Mengubah Sampah Menjadi Rupiah, Sekaligus Menjaga Kelestarian Lingkungan

Mahasiswa ilmu komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Tulisan dari Reymus Jordan Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengelolaan sampah di Indonesia
Sampah merupakan benda yang tidak digunakan lagi, tidak memiliki nilai, dan dibuang. Sampah yang tidak diolah dengan baik mengakibatkan sampah menumpuk hingga menggunung. Menurut data dari SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) Timbunan Sampah di Indonesia sebanyak 23,519,142.48(ton/tahun) dan sebanyak 39.09% atau 9,194,422.27 (ton/tahun) sampah tidak terkelola. Maka bisa dibayangkan betapa banyak sampah yang menggunung akibat tidak terkelola.
Program MBKM KWU Berbasis Lingkungan
Mahasiswa Ilmu komunikasi, Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kewirausahaan berbasis lingkungan, bekerjasama dengan Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS).
Mahasiswa bergerak untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan cara mengubah sampah menjadi uang. Kegiatan ini dibantu dengan bimbingan dari Dra. Noorshanti Suumarah, M.I.Kom dan Herlina Kusumaningrum, S.SOS., MA, dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Kegiatan ini berjalan selama 2 bulan, mulai tanggal 14 Oktober-16 Desember 2021.
Pelestarian Lingkungan dan Mendapatkan Rupiah Melalui Pengelolaan sampah
Melalui pelatihan yang dilakukan oleh BSIS, para mahasiswa diajarkan bagaimana cara mengubah sampah dapat menjadi uang. Dimulai dari cara memilah sampah, hingga bagaimana cara mensosisalisasikannya ke masyarakat.
Sampah sering kali hanya dibuang begitu saja oleh masyarakat. Padahal sebenarnya memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Disini mahasiswa memiliki tugas untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat, bahwa sampah juga bisa menjadi uang, jika mau mengeluarkan sedikit tenaga untuk memilah sampah.
Pada praktik lapangan, warung dan kedai yang didatangi cukup antusias untuk memilah dan menjual sampah mereka. Mereka sangat senang, karena hanya dari sampah mereka bisa menghasilkan uang. Sampah yang biasanya hanya dibuang saja, kini bisa menjadi uang.
Meskipun demikian tidak semua orang mau untuk memilah sampah. Hal ini dikarenakan mereka merasa bahwa memilah sampah itu hanya menyusahkan saja. Mereka sudah terbiasa dengan sampah yang langsung dibuang tanpa dipilah, dan nantinya akan diambil oleh tukang sampah. Padahal hanya dengan sedikit mengeluarkan tenaga untuk memilah sampah, kita bisa menghasilkan uang.
Selain bisa menghasilkan uang, memilah sampah artinya kita semua berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Maka dari itu, jika tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi yang akan memulai.
