Saklar Demokrasi di Tangan Elite

Dosen, ASN dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Jambi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Retno Maria Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia disebut gelap. Namun, ini bukan karena PLN gagal menjaga pasokan listrik. Kegelapan negeri ini muncul karena ada yang gemar memutus saklar demokrasi. Begitu lampu padam, rakyat berjalan meraba-raba, sedangkan elite berpesta terang-benderang. Maka, sebutan yang lebih tepat: Indonesia bukan gelap, tapi sengaja digelapkan.
Lihat fakta: Transparency International 2024 menempatkan skor persepsi korupsi Indonesia stagnan di 37 dari 100, sementara Economist Intelligence Unit menilai Indonesia memiliki skor 6,44 dari 10, menempatkan negara ini dalam kategori “flawed democracy”. Baliho anti korupsi ramai, tapi praktiknya tetap sama.
Demokrasi hadir sebagai bungkus, tapi isinya kosong. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas, ungkapan klasik kini seperti deskripsi resmi. Rakyat kecil dipenjara karena mencuri kakao, sedangkan pejabat yang menguras miliaran tetap nyaman duduk di kursi partai atau BUMN. Hukum berubah menjadi lampu sorot: hanya menerangi yang berduit. Rakyat tersesat di lorong hukum yang sempit, sementara elite memamerkan kekuasaan seperti trik sulap di panggung VIP.
Alam pun tak luput dari gelap buatan ini. Setiap musim hujan, banjir jadi acara tahunan. Setiap kemarau, langit penuh asap. Izin tambang digelontorkan hingga ke organisasi keagamaan. Hutan ditebangi, sungai tercemar. Kita diwarisi gelap bukan hanya politik, tapi ekologis. Satu-satunya “cahaya hijau” yang tersisa mungkin hanya lampu indikator ponsel harapan palsu yang berkedip.
Ketimpangan sosial dan ekonomi menambah gelap: proyek mercusuar dan gedung megah dibangun demi foto Presiden tersenyum di papan reklame, sementara desa tetap lapar, sekolah kekurangan guru, rumah sakit kehabisan obat. Ekonomi rakyat kecil tercekik, harga pangan meroket, tetapi janji politik selalu terang-benderang di media massa.
Kemarahan rakyat tak bisa dibungkam. Demonstrasi di berbagai kota, gedung simbol kekuasaan terbakar, tidak untuk menghancurkan, tetapi sebagai panggilan keras: jika lampu utama dimatikan, rakyat akan menyalakan lilin sendiri. Meme viral, siniar kritis, dan surat terbuka mahasiswa menjadi lampu-lampu kecil yang menantang gelap buatan elite.
Yang dibutuhkan bukan sekadar lilin. Lilin mudah padam. Yang diperlukan adalah merebut saklar, memastikan lampu utama menyala, dan tidak bisa dimatikan oleh segelintir tangan. Rakyat harus bersuara, menjaga kebebasan sipil, dan menolak dibutakan. Demokrasi tidak bisa menjadi dekorasi panggung; ia harus terang untuk semua, bukan hanya untuk yang berkuasa.
Ada harapan; meski kecil tapi nyata. Komunitas warga mengelola sampah sendiri, anak muda digital menertawakan janji politik lewat meme, mahasiswa bersuara di jalan meski risiko tinggi. Cahaya itu cukup menunjukkan gelap bukan takdir, melainkan keadaan yang direkayasa.
Indonesia tidak gelap. Ia sengaja digelapkan. Lampu bisa diputus, tetapi kreativitas, keberanian, dan aksi nyata rakyat besar atau kecil tidak akan pernah padam. Saatnya merebut saklar, menyalakan cahaya utama, dan memastikan demokrasi, hukum, dan lingkungan tidak lagi menjadi panggung gelap yang dikendalikan segelintir elite, tetapi terang nyata bagi seluruh rakyat. Jangan menunggu izin dari mereka yang mematikan lampu; cahaya itu harus kita nyalakan sendiri, sekarang, dan selama-lamanya.
