NPWP Gabung Suami vs NPWP Istri PH-MT: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Penyuluh Pajak
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Retno Yuliastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sistem perpajakan Indonesia, setiap warga negara yang telah memenuhi syarat subjektif dan objektif diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi wanita yang telah menikah, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan dua opsi terkait pengelolaan NPWP: NPWP Gabung dengan Suami atau menggunakan NPWP atas nama istri dengan status Penghasilan Istri Dipisah (PH-MT). Kedua opsi ini memiliki implikasi perpajakan yang berbeda, baik dari sisi kewajiban pelaporan maupun perhitungan pajak yang harus dibayar.
Memahami perbedaan dan konsekuensi antara NPWP gabung dan NPWP PH-MT sangat penting, terutama bagi pasangan suami istri yang memiliki penghasilan masing-masing. Lantas, manakah yang lebih menguntungkan?
Apa Itu NPWP Gabung dan NPWP PH-MT?
1. NPWP Gabung (Menggunakan NPWP Suami)
Ketika seorang perempuan menikah, maka status perpajakannya secara otomatis digabungkan ke NPWP suaminya. Artinya, penghasilan istri dianggap sebagai bagian dari penghasilan suami, dan seluruh kewajiban perpajakan (penghitungan, pembayaran, pelaporan) berada di bawah tanggung jawab suami.
2. NPWP PH-MT (Pisah Harta atau Menghendaki Terpisah)
Jika istri memilih untuk tetap memiliki NPWP sendiri setelah menikah, maka ia harus mengajukan status PH-MT. Status ini memungkinkan istri untuk memisahkan penghasilan, kewajiban, dan hak perpajakannya dari suami, seolah-olah sebagai Wajib Pajak (WP) Orang Pribadi yang berdiri sendiri.
Perbedaan Utama antara NPWP Gabung dan NPWP PH-MT
Kapan Sebaiknya Menggunakan NPWP Gabung?
NPWP gabung lebih cocok digunakan ketika seorang istri tidak memiliki penghasilan sendiri, memiliki penghasilan yang kecil atau ia merupakan seorang karyawati dari satu pemberi kerja. Penggabungan penghasilan ini mempermudah penghitungan pajaknya dan tentunya lebih menyederhanakan proses pelaporan SPT.
Contoh:
Suami bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan tetap, sementara istri bekerja sebagai karyawan di satu perusahaan swasta. Dalam hal ini, cukup menggunakan NPWP suami untuk melaporkan seluruh penghasilan rumah tangga. Atas penghasilan istri dilaporkan dalam SPT suami pada bagian penghasilan final atas penghasilan istri dari satu pemberi kerja.
Kapan Sebaiknya Memilih NPWP Istri PH-MT?
NPWP istri PH-MT layak dipertimbangkan ketika seorang istri memiliki penghasilan yang signifikan, namun tidak terlalu tinggi (misalnya di bawah lapisan tarif pajak tinggi). Hal ini dapat mengoptimalkan tarif pajak progresif. Selain itu, pasangan suami istri yang menjalankan keuangannya masing-masing dikarenakan adanya perjanjian pisah harta dapat memilih opsi ini.
Mekanisme perhitungan pajaknya pun sebagai satu entitas keluarga walaupun memilih NPWP PH-MT tetap digabungkan dan dihitung secara proporsional. Hal ini dapat berdampak adanya kurang bayar pada pelaporan pajak suami dan istri dikarenakan pengenaan lapisan tarif pajak atas penghasilan gabungan bukan dari penghasilan masing-masing.
Contoh:
Istri adalah seorang karyawati dengan perjanjian pisah harta (PH). Maka suami dan istri melakukan pelaporan SPT menggunakan NPWP masing-masing dengan menggabungkan dahulu penghasilannya dan menghitung kembali kewajiban perpajakannya secara proporsional.
Manakah yang Lebih Menguntungkan?
Baik NPWP gabung maupun PH-MT tidak ada jawaban yang mutlak benar. Semuanya kembali pada kondisi keuangan dan kebutuhan administrasi masing-masing pasangan.
Jika fokus pada efisiensi administrasi dan menurunkan beban pajak, maka NPWP gabung lebih praktis. Namun, jika ingin menjaga kemandirian pajak, maka NPWP PH-MT dapat dipilih.
Seorang istri yang sebelumnya telah memiliki NPWP pun dapat menggabungkan NPWPnya dengan suami tanpa harus menghapus NPWPnya. Istri cukup mengajukan penetapan Wajib Pajak Nonaktif yang dilakukan melalui akun coretax istri.
Kesimpulan
NPWP gabung dan NPWP istri PH-MT memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi pasangan dengan satu sumber penghasilan utama, NPWP gabung sudah cukup. Namun, bagi pasangan yang sama-sama berpenghasilan dan ingin mengatur perpajakannya dengan lebih fleksibel, NPWP PH-MT patut dipertimbangkan.
Langkah terbaik adalah melakukan simulasi penghitungan pajak terlebih dahulu berdasarkan penghasilan masing-masing pihak secara proporsional. Konsultasi dengan konsultan pajak atau petugas KPP juga sangat dianjurkan untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan peraturan perpajakan yang berlaku.
