Konten dari Pengguna

Transformasi Digital dan Pengembangan Kompetensi SDM

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Resa Sri Distiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama: Resa Sri Distiani | NIM: 231010503880 Dosen Pengampu: Dr. Henni Marlinah S.Fil.I., M.M., M.Ag.

Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI

Teknologi boleh berubah cepat, tetapi satu pertanyaan tetap penting: siapkah manusia yang menggunakannya? Transformasi digital bukan sekadar soal menghadirkan aplikasi, kecerdasan buatan (AI), analisis data, atau sistem kerja baru. Di balik semua itu ada SDM yang harus belajar, beradaptasi, dan terus mengembangkan kemampuan agar mampu menghadapi perubahan dunia kerja.

Transformasi digital membuat cara organisasi bekerja ikut berubah. Kompetensi yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan beberapa tahun ke depan. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi terbaru. Karyawan juga perlu diberi ruang untuk belajar agar perubahan tersebut benar-benar bisa digunakan dalam pekerjaan. Dalam materi perkuliahan, pelatihan dijelaskan sebagai salah satu fasilitas untuk meningkatkan kemampuan SDM agar mampu mengikuti perkembangan zaman. (Modul Perkuliahan, t.t.)

Gambaran tersebut dapat dilihat dari pelatihan vokasi digital “BISA (Belajar dan Implementasi Skill Adaptif) Bareng TikTok” yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan bersama TikTok Indonesia pada 15 April 2026 di Jakarta. Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida dan diikuti 400 peserta secara luring serta sekitar 1.000 peserta secara daring. Program tersebut menjadi contoh kerja sama pemerintah dan industri untuk meningkatkan kompetensi digital, termasuk melalui pengembangan pelatihan, kurikulum, sarana prasarana, dan kapasitas instruktur. (ANTARA, 2026)

Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan hanya persoalan teknologi. Ada sisi manusia yang tidak kalah penting. Perencanaan SDM perlu memperhatikan perubahanteknologi karena kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi dapat ikut berubah seiring perkembangan teknologi. (Prabowo dkk., 2023)

Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi dalam Transformasi Digital

Kalau teknologi terus berubah, apakah pelatihan cukup dilakukan sekali? Menurut materi perkuliahan, jawabannya tidak. Pelatihan bukan hanya untuk karyawan baru. Karyawan yang sudah lama bekerja pun tetap membutuhkan pembaruan pengetahuan karena ilmu, sistem, dan kebutuhan organisasi terus berkembang. Dalam jangka pendek, pelatihan membantu karyawan menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai pekerjaannya. (Modul Perkuliahan, t.t.)

Pelatihan berbasis kompetensi menjadi semakin relevan ketika pekerjaan semakin banyak menggunakan teknologi. Ekantiningsih dan Sukirman (2023) menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi teknologi informasi dan komunikasi dalam menghadapi era Industri 4.0. Pelatihan SDM perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi agar karyawan tidak hanya memahami tugasnya, tetapi juga mampu mengikuti perubahan cara kerja. Pengembangan kompetensi menjadi semakin penting ketika teknologi digital mulai digunakan dalam berbagai aktivitas pekerjaan.

Namun, keterampilan yang dibutuhkan tidak hanya keterampilan teknis. Perkembangan AI dan otomatisasi juga membuat kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah menjadi penting. Ifitri dkk. (2024) membahas pentingnya peningkatan keterampilan teknis dan soft skills agar karyawan mampu beradaptasi dengan teknologi baru.

Dari Pelatihan Menuju Pengembangan SDM

Pelatihan dapat menjadi pintu masuk, tetapi pengembangan SDM tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pengembangan memiliki orientasi yang lebih panjang dan dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral pegawai sesuai kebutuhan pekerjaan. (Modul Perkuliahan, t.t.)

Di sinilah upskilling dan reskilling menjadi penting. Karyawan dapat belajar melalui pendampingan, praktik kerja, rotasi, maupun evaluasi. Materi perkuliahan juga menjelaskan bahwa pelatihan dapat dilakukan melalui on the job training maupun off the job training. Tujuannya sama, yaitu membantu karyawan meningkatkan keahlian dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pekerjaan. (Modul Perkuliahan, t.t.)

Jika dilakukan secara berkelanjutan, organisasi tidak harus menunggu sampai teknologi baru diterapkan untuk mulai menyiapkan karyawannya. Kesiapan dapat dibangun lebih awal sehingga perubahan teknologi tidak terasa sebagai sesuatu yang tiba-tiba. Pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan perubahan teknologi juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kebutuhan pekerjaan yang terus berkembang. (Ifitri dkk., 2024)

Teknologi Maju, Manusianya Jangan Tertinggal

Menurut saya, bagian paling penting dari transformasi digital justru bukan seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi seberapa siap orang yang menggunakannya. Teknologi dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi hasilnya tetap bergantung pada kemampuan manusia dalam memahami dan memanfaatkannya.

Karena itu, organisasi perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang sudah dikuasai karyawan dan kompetensi apa yang masih kurang. Pemetaan kebutuhan kompetensi dapat menjadi dasar sebelum menentukan program pelatihan. Setelah pelatihan dilakukan, hasilnya juga perludievaluasi. Materi perkuliahan menjelaskan bahwa evaluasi dapat dilakukan melalui umpan balik, pre-test, dan post-test untuk melihat pemahaman peserta. (Modul Perkuliahan, t.t.)

Program BISA Bareng TikTok Kemnaker memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi digital dapat melibatkan pemerintah dan industri. Kerja sama seperti ini dapat membantu pelatihan lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. (ANTARA, 2026)

Opini

Menurut saya, perusahaan sebaiknya tidak melihat pelatihan hanya sebagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Pelatihan perlu menjadi bagian dari kebiasaan belajar di dalam organisasi. Karyawan perlu diberi kesempatan untuk belajar, mencoba, bertanya, mendapatkan pendampingan, dan mengembangkan keterampilan sesuai perubahan pekerjaannya.

Kalau teknologi terus berkembang tetapi kemampuan SDM tidak ikut berkembang, transformasi digital bisa menjadi tidak maksimal. Sebaliknya, ketika teknologi dan manusia dipersiapkan bersama, perubahan akan lebih mudah dijalankan. Jadi, investasi pada teknologi sebaiknya berjalan beriringan dengan investasi pada kompetensi manusia.

Rekomendasi

a. Organisasi perlu melakukan pemetaan kompetensi secara berkala agar mengetahui kemampuan digital yang sudah dimiliki karyawan dan keterampilan yang masih perlu ditingkatkan.

b. Program pelatihan perlu disesuaikan dengan pekerjaan dan teknologi yang digunakan, misalnya AI, analisis data, keamanan digital, dan sistem kerja berbasis teknologi.

c. Pelatihan perlu dilanjutkan dengan upskilling dan reskilling, pendampingan, praktik langsung, serta evaluasi agar kemampuan yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan.

d. Hasil pelatihan perlu dievaluasi secara berkelanjutan dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan program pengembangan berikutnya.

Kesimpulan

Transformasi digital pada akhirnya bukan hanya cerita tentang teknologi yang semakin canggih. Ini juga tentang manusia yang harus terus belajar agar tidak tertinggal. Pelatihan menjadi langkah awal, sedangkan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan membantu SDM tetap siap menghadapi perubahan. Dengan pemetaan kompetensi, pelatihan yang sesuai kebutuhan, upskilling dan reskilling, serta evaluasi yang konsisten, organisasi dapat membangun SDM yang lebih siap beradaptasi. Program BISA Bareng TikTok Kemnaker menjadi salah satu contoh bahwa kerja sama pemerintah dan industri dapat ikut mendorong kesiapan kompetensi digital sesuai kebutuhan dunia kerja.

Daftar Pustaka

ANTARA. (2026, 15 April). Kemnaker dan TikTok kerja sama gelar pelatihan vokasi digital.

Ekantiningsih, P. D., & Sukirman, D. (2023). Trends of education and training teacher competency in information and communication technology. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 10(1), 87–105. https://doi.org/10.21831/jitp.v10i1.52630

Ifitri, M., Aryani, N. F., Fajar, W., Sudianto, & Herman, H. (2024). Digital Transformation in Human Resource Management: The Impact of AI and Automation on Employee Competency Development. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 4(5), 2317–2328. https://doi.org/10.54373/ifijeb.v4i5.2033

Prabowo, S. A., Prasetiyo, A. B., Prasetya, A. B., & Supratikta, H. (2023). Human resource planning strategy to improve employee performance in facing the industrial revolution 4.0. ProBisnis: Jurnal Manajemen, 14(6), 587–591. https://doi.org/10.62398/probis.v14i6.396

Modul Perkuliahan. (t.t.). Perencanaan Sumber Daya Manusia: Bab XVI Latihan dan Pengembangan SDM.