Konten dari Pengguna

Film Horor dalam Perspektif Noël Carroll

Reno Afriano

Reno Afriano

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reno Afriano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang populer pada era saat ini. Hal tersebut terjadi karena film terus mengalami perkembangan yang signifikan sejak awal kemunculannya. Dilihat dari tujuan awalnya, film dibuat untuk mendokumentasikan peristiwa penting seperti halnya fotografi. Namun, jika dilihat dari kondisi sekarang, film memiliki tujuan yang beragam terutama sebagai hiburan.

Suatu film yang dijadikan sebagai hiburan tentunya memiliki alur atau jalan cerita didalamnya. Kemunculan mengenai hal tersebut juga menghadirkan sesuatu yang bernama genre film. Genre dari film saat ini sangat beragam contohnya dokumenter, romantis, fiksional, drama, dan horor. Beragam genre tersebut menunjukan keberhasilan film menjadi media hiburan.

Dalam tulisan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai salah satu genre dari film sebagai hiburan, yakni horor. Namun, genre horor tersebut akan dibahas dalam perspektif Noël Carroll seorang filsuf Amerika yang terkenal dalam bidang filsafat film.

Definisi dan Bentuk Film Horor Menurut Noël Carroll

Ilustrasi film horor (sumber: wallpapersite.com)

Horor dapat dikatakan sebagai suatu genre dalam film yang menyajikan ketakutan dan kengerian sebagai menunya. Definisi tersebut tidak salah, namun apabila ditinjau oleh perspektif Noël Carroll dalam bukunya "Philosophy of Horror: Paradoxes of the Heart" (1990) definisi dan bentuk horor dapat dibagi menjadi dua, yakni art-horror dan horror. Bentuk Art-horror didefinisikan sebagai semua jenis fiksi yang menampilkan unsur supernatural dalam narasinya, juga termasuk horor psikologis dan fiksi ilmiah. Sedangkan, bentuk horror didefinisikan sebagai film-film yang menampilkan hal seperti hantu, monster, sesuatu yang aneh dan mengkagetkan, dan suasana alam kematian.

Perumusan film horor ke dalam dua bentuk tersebut pada perkembangannya tidak memuaskan karena dinamika cerita horor dari tahun ke tahun semakin kompleks. Hal itu menyebabkan pula terjadinya perubahan pada definisi horor seiring perkembangan zaman.

Mengapa Masyarakat Suka Film Horor?

Ilustrasi orang menonton film horor (sumber: wexnermedical.osu.edu)

Pada bagian empat dalam buku yang sama"Philosophy of Horror: Paradoxes of the Heart" (1990) terdapat suatu pertanyaan filosofis yang menarik tentang horor: Mengapa penggemar genre ini suka takut? Mengapa ada orang yang menyukai horor?. Noël Carroll menanggap dan menolak beberapa teori lain seperti teori horor supernatural Lovecraft sebagai pengalaman kuasi-religius atau berbagai penjelasan psikoanalitik. Teorinya sendiri lebih kompleks untuk dijelaskan dalam tulisan disini. Akan tetapi, ide dasarnya adalah bahwa karena sifat monster, kiasan horor yang melampaui realitas dan pencampuran kategori, serta investigasi dan penemuan dari banyak struktur horor dapat membangkitkan imajinasi dan keingintahuan penontonnya. Sebuah pengalaman yang diperkuat oleh emosi seni-horor. Noël Carroll juga mengakhiri dengan diskusi menarik tentang horor dan ideologi (apakah horor secara fundamental politik dan sosial konservatif seperti yang dikatakan beberapa orang?).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa film saat ini memiliki banyak tujuan dan yang populer saat ini adalah sebagai hiburan. Sebagai bentuk dari kepopuleran film saat ini adalah genre yang beragam, salah satunya genre horor. Genre horor ternyata memiliki dua bentuk apabila ditinjau dalam perspektif Noël Carrol, yaitu art-horror dan horror. Di sisi lain, mengenai alasan orang menyukai film horor disebabkan oleh unsur-unsurnya yang dapat membangkitkan imajinasi dan keingintahuan penontonnya.

Referensi:

Carroll, Noel (1990), The Philosophy of Horror or Paradoxes of the Heart. New York: Routledge.