Konten dari Pengguna

Di Balik Kuas & Dinding: Kisah Mas Eddie Menghidupkan Kampung Warna-Warni Malang

reno pratama

reno pratama

Mahasiswa Universitas Brawijata

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari reno pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mural bergambar topeng karya Mas Eddie
zoom-in-whitePerbesar
Mural bergambar topeng karya Mas Eddie

Langkah kaki menyusuri gang-gang sempit di Kampung Warna-Warni Kota Malang seakan membawa pengunjung masuk ke ruang penuh imajinasi. Di satu sudut, seekor singa dengan surai berwarna-warni berdiri gagah di atas tembok hitam pekat. Tak jauh dari sana, topeng merah khas budaya lokal menatap tajam, sementara sosok bergaya etnik dengan sapuan warna kontras memperlihatkan sisi artistik yang lebih mendalam. Di balik mural-mural itu, ada satu nama yang menjadi bagian penting dari lahirnya wajah baru kampung ini: Mas Eddie.

Bagi sebagian orang, mural-mural di kampung ini mungkin hanya menjadi latar swafoto atau spot wisata yang menarik. Namun bagi Mas Eddie, setiap goresan cat di dinding memiliki cerita yang jauh lebih besar. Ia tidak sekadar menggambar, tetapi juga ingin mengubah cara masyarakat memandang ruang tempat mereka tinggal.

Semua bermula pada tahun 2016, ketika kawasan kampung di bantaran Sungai Brantas mulai dicat warna-warni sebagai bagian dari penataan lingkungan. Saat banyak orang melihat perubahan itu sebagai akhir dari proses mempercantik kampung, Mas Eddie justru melihatnya sebagai awal.

“Waktu itu kampung sudah dicat warna-warni, tapi menurut saya masih kurang menarik. Jadi saya berpikir, kenapa tidak ditambahkan gambar-gambar mural supaya lebih hidup,” ujarnya.

Sebagai seorang seniman yang telah menekuni mural sejak 2014, Mas Eddie memang tidak asing dengan tembok-tembok kosong. Pengalaman bekerja di Bali dan kebiasaan belajar secara otodidak dari hobi menggambar membentuk gaya visualnya yang khas: berani, ekspresif, dan penuh permainan warna. Namun bagi Mas Eddie, mural bukan hanya soal estetika. Ada misi sosial yang ia bawa. Saat itu, konsep gambar tiga dimensi atau visual interaktif hanya bisa dinikmati di tempat wisata berbayar. Ia ingin pengalaman serupa hadir lebih dekat dan dapat diakses oleh siapa saja.

“Saya ingin masyarakat yang mungkin tidak mampu datang ke tempat wisata mahal tetap bisa menikmati pengalaman visual seperti itu,” katanya.

Mural pertama yang ia buat adalah gambar hiu di area bawah kampung, dekat bekas pendopo. Tempat itu dulunya gelap dan terkesan menyeramkan saat sore atau malam hari. Lewat mural tersebut, Mas Eddie hanya ingin membuat lingkungan terlihat lebih rapi dan menarik. Ia mengaku tak pernah menyangka bahwa langkah kecil itu akan menjadi awal perubahan besar.

“Saya nggak pernah kepikiran ini bakal jadi tempat wisata. Awalnya cuma ingin kampung ini terlihat lebih hidup,” ujarnya.

Mural bergambar ikan karya Mas Eddie

Seiring waktu, mural-mural di Kampung Warna-Warni berkembang menjadi lebih dari sekadar gambar pelengkap. Setiap sudut kampung mulai dipenuhi karya dengan karakter yang berbeda-beda, mulai dari visual penuh warna, unsur budaya lokal, hingga gambar-gambar ekspresif yang memancing perhatian pengunjung. Di balik keberagaman itu, Mas Eddie melihat dinding-dinding kampung sebagai ruang hidup yang bisa bercerita tentang identitas, kreativitas, dan keseharian warganya.

Perjalanan membangun wajah baru Kampung Warna-Warni tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada awal pengerjaan, beberapa warga sempat merasa belum dilibatkan atau rumah mereka belum mendapat sentuhan mural. Namun seiring kampung mulai dikenal luas dan menarik banyak pengunjung, pandangan itu perlahan berubah. Warga mulai merasakan bahwa warna dan mural yang memenuhi dinding rumah mereka bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menghadirkan kebanggaan baru bagi kampung yang dulu dipandang biasa saja.

Hingga sebelum pandemi COVID-19, ratusan mural telah menghiasi kawasan Kampung Warna-Warni dan sekitarnya, termasuk area Kampung 3D yang menjadi bagian dari pengembangan visual tersebut. Sebagian besar dikerjakan bersama warga, sementara beberapa lainnya lahir dari diskusi dengan pemilik rumah yang ikut menyumbangkan ide. Dari proses itu, tembok-tembok kampung berubah menjadi ruang kolaborasi tempat seni, masyarakat, dan harapan bertemu dalam satu warna.

Kini, meski masih aktif menerima proyek mural untuk hotel, kafe, dan tempat wisata lainnya, Kampung Warna-Warni tetap menjadi salah satu karya yang paling membekas bagi Mas Eddie. Di tempat itulah ia membuktikan bahwa seni bisa hadir di tengah kehidupan sehari-hari, mengubah gang sempit menjadi ruang ekspresi, dan menghidupkan kampung yang dulu biasa saja menjadi ikon wisata Kota Malang.

Di setiap warna yang menempel pada tembok-tembok kampung itu, tersimpan jejak tangan, gagasan, dan harapan seorang seniman. Bukan hanya untuk memperindah ruang, tetapi untuk membuat orang melihat bahwa sebuah kampung kecil pun bisa punya cerita besar.