Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Buru-buru Berburu Uang Baru
30 Maret 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Resni Nurniani Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Baju baru, Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
ADVERTISEMENT
Masih ada baju yang lama
Sepenggal bait dari lirik lagu Dhea Ananda yang dirilis tahun 1997 ini mungkin dilatar belakangi oleh tradisi Idul Fitri yang ada di Indonesia.
Segalanya harus baru saat Hari Raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi sejak lama. Baju baru, celana baru, topi atau kerudung baru, tas baru, perhiasan baru dan bahkan uang pun harus dalam kondisi baru.
Setiap tahun tradisi membagi-bagikan amplop lebaran sering dilakukan oleh masyarakat. Memberi kepada orang tua, anak, keponakan, tetangga atau sanak saudara yang lain menjadi satu momen yang tidak jarang sangat dinantikan. Isi amplop pun beragam sesuai dengan kemampuan si pemberi tentunya.
Biasanya sejak minggu ke-1 Bulan Ramadhan, uang baru sudah banyak diburu. Namun, baru tahun ini masyarakat merasa kesulitan dalam menukar uang baru karena harus mengakses website PINTAR BI terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Banyak sekali keluhan yang disampaikan oleh masyarakat mengenai proses penukaran uang baru ini. Mulai dari kegagapan teknologi (tidak paham cara mengakses website PINTAR Bank Indonesia), kesulitan dalam mengakses website tersebut. Saat sudah berhasil masuk ternyata kuota habis. Sangat menyedihkan. Pupus sudah sepertinya harapan menukar uang baru.
Lalu, bagaimana dengan tradisi berbagi amplop lebaran tahun ini ya? Rasanya seperti ada yang kurang jika tidak membagikan amplop lebaran. Apakah amplop diisi saja dengan uang yang ada? Bukan uang dengan kondisi baru namun dianggap masih layak edar.
Ditengah keputusasaan masyarakat dengan kesulitan penukaran uang, di situ pula ada berbagai peluang yang dimanfaatkan sebagian orang.
1. Jasa Penukaran Uang non Bank
Banyak sekali pihak-pihak yang menjajakan uang dengan kondisi baru di jalan-jalan maupun di media sosial dan memperjual belikan uang-uang tersebut. Pihak ini menetapkan nominal tertentu sebagai jasa imbalan atau sering disebut biaya admin. Tidak tanggung-tanggung, penukaran uang dengan jasa mereka dibebankan biaya administrasi 15-20%. Artinya dalam penukaran uang sejumlah 1 juta maka hanya 800-850 ribu saja yang bisa diterima oleh masyarakat. Nominal yang wow juga ya. Bagaimana apakah anda tertarik?
ADVERTISEMENT
2. Pencucian Uang
Akhir-akhir ini media sosial ramai dengan video-video tutorial mencuci uang menggunakan detergen sebagai alternatif lain mendapatkan uang baru.
Pengguna media sosial menunjukkan bahwa mereka berhasil menyulap uang kertas yang sudah kotor bahkan lusuh menjadi terlihat seperti uang baru.
Layaknya satu ember baju kotor, uang-uang dengan kondisi lama ini direndam menggunakan detergen lalu dijemur di bawah sinar matahari, setelah kering uang-uang tadi disetrika dan ternyata uang-uang tadi menjadi bersih dan kaku seperti uang baru lho.
Memang boleh menggunakan dua alternatif tadi agar memiliki uang baru?
Saya bukan ahli agama sehingga tidak bisa berkomentar banyak mengenai penukaran uang dengan jasa yang orang-orang bilang adalah riba. Saya pun tidak mengerti mencuci uang dengan cara seperti tadi bagaimana secara hukum negara.
ADVERTISEMENT
Namun, bagi saya tradisi bukan suatu kewajiban.
Niat dari menukar uang adalah baik dan bisa menjadi ladang pahala karena akhirnya akan dibagikan kepada orang lain. Begitu bukan? Namun apakah harus uang baru?
Untuk yang memiliki budget pas-pasan mungkin akan menyayangkan dengan nominal jasa penukaran tadi. Bisa jadi nominal sejumlah uang jasa tadi bermanfaat jika dialihkan pada kebutuhan lain.
Kembali lagi pada fungsi uang adalah sebagai alat tukar. Jika uang asli dan kondisinya dianggap layak untuk dipergunakan dalam suatu transaksi kenapa tidak menggunakan uang yang ada saja. Ujung-ujungnya uang yang didapat dalam amplop lebaran tidak akan dijadikan koleksi melainkan akan digunakan juga sebagai alat tukar.
Banyak yang keliru dalam memaknai istilah "serba baru" saat hari raya Idul Fitri. Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama (NU), Idul Fitri bukan sekadar tentang hari perayaan, pakaian baru, dan hal-hal lain yang serba baru.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, Idul Fitri dimaknai sebagai bentuk refleksi diri, bentuk rasa syukur, dan kegembiraan. Dalam hal ini, refleksi diri berarti setiap umat muslim dianjurkan untuk introspeksi diri dan kembali kepada fitrah Islamiyah.
Artinya, umat muslim diharapkan dapat kembali suci setelah dibersihkan dengan puasa Ramadan selama 1 bulan penuh, yang kemudian disempurnakan dengan mengeluarkan zakat fitrah sebagai bentuk rasa syukur dan berbagi kepada sesama, serta saling memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi.
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%