhkan evaluasi yang serius.
Kita perlu terus bertanya: apakah menu yang diberikan memang memenuhi kebutuhan gizi? Apakah anak menyukainya? Berapa banyak yang benar-benar dimakan? Berapa banyak yang tersisa? Apakah aman? Apakah anak belajar sesuatu dari makanan tersebut? Dan yang paling penting, apakah dalam jangka panjang program ini ikut memperbaiki kesehatan dan pertumbuhan anak?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap program. Justru sebaliknya, menurut saya, evaluasi adalah cara agar sebuah program besar menjadi semakin baik dan benar-benar memberikan manfaat.
Pada akhirnya, ketika seorang dokter melihat sepiring makanan anak, yang terlihat bukan hanya makanan.
Di sana ada pertumbuhan.
Ada imunitas.
Ada perkembangan otak.
Ada kebiasaan yang sedang dibentuk.
Ada harapan orang tua.
Dan ada investasi bangsa untuk masa depan.
Maka mungkin sudah waktunya kita melihat makanan anak dengan cara yang sedikit berbeda. Bukan hanya bertanya apakah anak sudah makan.
Tetapi apakah makanan yang dimakannya cukup untuk membuatnya tumbuh, sehat, belajar, dan berkembang sebaik mungkin.
Sebab, mangan ora mung wareg.
Kita makan untuk hidup, tetapi hidup juga harus membawa manfaat. Dan untuk anak-anak kita, sepiring makanan hari ini semestinya menjadi bekal untuk kehidupan mereka esok.
