Konten dari Pengguna

Resesi Harga Mati: Jalan Ekonomi Indonesia

Revina Nanda Amalia

Revina Nanda Amalia

Political Science Student at Universitas Padjadjaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Revina Nanda Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suber foto: dokumentasi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Suber foto: dokumentasi pribadi penulis

Kegelisahan ekonomi kini menimpa hampir seluruh negara di dunia. Perlambatan ekonomi yang menajam dan meluas, hingga inflasi yang mencapai angka tertingginya selama satu dekade ini menjadi puncak bagi kegelisahan ekonomi yang diperkirakan akan membuka jalan panjang resesi ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global jika dikutip dari laman International Monetary Fund (IMF), telah terjadi perlambatan. Tercatat pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi ada di kisaran 6,0%, sedangkan pada tahun 2022 pertumbuhan ekonomi global berada pada angka 3,2%. Perlambatan ekonomi ini diperkirakan akan terus melambat pada tahun berikutnya.

Bukan tidak mungkin kondisi yang demikian akan terjadi dalam jangka waktu yang panjang dengan pertimbangan meningkatnya biaya hidup, meningkatnya pengangguran, ketatnya kondisi keuangan di banyak wilayah dan negara di dunia, invasi perang, hingga keterpurukan ekonomi pasca pandemi covid-19. Ambil contoh inflasi yang meningkat secara tajam selama satu tahun ini, tercatat tinggi inflasi pada tahun 2022 mencapai 8,8%. Angka tersebut cukup tinggi jika merujuk pada tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar 4,7%.

Lalu bagaimana kondisi tersebut sebenarnya akan mempengaruhi Indonesia? Ada beberapa hal yang dapat ditilik untuk melihat bagaimana resesi akan mempengaruhi kegiatan ekonomi baik internal dan eksternal Indonesia.

Pasalnya output global berkontraksi pada kuartal kedua tahun ini akibat dari penurunan kegiatan ekonomi di dua negara besar yaitu Cina dan Rusia. Di Cina sendiri, akibat dari kebijakan yang ditujukan untuk menurunkan tingkat inflasi bank sentral akan menaikan suku bunga sebagai simulasi. Sayangnya kebijakan tersebut akan mengorbankan sektor investasi dan konsumsi yang keduanya akan berkontribusi pada penurunan permintaan ekspor. Cina sebagai salah satu negara yang bergantung pada ekonomi global terutama ekspor dan impor diprediksi akan mengalami perlambatan laju ekonomi. Dengan begitu, sebagai bagian terbesar dari dinamika ekonomi Asia Tenggara, bukan tidak mungkin kondisi tersebut akan mempengaruhi Indonesia.

Sedikit berbeda dari kondisi Cina, kondisi invasi Rusia ke Ukraina akan memiliki pengaruh pada perdagangan Batubara. Mengapa demikian? ketergantungan negara-negara Eropa yang tinggi terhadap ekspor gas Rusia akan membuat mereka berusaha mencari alternatif tenaga baru dan batubara menjadi salah satu pilihannya. Hal ini dapat sedikit banyak membantu sektor ekspor di Indonesia, meskipun belum dapat diperkirakan apakah efek bersih dari alternatif ekspor ini dapat secara signifikan membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke dalam stabilitasnya.

Namun meskipun begitu, saya memperkirakan bahwa lima tahun ke depan kondisi ekspor dan impor Indonesia masih dalam kategori stabil. Dampak dari perubahan dinamika ekspor tidak akan terlalu dirasakan oleh Indonesia sebagaimana dirasakan oleh negara lainnya di Asia Tenggara seperti Singapura. Meskipun termasuk negara yang berada di regional yang sama, produksi ekspor di Singapura merupakan pemasukan terbesar dalam Produk Domestik Bruto. Sedangkan dalam kasusnya di Indonesia, ekspor memiliki porsi yang relatif kecil pada PDB.

Selain dari sektor impor dan ekspor, hal lain yang tak kalah pentingnya adalah perilaku konsumtif dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi neraca berjalan. Tingkat konsumtif Indonesia yang relatif tinggi memberikan manfaat bagi kemandirian ekonomi. Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kuartal I tahun 2022 mencapai 53,65% dalam PDB atau sekitar Rp 2,42 kuadriliun. Namun melihat resesi telah menjadi suatu fenomena yang menjadi kekhawatiran bersama, bukan tidak mungkin akan terjadi perubahan pada pola konsumsi masyarakat Indonesia.

kecenderungan untuk menyimpan uang sebagai bentuk dana darurat dalam tabungan memang memiliki tendensi untuk menurunkan tingkat inflasi, tetapi sayangnya hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap penurunan hasrat ekonomi. Hal yang demikian merupakan kesadaran kolektif yang diambil masyarakat sebagai “rational choice” nya. Suatu tren akan lebih mudah untuk diikuti terutama jika kondisi ekonomi dan sosial cenderung tidak stabil dan mengalami perubahan. Kebingungan dan kurangnya informasi yang diterima membuat pilihan mayoritas dipandang sebagai pilihan paling rasional.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Terlepas dari dilema yang dihadapi dari resesi ekonomi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2023, terdapat keuntungan dari kurang kuatnya produksi ekspor dan kurang terintegrasinya Indonesia dengan dinamika ekonomi global tersebut. Namun sayangnya, keuntungan atas disintegrasi tersebut juga dapat berpengaruh pada perlambatan proses pemulihan ekonomi Indonesia lima tahun ke depan jika dampak resesi menyebabkan ekonomi Indonesia ke dalam kondisi terpuruknya.

Berpacu dari pemikiran John Maynard Keynes yang menyebutkan bahwa pasar ekonomi tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri, maka dalam kasus potensi resesi ekonomi global yang secara garis besar juga akan mempengaruhi Indonesia perlu adanya intervensi atau campur tangan pemerintah melalui kebijakan moneter dan fiskal.

Kebijakan moneter perlu ada sebagai pemulihan stabilitas harga dan keseimbangan eksternal yang tidak dapat dicapai tanpanya seperti menaikan suku bunga, sedangkan kebijakan fiskal dimaksimalkan untuk mengurangi tekanan atas biaya hidup. Campur tangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan output ekonomi dan mengurangi angka pengangguran. Hal yang demikian penting karena harga dan upah sebagai salah satu bagian penting dalam ekonomi memerlukan waktu untuk menyesuaikan kondisi ekonomi di negara terkait. Selain itu, belum siapnya masyarakat Indonesia secara ekonomi dalam pasar bebas juga membuat intervensi menjadi salah satu jalan bagi solusi alternatif resesi.

Langkah terakhir yang juga dapat dilakukan sebagai bentuk usaha Indonesia dalam menghadapi resesi adalah reformasi struktural dengan meningkatkan produktivitas dan mencegah serta meminimalisir kendala pasokan barang. Hal tersebut dilakukan berbarengan dengan penguatan kerja sama multilateral dalam mendukung integrasi ekonomi, transisi energi, serta mencegah terjadinya fragmentasi ekonomi.

Referensi

Backhouse, R. E., & Bateman, B. W. (2011). Capitalist Revolutionary: John Maynard Keynes. Harvard University Press.

Basri, M. C. (2022, October 10). Resesi Global dan Pilihan Kebijakan. Kompas.id. Retrieved October 24, 2022, from https://www.kompas.id/baca/opini/2022/10/10/resesi-global-dan-pilihan-kebijakan

Miraza, B. H. (2019, Desember). Seputar Resesi dan Depresi. Jurnal Ekonomi KIAT, 30(2), 11-13.

Mudassir, R. (2022, February 24). Dampak Invasi Rusia, Harga Batu Bara Cetak Rekor Tertinggi US$270 per Ton. Ekonomi-bisnis. Retrieved October 24, 2022, from https://ekonomi.bisnis.com/read/20220224/44/1504638/dampak-invasi-rusia-harga-batu-bara-cetak-rekor-tertinggi-us270-per-ton