Konten dari Pengguna

Angkringan Syuhada: Obrolan Hangat dan Sego Kucing di Bawah Langit Jogja

Retno Anggi Kusuma Dewi

Retno Anggi Kusuma Dewi

Saya Retno Anggi Kusuma Dewi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, yang memiliki minat dalam media, public relation dan komunikasi digital.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Retno Anggi Kusuma Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

YOGYAKARTA - Di salah satu sudut kawasan Kota Baru, Yogyakarta, angkringan legendaris ini menghadirkan suasana malam yang hangat dan penuh keakraban. Dekat Masjid Syuhada, Angkringan Syuhada bukan hanya sekadar warung makan biasa, tapi juga menjadi bagian dari kuliner malam Jogja yang tak lekang oleh waktu. Tempat ini menjadi ruang sosial yang menyatukan berbagai kalangan mahasiswa, pekerja malam, wisatawan, hingga warga lokal. Lewat sajian sego kucing, teh hangat, dan obrolan ringan, warung kecil ini memancarkan kehangatan budaya Jogja yang hidup hingga dini hari.

Mas Rizky berdiri di balik meja angkringan, menunggu pelanggan yang datang
zoom-in-whitePerbesar
Mas Rizky berdiri di balik meja angkringan, menunggu pelanggan yang datang

Di balik meja angkringan yang penuh dengan lauk sederhana dan minuman hangat, Mas Risky berdiri santai di balik meja angkringan. Pria ramah ini telah menjalankan Angkringan Syuhada sejak 2012, melanjutkan usaha orang tuanya.

“Dulu ini angkringan punya bapak. Saya hanya bantu-bantu. Lama-lama saya teruskan sampai sekarang. Makanan sederhana tapi punya cerita,” ujarnya sambil membungkus nasi kucing untuk pelanggan.

Mas Risky mengaku, sejak pertama kali membuka, angkringan ini sudah jadi tempat favorit orang-orang yang butuh suasana santai. “Banyak yang datang malam-malam cuma pengin duduk, ngobrol, lihat lampu kota dari atas. Katanya adem, nyaman, bikin tenang,” tambahnya.

Menurutnya, yang membuat angkringan ini tetap bertahan bukan hanya makanan murahnya, tapi juga suasananya. “Di sini orang bisa duduk bareng meski nggak saling kenal. Kadang ngobrol panjang, kadang cuma saling senyum. Tapi hangat. Jogja banget,” ucapnya.

Malam itu, salah satu pengunjung yang datang adalah Alivia, mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang sedang pulang ke Jogja untuk libur semester. Meski asli Jogja, Alivia justru baru pertama kali datang ke Angkringan Syuhada.

“Tahu tempat ini dari TikTok. Banyak yang posting katanya enak buat lihat city light Jogja, suasananya nyaman apalagi tempatnya agak tinggi, jadi kelihatan rumah-rumah di bawah,” katanya.

Ia datang bersama teman kuliah dari satu kota, ingin merasakan malam Jogja dari tempat yang sederhana tapi khas. “Pas banget malam itu angin sejuk, minum teh hangat, makan nasi kucing. Suasananya dapet banget. Kayak Jogja yang lama, yang saya rindukan,” ujar Alivia sambil tersenyum.

Bagi Alivia, angkringan ini bukan cuma tempat makan malam, tapi tempat mengingat kembali kenangan tentang rumah. “Nggak semua kota punya tempat yang bisa bikin orang asing pun merasa diterima. Dan di sini, suasana itu kerasa.”

Angkringan Syuhada bukan sekadar warung pinggir jalan. Ia adalah ruang kecil yang menyimpan banyak hal besar: kehangatan, pertemanan, bahkan perasaan pulang.

Suasana malam di Angkringan Syuhada yang ramai pengunjung

Di tengah kota yang terus tumbuh dengan gedung tinggi dan kafe modern, angkringan ini tetap hadir dengan kesederhanaan yang tulus. Meja kayu, lampu jalan, segelas teh manis, dan pemandangan rumah-rumah dari kejauhan semuanya menyatu menjadi pengalaman malam yang tak mudah dilupakan.

Jogja, mungkin, tak selalu tentang destinasi wisata. Tapi tentang tempat-tempat kecil seperti ini yang hangat, akrab, dan selalu terbuka untuk siapa pun yang datang.