Konten dari Pengguna

Beli Karena Viral, Buang Karena Kecewa: Konsumsi Impulsif dan Ancaman bagi Bumi

Betari Arumi Ayuningtyas

Betari Arumi Ayuningtyas

Siswi SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Betari Arumi Ayuningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Di era digital seperti sekarang, media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi momen, tetapi juga telah berubah menjadi panggung promosi yang sangat berpengaruh terhadap keputusan konsumsi masyarakat. Generasi muda khususnya, sangat rentan terhadap konten viral yang menggoda di TikTok, Instagram, dan YouTube. Makanan yang belum pernah dicoba pun langsung menjadi incaran hanya karena banyak dibahas oleh influencer. Akibatnya, masyarakat sering kali membeli produk bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk mengikuti tren. Budaya ini secara perlahan membentuk pola konsumsi yang impulsif, tidak berkelanjutan, dan berpotensi menciptakan pemborosan.

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Salah satu contoh nyata dari budaya konsumsi karena tren adalah fenomena "donat Pinkan Mambo". Produk ini sempat viral karena dijual seharga Rp200.000 per kotak, tetapi kemudian menuai banyak ulasan negatif dari para food vlogger dan konsumen. Mereka menilai rasa dan kemasan produk tersebut tidak sebanding dengan harganya. Meski demikian, minat pembelian tetap tinggi. Banyak orang tetap membelinya karena tidak ingin merasa ketinggalan, sebuah kondisi psikologis yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Survei dari Narrators Indonesia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 89% konsumen Indonesia membeli berdasarkan pengaruh media sosial, dan 68% Gen Z mengaku membeli produk hanya karena tren, bukan karena kebutuhan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tekanan sosial dalam membentuk keputusan konsumsi.

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Seberapa besar dampak konsumsi impulsif bagi lingkungan? Pola konsumsi impulsif yang didorong oleh tren tidak hanya merugikan secara pribadi, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Banyak produk makanan yang dibeli akhirnya dibuang karena tidak sesuai ekspektasi, menciptakan limbah makanan yang besar. Menurut kajian Bappenas tahun 2021, Indonesia menghasilkan sekitar 23–48 juta ton sampah makanan setiap tahunnya. Kerugian ekonomi akibat limbah ini mencapai Rp231 hingga Rp551 triliun per tahun. Selain itu, sampah makanan juga menyumbang 7,29% emisi gas rumah kaca nasional, memperparah krisis iklim yang sedang kita hadapi. Masalah ini menjadi bukti bahwa konsumsi impulsif akibat tren bukan persoalan sepele, melainkan masalah struktural yang mempengaruhi keberlanjutan bumi.

Perilaku membeli tanpa pertimbangan telah berkontribusi besar terhadap timbunan limbah makanan yang ironisnya bertentangan langsung dengan tujuan SDGs 12. Tujuan ini menekankan pentingnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, termasuk target 12.3 yang bertujuan mengurangi separuh limbah makanan global per kapita pada tahun 2030. Namun, realita menunjukkan bahwa banyak makanan dibeli hanya demi mengikuti tren, lalu berakhir di tempat sampah karena tidak sesuai ekspektasi. Kebiasaan ini menggambarkan bahwa kesadaran akan tanggung jawab sebagai konsumen masih rendah, terutama di kalangan generasi muda yang rentan terhadap tekanan media sosial. Tanpa upaya untuk mengubah pola pikir dari "ikut-ikutan" menjadi "sadar lingkungan", maka target SDG 12 tidak akan tercapai, dan bumi akan terus menanggung beban dari perilaku konsumtif yang tak terkendali.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi budaya konsumtif ini adalah melalui gerakan "Ulas Sebelum Beli". Gerakan ini mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk membaca ulasan dan menimbang kembali kebutuhan sebelum membeli produk viral. Dengan menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis sebelum membeli, konsumen akan terhindar dari pemborosan dan potensi kecewa. Gerakan ini sejalan dengan target SDG 12 yang mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup berkelanjutan. Di lingkungan sekolah, kampanye seperti ini dapat diintegrasikan dalam proyek sosial atau program literasi digital agar siswa menjadi lebih bijak sebagai konsumen.

Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.

Menjadi konsumen bijak di tengah gempuran tren viral ternyata bukan hanya soal pengendalian diri, tetapi juga tentang kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bersama. Setiap keputusan membeli membawa dampak: bukan hanya bagi dompet pribadi, tetapi juga terhadap jumlah limbah dan jejak karbon yang ditinggalkan. Kesadaran ini penting agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam pola konsumsi yang sia-sia dan merusak. Dengan membiasakan diri untuk bertanya, menimbang, dan mencari tahu sebelum membeli, kita ikut serta membentuk budaya konsumsi yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Pilihan kecil seperti "tidak membeli makanan viral hanya karena tren" bisa menjadi awal dari perubahan besar, karena bumi tidak menuntut kita menjadi sempurna, cukup sadar dan bertanggung jawab.