QRIS Gratis: Kemudahan Transaksi atau Pemicu Perilaku Konsumtif?

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Revalina putri Pratami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membayar makanan, membeli minuman, hingga berbelanja di toko kecil kini semakin mudah. Cukup membuka telepon pintar, memindai kode QRIS, lalu transaksi selesai dalam hitungan detik. Kemudahan ini membuat pembayaran digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda.
Perkembangan penggunaan QRIS juga terus menunjukkan peningkatan. Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS pada Agustus 2026 tumbuh 67,22 persen secara tahunan. Selain itu, sejak 1 Oktober 2026, kebijakan merchant discount rate (MDR) 0 persen diperluas untuk transaksi QRIS hingga Rp100.000 pada seluruh kategori pedagang. Kebijakan tersebut membuat transaksi dengan QRIS semakin mudah dan terjangkau.
Namun, kemudahan transaksi juga menimbulkan pertanyaan lain. Ketika pembayaran hanya membutuhkan satu kali pemindaian, apakah masyarakat menjadi lebih mudah mengeluarkan uang?
Ketika Membayar Tidak Lagi Terasa Seperti Mengeluarkan Uang
Salah satu perubahan yang muncul dari pembayaran digital adalah berkurangnya rasa “kehilangan uang” saat bertransaksi. Ketika menggunakan uang tunai, seseorang dapat melihat jumlah uang yang berkurang secara langsung. Sementara itu, pembayaran melalui QRIS hanya membutuhkan beberapa detik dan tidak melibatkan uang fisik.
Contohnya dapat terlihat dalam kebiasaan sehari-hari mahasiswa. Membeli minuman seharga Rp10.000 mungkin terasa kecil. Ditambah makanan ringan Rp15.000 dan kopi Rp20.000, jumlahnya menjadi Rp45.000 dalam satu hari. Jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali, pengeluaran kecil tersebut dapat berubah menjadi jumlah yang cukup besar dalam satu bulan.
Kemudahan pembayaran akhirnya dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian spontan tanpa terlalu mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangannya.
Apakah QRIS Membuat Masyarakat Lebih Konsumtif?
Kemudahan pembayaran digital memang tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi konsumtif. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan pembayaran digital dengan kecenderungan melakukan pembelian impulsif.
Rumbik, Kurniawan, dan Ginting (2024) menemukan bahwa penggunaan pembayaran digital dapat berkaitan dengan perilaku konsumtif Generasi Z, terutama ketika kemampuan mengelola keuangan belum cukup baik. Penelitian Kartawinata dan Akbar (2025) juga menunjukkan adanya hubungan penggunaan pembayaran QR dengan pembelian impulsif.
Penelitian Dewi dan rekan-rekan (2025) bahkan membahas fenomena instant gratification, yaitu keinginan mendapatkan kepuasan secara cepat yang dapat mendorong perilaku konsumtif pada konsumen muda.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan terletak pada QRIS sebagai alat pembayaran, tetapi pada bagaimana seseorang mengendalikan keputusan ketika transaksi menjadi semakin mudah.
QRIS Bukan Musuh Konsumen
QRIS tetap memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Bagi pelaku usaha, QRIS juga membantu menyediakan pilihan pembayaran yang lebih fleksibel bagi konsumen.
Karena itu, QRIS tidak tepat jika dianggap sebagai penyebab utama perilaku konsumtif. Justru, penggunaan QRIS perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan.
Sebelum melakukan pembayaran, seseorang dapat membiasakan diri bertanya: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah sudah masuk dalam anggaran, dan apakah pengeluaran tersebut akan mengganggu kebutuhan lainnya?
Jangan Sampai “Tinggal Scan” Berubah Menjadi “Tinggal Boros”
Kemajuan pembayaran digital merupakan bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat. Transaksi yang dahulu membutuhkan uang tunai kini dapat dilakukan dengan cepat melalui telepon pintar. Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak keuntungan, tetapi tetap membutuhkan kontrol dari penggunanya.
QRIS boleh gratis dan transaksi boleh semakin mudah, tetapi kemampuan mengatur uang tetap menjadi tanggung jawab masing-masing. Jangan sampai kemudahan “tinggal scan” justru membuat kebiasaan belanja menjadi “tinggal boros”.
Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa mudah seseorang melakukan transaksi, tetapi juga seberapa bijak ia menentukan apa yang perlu dibeli.
Revalina Putri Pratami, Universitas Pamulang
