KKN-T IPB : Kenalkan Indonesia, Mahasiswa Gelar Indonesian Day di Thailand

Resyana Zalfa Zahira is an undergraduate nutrition student at IPB University with interests in health, education, writing, and community development.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Resyana Zalfa Zahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, Rabu (22/7/2026), halaman Sekolah Pharianwittaya di Hat Yai, Thailand, terasa berbeda dari biasanya. Bendera Merah Putih berkibar berdampingan dengan bendera Thailand, dan di antara seragam putih-biru para siswa, terselip warna-warni khas Nusantara. Hari itu, aku dan 21 mahasiswa IPB University lainnya membawa sepotong Indonesia ke negeri Gajah Putih lewat program KKN-T Internasional bertajuk Indonesian Day.
Rasanya campur aduk. Khawatir, tapi juga excited. Bagaimana tidak, ini bukan sekadar acara sekolah biasa, tapi kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke anak-anak dan guru yang selama ini hanya tahu Indonesia lewat sosial media atau berita sepintas.
Acara dibuka oleh Syifa Shahira Aulia Vianna, ketua pelaksana kami yang disambut hangat oleh pihak sekolah. Ustaz Usman Harun, Kepala Administrasi umum sekolah, ikut memberi sambutan yang membuat hati kami semakin yakin untuk tampil maksimal. "Semoga dengan acara ini anak-anak dapat mengenal Indonesia," ucapnya, singkat tapi menyentuh.
Belum sempat rasa gugup itu hilang sepenuhnya, musik Maumere langsung terdengar dari sound system. Anak-anak yang tadinya masih malu-malu, satu per satu mulai ikut menggerakkan badan. Barisan yang tadinya rapi jadi sedikit berantakan karena para siswa mulai berbaur dengan suasana mengikuti setiap gerakan yang dipimpin oleh beberapa mahasiswa. Momen itu jadi pemanasan sempurna sebelum semua orang dibagi ke empat pos budaya yang sudah kami siapkan sebelumnya. Begitu rotasi pos dimulai, aku mulai wara-wiri dari satu pos ke pos lain memastikan tiap kelompok jalan sesuai alur, sambil sesekali melirik jam supaya waktu rotasi enggak molor. Posisi ini justru bikin aku bisa mencuri lihat sedikit dari semua pos, satu per satu.
Pos 1: Mimpi dan Kata Pertama dalam Bahasa Indonesia
Saat aku mampir sebentar ke pos pertama, siswa-siswa sedang sibuk menuliskan cita-cita mereka sambil mengenal diri sendiri lebih dalam. Di sela-sela itu, teman-teman kami menyelipkan pelajaran dasar bahasa Indonesia seperti kata sapaan, tentu dibantu terjemahkan oleh kakak pendamping mereka ke dalam bahasa Thailand untuk memudahkan. Ada yang tertawa kecil karena salah ucap, ada juga yang justru cepat hafal dan langsung mempraktekkannya ke teman-temannya. Kecil, tapi terasa besar maknanya: bahasa jadi jembatan pertama yang menghubungkan dua negara yang jaraknya ribuan kilometer.
Pos 2: Aroma Nusantara di Tanah Thailand
Dari luar pos 1 aroma opor ayam, tempe, rambut nenek, kerupuk, tengteng, dan dodol sudah lebih dulu menarik langkahku ke pos kuliner. Ini pos yang jika datang bisa bikin kenyang. Wajah-wajah penasaran berubah jadi wajah puas begitu mereka mencicipi satu per satu. Ada yang matanya membelalak karena rasa yang belum pernah mereka kenal, ada juga yang langsung minta tambah. Aku sempat berhenti sebentar di situ, ikut senyum-senyum lihat ekspresi mereka, sebelum akhirnya lanjut keliling lagi.
Pos 3: Cerita di Balik Setiap Motif Batik
Di pos batik, suasananya jauh lebih tenang dibanding pos-pos lain, jadi aku sempat berdiri agak lama di pinggir sambil ikut dengar. Siswa-siswa mendengarkan dengan seksama saat dijelaskan bahwa batik bukan cuma kain bermotif, tapi warisan dunia yang menyimpan filosofi hidup di setiap goresannya. Setelah mendengarkan penjelasan tentang batik, para siswa langsung mendapat tantangan untuk mewarnai potongan motif batik mereka sendiri. Kertas yang awalnya masih polos mulai dipenuhi warna-warni. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang memadukan beberapa warna sekaligus. Sambil asyik mewarnai, mereka tampak menikmati kesempatan untuk mengenal batik dengan cara yang menyenangkan.
Pos 4: Tawa Pecah di Lomba Kelereng dan Lompat Karung Kardus
Dan sebelum waktu rotasi terakhir habis, aku mengunjungi pos yang paling riuh. Lomba membawa kelereng dengan sendok dan lompat kardus mengubah halaman sekolah jadi lautan tawa. Kelereng jatuh, yang lain saling menyemangati yang gagal malah tertawa paling keras. Sambil sesekali melirik jam tanganku, aku ikut tertawa juga, lupa sesaat kalau sebenarnya sedang bertugas. Di momen-momen sederhana seperti inilah gotong royong dan kebersamaan, dua nilai yang begitu lekat dengan masyarakat Indonesia tersampaikan tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.
Lebih dari Sekadar Empat Pos
Kalau diingat kembali, Indonesian Day bukan hanya soal empat pos permainan yang kami susun rapi di atas kertas. Ini soal senyum yang saling bersahutan, gerakan tubuh yang menyatukan orang-orang dari latar berbeda, dan rasa dari sepiring makanan yang berhasil membuka percakapan baru. Persis seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman yang kami hadirkan hari itu bukan untuk dibanding-bandingkan, tapi untuk saling melengkapi.
Sore harinya, saat acara ditutup dan siswa-siswa mulai berpamitan, beberapa dari mereka masih sempat mengulang kata-kata bahasa Indonesia yang baru mereka pelajari. Ada yang bilang "terima kasih", ada juga yang menuliskan ucapan-ucapan hangat dan ungkapan betapa senangnya mereka hari ini di kain putih yang sudah dipersiapkan sebelumnya, hal tersebut cukup untuk membuat kami yakin bahwa apa yang kami bawa hari itu berhasil meninggalkan jejak di Sekolah Pharianwittaya, Hat Yai, Thailand.
