Artificial Intelligence Akan Menggantikan Developer?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komputer, Program Studi Teknik Informatika.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Renitta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI Tidak Akan Menggantikan Developer, Tapi Menggantikan Mereka yang Menolaknya
Belakangan ini, linimasa media sosial dan berita teknologi sering kali dipenuhi oleh satu topik yang cukup menegangkan: “Apakah profesi anak IT atau programmer bakal punah digeser AI?”
Saya awalnya ikut terpengaruh oleh rasa cemas itu. Apalagi ketika melihat demo kecanggihan Artificial Intelligence seperti ChatGPT atau GitHub Copilot yang bisa membuatkan baris-baris kode aplikasi hanya dalam hitungan detik.
Rasanya wajar kalau banyak orang tua bingung saat anaknya mau masuk jurusan ilmu komputer, atau para mahasiswa IT yang mulai cemas memikirkan nasib masa depan karier mereka.
Namun, kalau kita coba perhatikan fenomena ini dengan lebih tenang, benarkah teknologi ini hadir untuk menghapus profesi manusia?
Salah Paham Antara 'Ketik Kode' dan 'Membuat Aplikasi'
Setelah membaca berbagai pembahasan dan berdiskusi dengan beberapa teman yang paham teknologi, saya baru menyadari ada satu salah paham yang sering terjadi di masyarakat kita. Banyak orang mengira tugas seorang developer itu cuma duduk diam dan mengetik kode program (coding).
Padahal, mengetik kode itu cuma sebagian kecil dari proses pembuatan sebuah aplikasi.
Bagi orang awam seperti kita, mungkin terasa ajaib saat AI bisa menjawab pertanyaan teknis dengan cepat. Tapi ada hal-hal mendasar yang sampai kapan pun rasanya sulit digantikan oleh mesin:
Memahami Kebutuhan Manusia: AI tidak tahu kalau pemilik bisnis bingung menentukan fitur apa yang disukai pembeli.
Pengambilan Keputusan: AI tidak punya perasaan atau pertimbangan etis untuk menentukan sistem mana yang aman dan hemat biaya.
Komunikasi dan Diskusi: Membangun teknologi itu butuh kerja tim, negosiasi, dan empati antar sesama manusia.
AI memang jago menghafal dan meniru data yang sudah ada di internet. Tapi untuk memahami masalah nyata di dunia sehari-hari, tetap butuh pikiran dan perasaan manusia.
Belajar dari Sejarah Teknologi
Jika kita ingat-ingat kembali sejarah, ketakutan seperti ini sebenarnya bukan hal baru.
Dulu, ketika kalkulator pertama kali ditemukan, banyak orang mengira profesi akuntan akan hilang. Begitu juga saat komputer pertama kali masuk ke perkantoran, ada ketakutan bahwa semua pegawai kantor akan di-PHK.
Namun kenyataannya, keberadaan alat-alat canggih tersebut justru membantu manusia bekerja jauh lebih cepat. Pekerjaan manusia tidak hilang, melainkan naik kelas.
Hal yang sama sepertinya sedang terjadi pada dunia kecerdasan buatan saat ini. Para pekerja IT tidak sedang dimusnahkan, melainkan dibantu agar tidak perlu membuang waktu mengerjakan hal-hal dasar yang membosankan.
Tantangan Sebenarnya Adalah Kemauan Beradaptasi
Lantas, siapa yang sebenarnya paling terancam oleh kehadiran AI?
Menurut saya, yang paling terancam adalah mereka yang menolak untuk belajar dan beradaptasi. Siapa pun yang menutup mata dari perkembangan teknologi dan bertahan dengan cara-cara lama, pelan-pelan pasti akan tertinggal.
Di masa depan, perusahaan tentu akan lebih memilih orang yang mau memanfaatkan kecanggihan Artificial Intelligence untuk mempermudah pekerjaannya, dibanding mereka yang enggan menyentuh teknologi baru sama sekali.
Ada sebuah kalimat menarik di dunia digital yang terasa sangat masuk akal: “AI tidak akan menggantikan manusia. Tapi manusia yang belajar menggunakan AI yang akan menggantikan mereka yang menolaknya.”
Pada akhirnya, Artificial Intelligence hanyalah sebuah alat bantu buatan manusia. Sehebat apa pun teknologi diciptakan, penentu utamanya tetaplah kontrol dan kreativitas manusia di belakangnya.
Daripada terus-menerus memelihara rasa takut akan masa depan, hal terbaik yang bisa kita lakukan, apa pun profesinya adalah mau terus belajar dan membuka diri terhadap perubahan zaman.
