Konten dari Pengguna

Di Balik Tren Healing: Apa yang Sebenarnya Kita Sembuhkan?

Resta Limbong

Resta Limbong

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Resta Limbong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi oleh penulis: Foto alam yang membawa ketenangan
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi oleh penulis: Foto alam yang membawa ketenangan

Beberapa tahun terakhir, kata "healing" sering sekali kita dengar. Di media sosial, banyak orang membagikan foto liburan mereka sambil menulis caption "healing dulu biar waras." Kata ini seolah jadi solusi instan untuk semua rasa capek, stres, atau lelah hati.

Tapi, sebenarnya apa sih yang sedang kita sembuhkan? Apa benar healing itu hanya tentang jalan-jalan ke pantai atau staycation di hotel mewah?

Healing Bukan Sekedar Liburan

Healing itu bukan cuma soal keluar kota, duduk manis di cafe estetik, atau rebahan di tempat tidur hotel. Healing yang sesungguhnya adalah proses menyembuhkan luka batin, rasa cemas, stres, atau bahkan trauma yang kita alami dalam hidup.

Liburan memang bisa membantu menenangkan pikiran, tapi itu hanya bagian kecil dari proses healing. Kalau masalah dalam hati tidak kita hadapi, maka setelah liburan selesai, rasa sesak itu bisa datang lagi. Jadi, jangan salah kaprah: healing bukan pelarian, tapi proses penyembuhan.

Capek Boleh, Tapi Kenali Akar Masalahnya

Kadang kita merasa lelah, tapi tidak tahu alasan lelahnya kenapa. Mungkin kita terlalu sibuk menyenangkan orang lain, terlalu keras pada diri sendiri, atau menyimpan banyak beban tanpa cerita. Healing seharusnya jadi waktu untuk menyadari apa yang membuat kita lelah, dan bagaimana cara menyembuhkannya.

Entah itu dengan menulis, curhat ke orang yang dipercaya, membaca buku, atau bahkan meminta bantuan ke psikolog, semua itu adalah bagian dari healing yang sehat.

Tren yang Harusnya Tidak Sekedar Tren

Fenomena healing ini memang tren, tapi semoga bukan cuma gaya-gayaan. Jangan sampai jadi berpikir, "aku harus healing ke Bali biar kelihatan bahagia." Karena healing yang sejati tidak perlu tempat mewah, kadang cukup duduk diam, menangis sebentar, lalu bangkit lagi perlahan.

Dokumentasi oleh penulis: Foto awan dari atas pesawat

Penutup: Rawat Diri Bukan Cuma Saat Lelah

Healing bukan hanya tentang menyembuhkan yang rusak, tapi juga merawat yang masih kuat. Jangan tunggu sampai benar-benar hancur baru mulai menyayangi diri sendiri.

Jadi, saat kamu merasa butuh healing, tanyakan pada dirimu: "Apa yang sebenarnya ingin aku sembuhkan?"