Konten dari Pengguna

Adaptif atau Tersingkir: Mengasah Keterampilan di Era Disrupsi

Retno Maria Palupi

Retno Maria Palupi

Dosen, ASN dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Jambi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Retno Maria Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teknologi komputasi awan (cloud computing). Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teknologi komputasi awan (cloud computing). Foto: Shutter Stock

Bayangkan seorang karyawan administrasi yang sudah bekerja belasan tahun. Ia terbiasa dengan tumpukan arsip kertas dan mesin ketik. Namun, di era digital hari ini, pekerjaannya digantikan oleh aplikasi sederhana berbasis cloud. Bukan karena ia tidak rajin, melainkan karena keterampilan yang dimiliki tak lagi relevan. Inilah wajah nyata dari disrupsi: mereka yang tak adaptif akan tersisih, betapa pun keras usahanya bertahan.

Disrupsi adalah kata yang semakin akrab, tapi dampaknya masih sering dianggap jauh. Padahal, kecerdasan buatan, robotika, dan otomasi kini bukan hanya wacana futuristik, melainkan kenyataan sehari-hari. Dari kasir yang digantikan mesin self-service, wartawan yang disaingi algoritma berita, hingga dosen yang ilmunya bisa digantikan oleh mesin pencari. Pertanyaannya sederhana tapi tajam: apakah kita siap, atau hanya menunggu giliran tersingkir?

Krisis keterampilan bukan hanya tanggung jawab individu. Sistem pendidikan kita masih lebih banyak melahirkan lulusan yang menghafal, bukan yang memecahkan masalah. Pemerintah pun sering terjebak pada program pelatihan formal yang tak relevan dengan kebutuhan industri. Akibatnya, pengangguran terdidik meningkat, sementara dunia kerja justru kekurangan tenaga dengan keahlian praktis yang mumpuni.

Namun, di balik ancaman, selalu ada peluang. Mereka yang berani belajar ulang (reskilling) dan menambah keahlian baru (upskilling) justru bisa memenangkan kompetisi. Seorang guru yang dulunya hanya mengandalkan papan tulis kini bisa mengajar secara global lewat kanal digital. Seorang pedagang kecil yang dulu terbatas pada pasar lokal kini bisa menembus pasar nasional bahkan internasional melalui platform daring.

Petugas memasang informasi lowongan pekerjaan saat bursa kerja di Thamrin City, Jakarta, Rabu (12/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Kuncinya ada pada pola pikir adaptif. Adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat eksistensi. Pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi “apakah teknologi akan mengambil pekerjaan kita?”, melainkan “pekerjaan baru apa yang bisa kita ciptakan dengan teknologi?”

Negara juga harus hadir lebih progresif. Pendidikan vokasi perlu direformasi agar lincah mengikuti perkembangan industri, bukan terjebak pada kurikulum usang. Subsidi sebaiknya diarahkan untuk program pelatihan digital yang terukur hasilnya, bukan sekadar proyek seremonial. Dunia usaha pun ditantang untuk tidak hanya mengejar efisiensi dengan mesin, tapi juga menyiapkan pekerjanya agar naik kelas bersama teknologi.

Disrupsi tidak pernah menunggu. Ia datang tiba-tiba, sering kali tanpa kompromi. Bagi individu, satu-satunya cara bertahan adalah menjadikan belajar sebagai gaya hidup, bukan beban. Bagi negara, satu-satunya pilihan adalah menjadikan pendidikan dan pelatihan keterampilan sebagai investasi utama, bukan sekadar anggaran rutin.

Di persimpangan sejarah ini, pilihannya jelas: adaptif atau tersingkir. Dunia tak akan berhenti berputar hanya karena kita enggan berubah. Maka, yang menolak bertransformasi akan tertinggal, sementara yang siap mengasah keterampilan akan menjadi pemenang.