kumparan
10 Agu 2019 13:02 WIB

Meski Keberatan dengan Lagu Young Lex, Saya Memilih Berdiskusi

Retno Listyarti (kiri) dan Young Lex (kanan) Foto: Dok. Pribadi
Saat membaca keberatan atas lagu Young Lex yang baru dirilis dengan judul Lha Bodo Amat, saya mencoba membaca liriknya perlahan, saya ulang berkali-kali. Lalu, saya menyaksikan videonya melalui YouTube sekitar 10 kali. Setelah itu, saya mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp ke Young Lex, saya menyatakan ingin bertemu untuk mendiskusikan lagu tersebut. Lex langsung setuju dan keesokan harinya kami janjian bertemu.
ADVERTISEMENT
Meski keberatan dengan penggunaan istilah 'bacot' dalam lagu Lha Bodo Amat, tapi saya tidak mau menghakimi Lex, saya tetap memilih bertemu Lex di kantornya pada Kamis sore (8/8), untuk mendengar sendiri penjelasan Lex atas kata itu. Kita harus bersikap adil terhadap penulis lagunya, karena sebagai karya seni tentu makna kata yang digunakan kerap kali memiliki makna tersendiri bagi penulisnya. Sebenarnya, saya datang bukan sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tetapi sebagai teman. Walau baju “komisioner” sulit dilepaskan dari saya.
Sejujurnya saya mengenal Lex sekitar tahun 2018, waktu itu, saya dan Lex pernah kerja bareng cukup lama saat mengampanyekan stop bullying di berbagai sekolah di beberapa kota/kabupaten. Kami beberapa kali berkontak melalui media sosial.
ADVERTISEMENT
Saya mengenalnya sebagai pribadi yang ceplas-ceplos, apa adanya, tidak jaim, dan kritis. Sepanjang mengenalnya, Lex selalu bersikap hormat terhadap saya.
Terkait lagu ini, saya mempersoalkan kata 'bacot' dalam lagunya, meskipun kata bacot hanya sedikit digunakan, namun kata-kata itu ada dalam lagunya.
Berikut petikan wawancara saya dengan Lex.
Saya: "Lex, kalau kata bacot di lagu itu kasar menurut budaya dan pandangan orang Indonesia secara umum. Apa sebenarnya makna bacot yang kamu maksud di lagu tersebut?"
Lex: "Makna bacot di lagu saya adalah menggambarkan orang yang nyinyir, Bu. Kalau bodo amat maknanya cuek, Bu. Orang mau nyinyiran apa aja enggak gue pikirin, kira-kira begitu."
Saya: "Tapi tetap saja itu kasar dan jadi kontroversi, Lex. Lain kali kamu harus hati-hati juga kalau pilih lirik di lagumu. Norma itu ukurannya ya pandangan masyarakat setempat. Misalnya hidup bersama tanpa menikah di Amerika Serikat mungkin tidak dipermasalahkan, tapi kalau itu dilakukan di Indonesia pastilah melanggar norma. Jadi kalau memilih lirik di masyarakat kita harus yang bisa diterima umum."
ADVERTISEMENT
Lex: "Terima kasih Bu masukkannya, saya buat lagu yang mungkin rada nyeleneh dan berpotensi kontroversi, rencananya hanya sampai Desember 2019 ini, Bu. Pada 2020 saya akan mengganti gaya lagu saya."
Saya: "Kalau kata bodo amat sering saya dengar di kalangan anak muda tetapi ke teman seusianya atau teman mainnya. Tapi kalau kata 'bacot' jarang banget saya dengar diucapkan remaja."
Lex: "Jadi Bu, maksud lirik ini dengan bodo amat adalah enggak perlu dengerin omongan orang yang negatif dan yang kadang mencoba membunuh mimpi besar kita dengan cara meremehkan kita. Jadi semua suara negatif itu di cuekin aja, kita fokus pada tujuan dan mimpi besar kita, makanya ada kata 'bodo amat'."
Saya: "Lagumu untuk orang dewasa, ya?"
ADVERTISEMENT
Lex: "Iya Bu, untuk konsumsi usia dewasa."
Saya: "Tapi fans-mu juga ada yang anak-anak, kan?"
Lex: "Ya Bu, walau enggak banyak."
Saya: "Yang dengerin lagu ini setelah seminggu tayang siapa? Kebanyakan anak-anak atau dewasa?"
Lex: "Dewasa Bu, data yang usia anak (13-17 tahun) sekitar 13,5 persen menurut data YouTube." (Lex menunjukkan data itu di layar ponselnya)
Saya: "Kenapa di videomu ada anak-anak?"
Lex: "Sebenarnya enggak disengaja Bu, pas syuting di daerah Cempaka Putih (Jakarta Pusat), tiba-tiba ada anak-anak mendekat dan akhirnya jadi ikutan syuting."
Saya: "Artinya enggak direncanakan?"
Lex: "Enggak bu, mereka lagi main di sekitar kami syuting, sebenarnya nonton kita syuting tapi jaraknya dekat banget. Akhirnya kita ajak sekalian."
ADVERTISEMENT
Saya: "Lalu mereka enggak dibayar misalnya sebagai figuran?"
Lex: "Enggak Bu, karena memang mereka nonton awalnya."
Saya: "Kamu sudah tahu 'kan kalau lagu Lha Bodo Amat telah dilaporkan ke YouTube oleh Kementerian Kominfo? Apa tanggapanmu?"
Lex: "Iya, saya tahu, YouTube belum merespons surat Kominfo. Saya sih pasrah saja, kalau YouTube menilai ada yang melanggar ketentuan YouTube dari lagu tersebut ya saya harus terima konsekuensinya."
Saya: "Kalau itu terjadi, tidak akan membuat kamu berhenti berkarya 'kan?"
Lex: "Enggak Bu, saya akan terus berkarya."

Pengaruh media sosial dan internet merupakan bagian pendidikan masyarakat.

Lalu kami diskusi soal pendidikan menurut Ki Hajar dewantara yang terdiri atas tiga pusat “TRI PUSAT”, yaitu pendidikan di lingkungan keluarga yang merupakan pendidikan “utama” dan “pertama” menanamkan karakter pada anak. Lalu ketika anak memasuki dunia sekolah, maka pendidikan kedua adalah pendidikan di lingkungan sekolah. Adapun pendidikan yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Pengaruh media sosial dan internet merupakan bagian pendidikan masyarakat. Ketiganya saling kait-mengait dan dapat membentuk karakter seorang anak. Namun, ketika karakter anak kuat sejak pendidikan dini di rumah, maka pengaruh di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat akan membuatnya dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Konsep diri yang positif akan sangat membantu anak menangkal pengaruh buruk. Di sinilah penting pola asuh positif dari orang tua.
Jakarta, 9 Agustus 2019
Reno Listyarti
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·