Konten dari Pengguna

Apa Benar Emosi Berlebih Dapat Menyebabkan Stres? Begini Cara Mengatasinya

Reni Fatmawati

Reni Fatmawati

Saya adalah Mahasiswi Aktif UPN Veteran Jakarta Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dikenal sebagai pekerja keras, disiplin, dan dapat bekerja dalam tim.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reni Fatmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pelaku Stres. Sumber: https://pixabay.com/illustrations/stress-pressure-anxiety-angst-1837384/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pelaku Stres. Sumber: https://pixabay.com/illustrations/stress-pressure-anxiety-angst-1837384/

Pernahkah Anda merasa sedih atau kesepian dalam jangka waktu yang berlebihan atau bahkan suasana hati yang sering mengalami perubahan secara tidak teratur? Berhati-hatilah, ternyata itu berarti tandanya stres.

Perkembangan psikologis dikaitkan dengan emosi remaja dan sering ditandai dengan ketidakstabilan mental dan kebingungan. Dalam sebuah penelitian tahun 1984, Mihalyi dan Reed Larson menunjukkan bahwa remaja hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk mengubah suasana hati mereka dari yang tadinya “sangat senang” berubah “sangat sedih” sedangkan orang dewasa membutuhkan waktu beberapa jam untuk memulihkannya.

Stres adalah respons seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/spiritual) terhadap suatu perubahan lingkungan yang menuntut seseorang untuk beradaptasi. Menurut saya stres merupakan tekanan psikologis dan fisik, dalam menanggapi situasi yang dianggap berbahaya. Dengan istilah lain stres merupakan cara tubuh Anda merespons segala jenis kebutuhan, ancaman, atau tekanan akibat perubahan fisik yang cepat dan meluas.

Sebuah uji baru-baru ini oleh American Psychological Association (APA) menemukan bahwa remaja saat ini lebih rentan terhadap stres karena perilaku dan gaya hidup orang dewasa. Masa remaja adalah periode perkembangan di mana masalah pertumbuhan dan perkembangan seperti emosi dan pola pikir yang umumnya. Perkembangan dan pertumbuhan ini berkaitan dengan adaptasi remaja terhadap tuntutan keluarga, sosial, dan lingkungan.

Faktor Penyebab Stres

Banyak penyebab yang dialami oleh seseorang akibat stres salah satunya pada remaja yang sedang kuliah, dan kerja. Akan tetapi, tidak hanya pada remaja saja hampir semua orang yang memiliki masalah mengalaminya. Berikut ini faktor penyebab stres:

• Terlalu banyak tekanan

• Khawatir tentang sesuatu

• Sedikit atau tidak ada kendali atas situasi

• Kewajiban dianggap sangat sulit

• Larangan bekerja, dan beraktivitas

Tanda Emosional Yang Muncul Akibat Stres

Stres terbagi dalam stres akut dan kronis. Stres akut memiliki jangka yang pendek dan mudah ditangani. Stres kronis disisi lain berlangsung lebih lama dan menyebabkan masalah kesehatan jika tidak ditangani. Berikut tanda emosional yang muncul akibat stres:

1. Gangguan Mental / Depresi

Gangguan mental / depresi merupakan emosional yang ada pada diri sendiri dan berada dalam suasana hati yang buruk untuk waktu yang lama. Sebuah penelitian terhadap 800 responden wanita yang diterbitkan dalam depresi pada Agustus 2009 menunjukkan hubungan antara berbagai jenis stres dan depresi berat individu. Selama penelitian, para peneliti mengukur bahwa peristiwa stres berkontribusi pada memburuknya gangguan depresi pada wanita.

2. Kecemasan

Kecemasan tentunya berbeda dengan depresi, kecemasan ini ditandai dengan perasaan khawatir yang berlebihan.

3. Gampang Marah

Karakteristik orang-orang yang marah secara emosional ditandai dengan stres. Sebuah uji Januari 2015 yang diterbitkan dalam American Heart Journal menunjukkan bahwa peningkatan kepekaan terhadap kemarahan terkait erat dengan stres psikologis.

4. Gairah Seks Rendah

Stres yang berlebihan berdampak negatif pada libido dan keintiman romantis. Sebuah uji berjudul "Stres Sosial Kronis di Usia Pubertas, Perilaku Seksual Pria Bernafsu dan Aktivitas Metabolik Saraf " yang diterbitkan dalam jurnal Hormones and Behavior, menemukan bahwa hormon steroid yang dihasilkan stres dikaitkan dengan penurunan gairah seksual pada pria.

5. Gangguan Ingatan / Kesulitan berkonsentrasi

Jika Anda merasa memiliki masalah dengan konsentrasi, maka Anda mungkin menderita stres. Para peneliti menemukan bahwa jalur respons stres di otak mempengaruhi kinerja memori jangka panjang.

6. Perilaku Kompulsif

Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan secara spontan, seringkali dilakukan tanpa berpikir sebelumnya. Misalnya, tindakan pecandu narkoba seringkali tidak tertahankan dan harus dilakukan. Uji psikologis menunjukkan bahwa hormon stres di otak memainkan peran utama dalam pengembangan perilaku adiktif. Stres kronis dapat mengubah sifat fisik otak, mendorong perilaku kebiasaan dan kecanduan.

7. Perubahan Suasana Hati

Perubahan suasana hati merupakan reaksi emosional, salah satu gejalanya adalah perubahan suasana hati yang mudah berubah. Sebuah peneliti menunjukkan bahwa stressor sosial memiliki dampak signifikan pada kesehatan emosional dan suasana hati seseorang.

Cara Mengatasi

Stres dapat diatasi secara mandiri. Namun, manajemen stres bukan bertujuan untuk menghilangkan stres sepenuhnya. Akan tetapi, hanya mengelola agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu. Manajemen stres yang dapat dilakukan, yaitu:

• Identifikasi Penyebab Stres

Cara ini dilakukan dengan mencari tahu apa yang memicu stres, cari pemecahan masalahnya. Jika penyebab sudah diketahui langkah selanjutnya adalah mengatasi masalah tersebut, kemudian susunlah rencana untuk mengatasi masalah tersebut mulai dari rencana yang mudah diselesaikan.

• Konsultasi Dengan Dokter

Jika Anda tidak dapat mengidentifikasi dan menemukan jalan keluar, konsultasi dengan dokter diperlukan. Dokter dapat menyarankan terapi perilaku kognitif atau terapi Emotional Freedom Technique (EFT). Dokter juga dapat meresepkan obat jika stres menunjukkan gejala medis.

Stres dapat juga dicegah dengan menjalani pola hidup yang sehat. Cara yang bisa dilakukan adalah:

  1. Istirahat yang cukup.

  2. Lakukan sesuatu yang positif diwaktu luang Anda, seperti membaca buku, menikmati secangkir teh hangat, mendengarkan musik favorit Anda, atau menonton film yang membangkitkan semangat.

  3. Mengonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan seimbang.

  4. Berolahraga secara teratur minimal 30 menit sehari.

  5. Bergaul dengan orang-orang yang menyenangkan dan positif.

Penegasan Ulang

Dari beberapa pernyataan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa emosi adalah bagian terpenting dari kehidupan kita sehari-hari. Ada orang yang pandai dalam menggunakan emosinya, namun ada juga yang kurang pandai dalam mengekspresikan emosinya. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan kemampuan ini untuk meminim terjadinya hal tersebut.

Kita tidak selalu dapat mengontrol emosi kita sendiri, tetapi setidaknya Anda dapat merespons emosi tersebut dengan baik dan menghindari konsekuensinya. Untuk mengelola stres dan emosi secara berlebihan tentunya kita harus mengubah pola hidup sehat yang lebih baik, pola hidup yang baik adalah dambaan setiap orang bukan? maka mulailah dengan kebiasaan yang baik dengan mengelola stres dan emosi dengan cara yang lebih tersusun rapi.