Menimbang Kembali Pentingnya Pilihan Kata dalam Komunikasi Verbal

Mahasiswa Universitas Pamulang Ilmu Komunikasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Revo Sapto Gunoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda menghitung berapa banyak kata yang kita ketik di grup obrolan, kita lempar di kolom komentar media sosial, atau kita ucapkan waktu mengobrol langsung setiap harinya? Sebagai makhluk sosial, kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk berinteraksi. Sayangnya, walau sekarang teknologi membuat kita makin gampang terhubung, mengapa ya rasanya makin sering terjadi salah paham? Media sosial penuh dengan orang saling sindir, debat kusir yang tidak ada ujungnya, dan di dunia nyata pun urusan bisa mendadak runyam cuma gara-gara salah pilih kata.
Kita sering kali terlalu fokus pada apa yang mau kita sampaikan, sampai lupa memikirkan konteks dan bagaimana pesan tersebut ditangkap oleh orang lain. Di sinilah pentingnya kita kembali membedah esensi dari Komunikasi Verbal. Mengerti teori komunikasi bukan sekadar untuk kebutuhan akademis di ruang kuliah, melainkan sebuah panduan esensial agar kita bisa bertahan dan membangun hubungan yang sehat di tengah masyarakat. Komunikasi yang sukses dan efektif pada akhirnya bukan soal seberapa tinggi bahasa kita, tetapi tentang bagaimana pesan tersebut bisa dipahami bersama secara tepat.
Membedah Isi Dapur Komunikasi Verbal: Kata dan Bahasa
Secara mendasar, komunikasi verbal adalah semua jenis pertukaran pesan yang menggunakan kata-kata, baik yang disampaikan lewat obrolan lisan maupun goresan tulisan. Struktur ini paling banyak kita pakai dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan perasaan, melontarkan isi pikiran, berdebat, bertukar gagasan, hingga saat kita bertengkar dengan pasangan.
Ada dua unsur utama yang membangun ruang komunikasi ini, yaitu kata dan bahasa. Mari kita bedah satu per satu agar kita paham bagaimana keduanya bekerja dalam keseharian kita.
Mengapa Pria dan Wanita Sering Tidak Nyambung?
Salah satu produk komunikasi verbal yang paling menarik untuk diamati adalah interaksi dalam hubungan kedekatan, seperti hubungan suami istri. Setiap hari, pasangan pasti menggunakan komunikasi verbal dan memakai bahasa yang sama-sama dimengerti. Namun, kenapa tetap saja ada drama salah paham?
Hal ini terjadi karena penggunaan bahasa oleh pria dan wanita sering kali memicu persepsi yang berbeda jauh. Berdasarkan amatan para ahli komunikasi, wanita cenderung tertarik pada sebuah pencapaian atau cita-cita, tetapi mereka memilih mengejarnya dengan mengutamakan kedok hubungan interpersonal. Sebaliknya, pria juga tertarik pada prestasi dan berusaha menghindari kesendirian, tetapi mereka mengejarnya dengan kedok kompetisi atau oposisi.
Belajar dari Kasus Nyata: Dampak Salah Pilih Kata di Dunia Kerja
Pentingnya menjaga konteks dan karakteristik komunikasi verbal ini akan terlihat sangat jelas saat kita dihadapkan pada situasi nyata di lingkungan profesional. Mari kita bedah sebuah contoh kasus yang kerap terjadi di perkantoran zaman sekarang, yaitu gesekan antara generasi senior dengan pekerja muda akibat perbedaan media dan gaya bahasa.
Kronologi Kasus
Di sebuah perusahaan kreatif, seorang manajer senior terbiasa memberikan instruksi kerja yang panjang lebar secara lisan melalui rapat langsung atau telepon. Di sisi lain, dia memiliki tim desainer muda yang lebih nyaman berkomunikasi secara tertulis dan ringkas lewat aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.
Suatu hari, sang manajer mengirimkan pesan teks singkat di grup kantor tanpa tanda baca: "Kerjaan kemarin berantakan segera perbaiki saya tunggu sore ini".
Bagi sang manajer, kalimat itu hanyalah sebuah instruksi denotatif yang ringkas agar timnya cepat bergerak. Namun bagi staf mudanya, ketiadaan intonasi dan pilihan kata "berantakan" memicu makna konotatif yang negatif. Pesan tertulis tersebut dipersepsikan sebagai sebuah amarah besar, teguran keras, dan bentuk tidak menghargai proses kerja.
Akibatnya, suasana kerja hari itu menjadi sangat kaku. Anggota tim merasa tertekan, kehilangan motivasi kerja, dan memilih membalas pesan tersebut dengan laporan tertulis yang sangat formal dan dingin. Hasil revisi pekerjaan pun menjadi tidak maksimal karena mereka takut untuk bertanya lebih lanjut demi menghindari konflik verbal yang lebih besar.
