Konten dari Pengguna

Mengapa Rumah yang Seharusnya Aman, Malah Jadi Zona Rawan Kekerasan?

Restu Utami

Restu Utami

Creative Director of Warga Muda

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Restu Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. Sumber: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. Sumber: Freepik

Bagi banyak orang, rumah adalah tempat paling aman. Tempat melepas lelah setelah seharian bekerja, tempat anak-anak bertumbuh dengan kasih sayang, tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Namun, bagi sebagian keluarga, rumah justru berubah menjadi ruang penuh luka. Sebagaimana kabar duka yang masih sangat banyak memberitakan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di ruang keluarga Indonesia.

Data real time SIMFONI-PPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) per 10 September 2025 mencatat 21.409 kasus kekerasan, dengan 18.369 korban adalah perempuan. Jika ditinjau dari kasus dan lokasi kejadian, rumah tangga menempati posisi paling dominan. Angka ini mencengangkan sekaligus menyedihkan: rumah, yang seharusnya menjadi zona perlindungan, justru sering kali menjadi tempat paling rawan.

Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menambahkan catatan lain. Terdapat 973 laporan pelanggaran hak anak, dan 63% di antaranya terkait isu keluarga dan pengasuhan alternatif. Dari konflik hak asuh hingga penelantaran anak, laporan ini menunjukkan masih banyak keluarga yang rapuh dalam memberikan perlindungan.

Dampak kekerasan pun tidak bisa dianggap remeh. Luka yang ditinggalkan lebih dalam dari sekadar memar di permukaan. Sering kali bentuknya tampak "sepele", misalnya anak yang mendadak jadi pendiam, perempuan yang kehilangan kepercayaan diri, atau hubungan keluarga yang terasa renggang. Namun, di balik hal-hal kecil tersebut, tersimpan trauma besar yang memengaruhi keberlangsungan hidup korban.

Menurut laporan WHO (2024), sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya, dan sebagian besar dilakukan oleh pasangan intim. Dari jumlah tersebut, 42% mengalami cedera fisik. Kekerasan pasangan juga berdampak signifikan terhadap kesehatan:

  • Meningkatkan risiko masalah reproduksi, mulai dari infeksi menular seksual, kehamilan tidak direncanakan, hingga aborsi (hampir dua kali lipat lebih tinggi).

  • Pada kehamilan, meningkatkan risiko keguguran sebesar 16% dan kelahiran prematur hingga 41%.

  • Risiko depresi hampir dua kali lipat, serta menambah kerentanan terhadap gangguan tidur dan percobaan bunuh diri.

Penelitian tentang Adverse Childhood Experiences (ACEs, peristiwa traumatis yang dialami anak sebelum usia 18 tahun) juga memperlihatkan betapa panjangnya jejak kekerasan. Secara global, 60% orang dewasa pernah mengalami setidaknya satu bentuk ACE (Madigan et al. 2023). Di Indonesia, survei oleh Wado et al. (2025) menemukan bahwa 40,2% remaja mengalami minimal satu ACE, dan 7,6% pernah mengalami empat atau lebih. Remaja dengan ACEs empat atau lebih memiliki risiko gangguan mental 11 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mengalaminya.

Studi terbaru yang dipublikasikan di BMJ Open juga menemukan bahwa penyiksaan verbal terhadap anak (ejekan, ancaman, atau penghinaan) meningkatkan risiko kesehatan mental buruk di masa dewasa sebesar 64%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kekerasan fisik yang meningkatkan risiko sebesar 52%.

Mengapa Rumah Justru Jadi Lokasi Kekerasan?

Pertanyaan ini seolah mengguncang logika kita: bagaimana mungkin rumah yang harusnya jadi simbol perlindungan justru berubah menjadi ruang penuh luka? Lori L. Heise (1998), melalui kerangka ekologi yang ia kembangkan dalam Violence Against Women: An Integrated, Ecological Framework, memberikan jawaban penting. Menurut Heise, kekerasan lahir dari interaksi kompleks di empat tingkat: individu, relasi, komunitas, dan struktur sosial.

Sumber: Heise (1998), Violence Against Women, ResearchGate.
  • Tingkat individu. Pengalaman hidup seseorang, terutama masa kecil, sangat berpengaruh. Orang tua yang dulu pernah menjadi korban kekerasan cenderung, tanpa sadar, mengulang pola itu pada anaknya. Ditambah lagi dengan faktor stres, depresi, atau ketidakmampuan mengelola emosi, risiko perilaku kekerasan semakin tinggi.

  • Tingkat relasi (microsystem). Hubungan dalam keluarga sering diwarnai ketimpangan kuasa. Suami merasa berhak mengontrol istri; orang tua menganggap kekerasan sebagai cara mendisiplinkan anak. Minimnya dialog membuat konflik mudah berubah menjadi ledakan kekerasan.

  • Tingkat komunitas (exosystem). Norma sosial di sekitar seringkali menormalisasi kekerasan. Ungkapan seperti "anak dipukul biar disiplin" atau "urusan rumah tangga jangan dibawa keluar" menjadi pembenaran yang memperpanjang siklus kekerasan. Ditambah dengan minimnya layanan konseling keluarga, korban seringkali terjebak dalam kesunyian.

  • Tingkat Struktur Sosial (macrosystem). Budaya patriarki yang kuat menempatkan perempuan dan anak pada posisi subordinat. Sistem hukum sering kali tidak cukup berpihak pada korban, sementara kesenjangan ekonomi menambah tekanan keluarga. Situasi ini menciptakan lahan subur bagi kekerasan untuk terus berulang.

Membaca Pola Kekerasan dalam Rumah Tangga Melalui Konstelasi Keluarga

Ilustrasi kekerasan di rumah. Sumber: Freepik

Jika teori Heise (1998) menyoroti faktor struktural dan sosial yang melahirkan kekerasan, maka konstelasi keluarga atau family constellation menawarkan lensa untuk memahami dinamika internal keluarga secara lebih dekat. Konsep ini dikembangkan oleh psikoterapis asal Jerman, Bert Hellinger (1990-an), yang memandang keluarga sebagai sistem yang saling terhubung. Di mana setiap anggota membawa peran, pengalaman, bahkan luka yang dapat memengaruhi keseimbangan seluruh sistem.

Hellinger menemukan bahwa trauma dan pola relasi yang tidak terselesaikan sering kali diwariskan antar generasi. Orang tua yang pernah menjadi korban kekerasan, misalnya, berisiko mengulang pola itu pada anak mereka—bukan karena niat jahat, melainkan karena dinamika emosional yang tidak disadari. Dalam kerangka ini, kekerasan rumah tangga bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari "ketidakseimbangan" dalam sistem keluarga.

Prinsip utama family constellation menekankan beberapa poin berikut. Pertama, urutan dan posisi dalam keluarga, yakni ketika peran suami, istri, atau anak tidak berjalan secara proporsional, maka konflik mudah memuncak. Kedua, hak setiap anggota untuk dicintai dan diakui, sebagai contoh ketika cinta atau perhatian terhambat, ketegangan dapat berubah menjadi kekerasan. Ketiga, penerimaan dan penyembuhan, yakni dengan menyadari pola lama dan memberi tempat bagi semua anggota keluarga, siklus kekerasan bisa diputus. Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa kekerasan bukan sekadar akibat "emosi sesaat" atau "kesalahan individu", melainkan lahir dari pola yang lebih dalam dan berlapis.

Peran Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan

Keluarga memiliki posisi sentral—baik sebagai sumber risiko maupun sebagai benteng perlindungan dari kekerasan. Dalam perspektif ekologi Heise maupun family constellation Hellinger, jelas bahwa keluarga bukan hanya kumpulan individu, melainkan sistem yang membentuk pola perilaku lintas generasi. Maka, pencegahan kekerasan tidak bisa dilepaskan dari penguatan fungsi keluarga itu sendiri.

Beberapa peran kunci keluarga dalam pencegahan kekerasan antara lain:

  1. Sebagai ruang aman dan penuh kasih. Rumah seharusnya menjadi tempat di mana setiap anggota merasa diterima tanpa syarat. Kehadiran kasih sayang yang konsisten terbukti mengurangi risiko anak menginternalisasi pola kekerasan dari luar.

  2. Sebagai sekolah pertama pengelolaan emosi. Anak belajar mengekspresikan dan mengelola emosi dari orang tuanya. Keluarga yang menerapkan pola komunikasi sehat—mendengar, berdialog, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan—akan menyiapkan generasi yang lebih resilien.

  3. Sebagai penghubung dengan komunitas. Keluarga berperan membuka akses terhadap dukungan sosial, konseling, atau layanan kesehatan mental. Kesediaan mencari pertolongan ketika ada masalah dapat mencegah kekerasan berlarut-larut.

  4. Sebagai penjaga kesinambungan generasi. Dalam kerangka family constellation, penyadaran dan penyembuhan trauma yang diwariskan sangat penting. Dengan mengakui pengalaman pahit masa lalu, keluarga bisa memutus siklus kekerasan agar tidak terus berulang pada anak cucu.

Dengan kata lain, keluarga bukan hanya tempat di mana kekerasan kerap terjadi, tetapi juga medan paling strategis untuk menghentikannya. Pencegahan akan berhasil bila keluarga dibekali pemahaman, keterampilan komunikasi, serta keberanian untuk mengubah pola lama menjadi pola baru yang lebih sehat.

Daftar Pustaka

Bellis, M. A., et al. (2025). Verbally abused children more likely to have poor mental health as adults, study finds. The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/society/2025/aug/05/verbally-abused-children-more-likely-to-have-poor-mental-health-as-adults-study-finds

Cohen, D. B. (2006). “Family constellations”: An innovative systemic phenomenological group process from Germany. The Family Journal, 14(3), 226-233.

Heise, L. L. (1998). Violence Against Women: An integrated, Ecological Framework. ResearchGate, 4(3), 262-290.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2025). Ringkasan data kekerasan (SIMFONI-PPA). Diakses dari https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2025). Hari Anak Nasional 2025, KPAI soroti 63 persen aduan berasal dari isu keluarga dan pengasuhan. Diakses dari https://www.ntvnews.id/news/0156708/hari-anak-nasional-2025-kpai-soroti-63-persen-aduan-berasal-dari-isu-keluarga-dan-pengasuhan

Madigan, S., Deneault, A.-A., Racine, N., Park, J., Thiemann, R., Zhu, J., Dimitropoulos, G., Williamson, T., Fearon, P., Cénat, J. M., McDonald, S., Devereux, C., & Neville, R. D. (2023). Adverse childhood experiences: A meta-analysis of prevalence and moderators among half a million adults in 206 studies. World Psychiatry, 22(3), 463–471. https://doi.org/10.1002/wps.21122

Wado, Y. D., Njeri, A., Odunga, S. A., Akuku, I., Wahdi, A. E., Fine, S. L., Ramaiya, A., Li, M., Loi, V. M., Maravilla, J. C., Scott, J. G., Erskine, H. E., & Kabiru, C. W. (2025). The association between adverse childhood experiences and mental disorders among adolescents in Kenya, Indonesia, and Vietnam: Evidence from the National Adolescent Mental Health Surveys. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 19(Suppl 1), 86. https://doi.org/10.1186/s13034-025-00919-z

World Health Organization. (2024). Violence against women. Diakses dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-women