Konten dari Pengguna

Apa yang Membuat Seseorang Tertarik pada Ideologi Ekstrem?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Renny Rosa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat sering melihat orang yang tertarik pada ideologi ekstrem sebagai orang yang "bermasalah." Mereka dianggap cara pikirnya salah, mudah terpengaruh, atau sejak awal sudah memiliki kecenderungan kekerasan. Pandangan seperti ini membuat ekstremisme seolah olah hanya urusan pribadi tentang bagaimana dia berpikir, apa yang dia percaya, dan keputusan apa yang dia ambil.

Padahal, seseorang tidak pernah tumbuh dalam ruang kosong. Cara kita memahami diri sendiri, percaya pada siapa, dan melihat dunia terbentuk dari hubungan sosial yang kita jalani. Keluarga, teman, sekolah, komunitas, tempat kerja, sampai dunia maya semuanya ikut membentuk siapa kita dan bagaimana kita memaknai pengalaman hidup. Karena itu, pertanyaan tentang ekstremisme tidak cukup berhenti pada mengapa seseorang memiliki pemikiran ekstrem? Kita juga perlu bertanya, dalam kondisi sosial seperti apa pemikiran itu terasa masuk akal?.

Pertanyaan ini penting karena manusia tidak hanya butuh makan dan tempat tinggal. Kita juga butuh diakui, butuh identitas, butuh rasa memiliki, dan butuh merasa keberadaan kita berarti. Dalam kehidupan sehari hari, kebutuhan itu biasanya diperoleh dari keluarga, pertemanan, komunitas, sekolah, pekerjaan, atau hubungan sosial lain. Dari situlah kita memiliki tempat untuk mengenali diri sendiri dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Masalah muncul ketika seseorang tidak menemukan ruang seperti itu. Merasa terasing, tidak diterima, tidak punya arah, atau tidak menemukan kelompok yang membuatnya dipahami hal hal ini dapat mendorongnya mencari lingkungan lain. Namun perlu digarisbawahi: rasa terasing tidak otomatis membuat seseorang menjadi ekstrem. Kebanyakan orang yang kesepian, merasa diperlakukan tidak adil, atau kehilangan arah juga tidak menjadi ekstremis. Kondisi ini lebih tepat dilihat sebagai salah satu konteks yang membuat seseorang lebih terbuka terhadap kelompok atau narasi tertentu.

Di titik inilah ideologi ekstrem dapat masuk.

Ideologi ekstrem tidak selalu datang dalam bentuk ajakan kekerasan sejak awal. Ia bisa datang melalui narasi yang menawarkan jawaban sederhana untuk persoalan yang rumit. Dunia dibagi tegas antara kita dan mereka. Ada pihak yang dianggap benar dan pihak lain yang dianggap sumber masalah. Bagi seseorang yang sedang mencari identitas atau tempat untuk diterima, narasi seperti ini dapat memberikan sesuatu yang sebelumnya sulit ditemukan misalnya kepastian, identitas, solidaritas, dan juga tujuan.

Jadi, yang membuat ideologi itu menarik bukan hanya isinya, tetapi juga apa yang ditawarkannya kepada individu. Hal ini terlihat dalam berbagai proses radikalisasi. Marc Sageman, misalnya, menemukan bahwa hubungan sosial dan jaringan pertemanan memiliki peran penting dalam bagaimana seseorang bergerak menuju ekstremisme.

Seseorang tidak selalu melalui proses itu sendirian, namun relasi dengan orang lain dapat menjadi ruang tempat gagasan, identitas, dan loyalitas kelompok berkembang. Sementara itu, Randy Borum menjelaskan bagaimana seseorang secara bertahap membangun pemaknaan terhadap suatu kondisi sebagai masalah, menunjuk siapa yang dianggap bertanggung jawab, hingga akhirnya menerima gagasan ekstrem sebagai jawaban.

Dari sini, radikalisasi lebih tepat dipahami sebagai proses, bukan perubahan instan. Seseorang tidak tiba-tiba bangun pagi lalu memutuskan menjadi ekstremis. Ada proses pembentukan makna, interaksi dengan lingkungan, pencarian identitas, dan perjumpaan dengan narasi tertentu yang dapat berlangsung lama.

Perkembangan teknologi digital membuat proses ini semakin rumit. Orang yang merasa terasing tidak hanya bisa mencari komunitas di lingkungan fisik. Ia dapat menemukannya melalui internet. Dunia maya memungkinkan seseorang bertemu dengan orang-orang yang memiliki keresahan, pandangan, atau identitas serupa, meskipun mereka tidak pernah bertemu langsung.

Di satu sisi, ini tidak selalu buruk. Internet juga dapat membantu seseorang menemukan komunitas yang sehat, mendapatkan dukungan, dan mengakses informasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun ruang yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan propaganda dan membangun komunitas berbasis kebencian. Ketika seseorang terus menerus berinteraksi dengan narasi yang menguatkan pandangan tertentu, ruang digital dapat menjadi bagian dari proses pembentukan identitas dan cara pandang terhadap kelompok lain.

Karena itu, istilah seperti algoritma kebencian perlu dipahami dengan hati-hati. Algoritma bukan satu satunya penyebab seseorang menjadi ekstrem. Yang lebih penting adalah interaksi antara teknologi dan kondisi sosial individu. Orang yang sama dapat menggunakan media sosial untuk tujuan yang sangat berbeda, tergantung pada lingkungan, pengalaman, hubungan sosial, dan kebutuhan yang sedang ia miliki.

Kasus-kasus ekstrimisme di Indonesia dapat dilihat dari kerangka ini. Berbagai kasus menunjukkan bahwa individu yang terlibat ekstremisme memiliki latar belakang yang beragam. Ini penting karena menunjukkan tidak ada satu profil tunggal tentang siapa yang bisa menjadi ekstremis. Kita tidak bisa menyederhanakannya menjadi soal pendidikan rendah, kemiskinan, kesepian, atau kondisi keluarga tertentu.

sumber pribadi

Justru keberagaman ini menunjukkan bahwa ekstremisme perlu dipahami sebagai hasil pertemuan berbagai faktor. Kondisi sosial tertentu mungkin menciptakan kerentanan, tetapi proses selanjutnya tetap dipengaruhi oleh pengalaman individu, jaringan sosial, ideologi yang ditemui, dan bagaimana ia memaknai hidupnya.

Pada akhirnya, memahami ekstremisme sebagai proses sosial bukan berarti membenarkan kekerasan atau menghilangkan tanggung jawab individu. Tindakan kekerasan tetap merupakan pilihan yang memiliki konsekuensi dan tidak dapat dibenarkan. Namun memahami bagaimana seseorang sampai pada titik itu menjadi penting jika tujuan kita bukan hanya menghukum setelah kejadian, tetapi juga mencegah proses tersebut berkembang.

Jika persoalan ekstremisme sebagian berkaitan dengan kebutuhan manusia akan identitas, pengakuan, komunitas, dan makna, maka pencegahannya juga tidak cukup hanya melalui penindakan. Masyarakat perlu menyediakan ruang yang memungkinkan seseorang menemukan kebutuhan itu melalui cara yang sehat, keluarga yang terbuka, lingkungan pendidikan yang suportif, komunitas yang inklusif, ruang diskusi yang aman, serta lingkungan digital yang tidak membuat seseorang semakin terisolasi.

Jadi, apa yang membuat seseorang tertarik pada ideologi ekstrem? Bukan karena ia bodoh, bukan pula karena ia gila. Ia tertarik karena, dalam keterasingannya, ideologi itu menawarkan sesuatu yang selama ini hilang. Kepastian di tengah kebingungan, identitas di tengah kaburnya jati diri, solidaritas di tengah kesepian, dan tujuan di tengah hampa. Ia tertarik bukan karena ajakan kekerasan, tetapi karena narasi yang membesarkan perannya, yang membuatnya merasa terlihat, berarti, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Dan selama masyarakat masih enggan melihat kebutuhan-kebutuhan dasar manusiawi ini selama kita masih sibuk menghakimi tanpa mau memahami ideologi ekstrem akan selalu menemukan ruang untuk tumbuh. Pencegahan yang sesungguhnya bukanlah hanya menangkap dan menghukum, tetapi menciptakan kembali ruang-ruang sosial yang hilang, agar setiap orang di mana pun ia berada, tidak perlu mencari rumah di tempat yang kelam.