Konten dari Pengguna

Proses Mimesis Manusia dan Tanggung Jawab Moral Konten Kreator

Reszky Fajarmahendra Riadi

Reszky Fajarmahendra Riadi

Praktisi Pendidikan

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reszky Fajarmahendra Riadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels.com

Baru selesai kita dihadapkan oleh salah satu adegan, "Salam Dari Binjai". Diperankan oleh laki-laki bertubuh agak kekar, melontar senyuman dan mempertemukan telapak tangannya ke depan. Senyuman tersebut mengisyaratkan kebudayaan Indonesia yang ramah tamah dan juga mempunyai perangai yang baik bila bertemu dengan orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Setelah dari itu ia memperkenalkan sebuah pohon pisang di depannya dengan mengilustrasikan betapa kokohnya pohon pisang tersebut, tak lama ia mulai memukul pohon pisang tersebut dengan sekuat tenaga dan cepat sampai batang pohon pisang itu terkoyak kemudian roboh.

Manusia dengan insting mimesis (peniruan) mulai membuat beberapa eksperimen "Salam Dari Binjai" ini. Dari yang mencoba dengan tembok, kemudian batang pohon selain pisang. Malah baru-baru ini sebuah sarang tawon. Ia memperkenalkan diri dengan menyebut "Salam Dari Majalengka". Begitu kreatifnya manusia Indonesia. Apa yang bisa kita petik dari ilustrasi tersebut? Yaitu sesuatu yang dianggap hebat dan viral adalah hal kreatif yang harus direplikasi. Padahal ada konsekuensi yang harus diterima bahwa ada kegiatan yang dapat merugikan sendiri, dan orang lain. Cara terbaik menganalisanya adalah mengetahui catatan sejarah negatif akibat mereplikasi keviralan.

Viral Menuju Ajal

Ajal merupakan catatan Ilahiah yang kita sendiri tidak mengetahui kapan datangnya, namun manusia begitu kreatif, beberapa datang untuk menjemput ajalnya sendiri. Pada tahun 2021 di daerah Banten tepatnya di Cisauk terdapat dua remaja belia yang menjemput ajalnya sendiri karena hanya ingin viral untuk memberhentikan truk yang sedang berjalan. Kemudian di Pamulang juga terdapat hal yang sama seorang remaja tewas dalam kasus yang sama, yaitu ingin memberhentikan truk untuk sekadar viral di media sosial.

Kejadian tersebut menjadi penanda bahwa para remaja yang tidak mempunyai pemikiran mengenai konsekuensi logis terhadap apa yang dia lakukan. Pikirannya masih sebatas peniruan dari konten viral dapat menaikkan eksistensi diri di media sosialnya.

Peran orang tua juga sangat penting memperhatikan bagaimana kualitas tontonan anak-anaknya mengenai ke-viralan yang membahayakan. Tapi tidak semua orang tua dapat mencegah akses kualitas tontonan anaknya. Proses menjadi manusia adalah hasil interaksi dari lingkungan sekitarnya. Jika di satu sisi orang tua peduli terhadap kualitas tontonan anaknya kemudian anaknya akan mencontoh dari teman yang terpapar konten viral yang nirfaedah tersebut ini akan menjadi proses mendidik yang sia-sia.

Ini terjadi terhadap anak saya yang masih berumur 2 tahun 8 bulan. Bayangkan bagaimana proses tersebut dapat mempengaruhi anak yang berumur sangat belia tersebut dari hasil bermain bersama temannya. Ia memulai menirukan gerakan yang saya sampaikan pada dua paragraf di atas dan langsung menonjok tembok di depannya. Parahnya lagi ia sempat ingin melakukan hal tersebut kepada adiknya yang baru berusia empat bulan, kemudian kami sebagai orang tua halangi dan berikan pengertian kepadanya.

Dukung Proses Kreatif, Hentikan Kebodohan Kreatif

Indonesia menuju era bonus demografi pada tahun 2030-2040, yaitu jumlah umur angkatan kerja produktif kita melampaui umur yang non produktif. Jumlah angkatan kerja kita menurut Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah mencapai 205 Juta penduduk pada era bonus demografi. Angkatan kerja nantinya didominasi oleh anak muda. Anak muda banyak yang berhasil dari proses pemikiran kreatif dirinya. ada yang membangun perusahaan sendiri, membangun usaha, membangun startup berbasis teknologi, dan juga banyak yang menjadi konten kreator.

Konten Kreator banyak yang saya nikmati karya-karyanya sebut saja Ferry Irwandi yang membuat sebuah konten Docuvlog. sebuah dokumenter yang menceritakan sebuah isu-isu yang menarik. Jovi Andovi yang membuat sebuah karya drama musikal dan pentas seni yang menggabungkan kebudayaan Indonesia dan juga aransemen musik melalui paduan suara yang indah. Narasi TV yang mengemas berita ataupun isu menjadi ringan disesuaikan dengan dimensi anak muda.

Saya juga anak muda, anak muda yang mengenyam profesi guru. Melihat konten kreator yang tidak bertanggung jawab secara sosial membuat resah. Mari semua teman-teman tanamkan ucapan Prof Nadirsyah Hosen, tolong saring sebelum sharing demi menghentikan kebodohan kreatif yang direplikasi.