Konten dari Pengguna

Inovasi Jamu Celup, Mahasiswa BBK UNAIR Dukung UMKM warga Desa Gumeng, Mojokerto

Reyfika Diva Ferestha
Mahasiswa aktif S1 Gizi Universitas Airlangga
29 Juli 2025 9:49 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Inovasi Jamu Celup, Mahasiswa BBK UNAIR Dukung UMKM warga Desa Gumeng, Mojokerto
Mahasiswa BBK 6 UNAIR kenalkan inovasi jamu celup di Desa Gumeng, Mojokerto lewat pelatihan praktis. Program ini dukung ekonomi lokal dan gaya hidup sehat, sejalan dengan tujuan SDGs.
Reyfika Diva Ferestha
Tulisan dari Reyfika Diva Ferestha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kegiatan Pelatihan "Jamu Celup" bersama Kepala Desa dan Ibu PKK Gumeng, Mojokerto
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Pelatihan "Jamu Celup" bersama Kepala Desa dan Ibu PKK Gumeng, Mojokerto
ADVERTISEMENT
Gondang, Mojokerto — Mahasiswa peserta program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 dari Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan penyuluhan dan pelatihan inovasi pembuatan jamu celup di Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto pada Kamis, 17 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam mendorong pengembangan usaha lokal warga desa melalui diversifikasi produk berbasis potensi herbal tradisional.
ADVERTISEMENT
Desa Gumeng dikenal sebagai wilayah yang terpencil dan memiliki akses distribusi terbatas ke pusat kota. Kondisi tersebut membuat usaha jamu tradisional seperti beras kencur atau sinom sulit berkembang karena jamu cair tidak dapat bertahan lama dan memerlukan penyimpanan khusus. Ditambah lagi, melimpahnya tanaman obat dan rempah-rempah yang tumbuh di lereng Gunung Anjasmoro, membuat warga Desa Gumeng rutin mengkonsumsi jamu. Oleh karena itu, mahasiswa BBK 6 UNAIR menggagas inovasi jamu celup sebagai solusi praktis dan berkelanjutan agar produk jamu lebih awet, mudah dibawa, dan memiliki potensi pasar yang lebih luas.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memberikan edukasi mengenai manfaat jamu bagi kesehatan, potensi pasar jamu di era modern, serta praktik langsung pembuatan jamu celup menggunakan bahan herbal lokal seperti kunyit, telang, jahe, rosella, dan temulawak. Warga juga diajak untuk mencoba proses pengeringan sederhana serta teknik pencampuran bahan yang higienis dan mudah diterapkan. Selain itu, peserta diberikan pelatihan mengenai cara pengemasan jamu celup yang menarik dan fungsional agar lebih layak dipasarkan secara profesional. Sebagai bagian dari sesi praktik, peserta juga diajak mencicipi hasil uji coba (trial and error) jamu celup yang telah dikembangkan sebelumnya oleh penanggung jawab kegiatan, yaitu Reyfika Diva, mahasiswa Gizi, dan Ramdhani Maulana Divano, mahasiswa Vokasi.
Praktik pembuatan jamu celup bersama Ibu PKK Desa Gumeng, Mojokerto
Kegiatan ini mendapat antusiasme yang tinggi dari ibu-ibu PKK dan pelaku usaha jamu di desa. Ketua PKK Desa Gumeng, Ibu Susi, menyambut baik inovasi ini dan memberikan tanggapan positif. “Jamunya enak mbak, nanti saya mau coba praktek. Selama ini warga cuma buat jamu kalau ada pesanan karena bawanya yang ribet sama susah,” ujarnya setelah mencicipi hasil pelatihan jamu celup.
ADVERTISEMENT
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNAIR berharap dapat memantik semangat wirausaha di kalangan warga desa, khususnya para ibu PKK, untuk mengembangkan produk jamu yang lebih inovatif, tahan lama, dan memiliki nilai jual tinggi. Dengan inovasi ini, jamu tradisional tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghasilan baru yang relevan dengan kebutuhan pasar masa kini.
Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Tujuan 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pelatihan pembuatan jamu celup, masyarakat diperkenalkan pada alternatif gaya hidup sehat berbasis bahan alam lokal yang lebih aman dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini mendorong peningkatan keterampilan warga dalam bidang produksi dan pengemasan, yang dapat membuka peluang usaha baru dan menciptakan sumber penghasilan tambahan. Dengan memanfaatkan bahan herbal lokal secara optimal dan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, warga diajak untuk mengembangkan pola konsumsi dan produksi yang lebih bijak dan ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT