Serba-serbi Gunung Poco Likang Ruteng NTT

Sosiologi Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reynald Marjun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gugusan pegunungan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menyimpan daya tarik luar biasa bagi para pencinta alam. Salah satu destinasi pendakian menantang yang kini menarik perhatian penjelajah adalah kawasan perbukitan dan puncak di wilayah Poco Likang, Kabupaten Manggarai yang puncaknya menjulang hingga ketinggian 2.370 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Berada di kawasan berhawa dingin ekstrem dengan topografi lebat khas dataran tinggi Flores, wilayah ini menawarkan lanskap alam yang memukau sekaligus ujian ketahanan fisik yang nyata. Jalur pendakian ini terbuka bagi pendaki pemula maupun yang ingin berkemah (camping), dengan ketentuan biaya retribusi masuk sebesar Rp25.000 per orang.
Bagi pelancong yang berencana mendaki, pemahaman mengenai rincian pos perjalanan khususnya area berkemah di Pos 5 dekat kawasan danau serta strategi pendakian menjadi kunci keselamatan (safety first).
Karakteristik Jalur, 7 Pos Perhentian, dan Titik Berkemah di Pos 5
Pendakian menuju puncak Poco Likang (2370 MDPL) diwarnai oleh kombinasi jalur perkebunan warga, vegetasi hutan tropis dataran tinggi yang rapat, serta morfologi tanah vulkanik. Perjalanan pendakian ini terbagi secara sistematis ke dalam tujuh pos perhentian:
Struktur 7 Pos Pendakian: Jalur dimulai dari pos awal (Pos 1) di zona kaki gunung, melewati area perkebunan kopi dan hortikultura warga (Pos 2 dan Pos 3), memasuki batas awal hutan lebat (Pos 4), area punggungan bukit bervegetasi rapat (Pos 5 dan Pos 6), hingga tiba di titik puncak utama (Pos 7) di ketinggian 2.370 MDPL.
Area Berkemah (Camping Ground) di Pos 5: Bagi pendaki yang memilih untuk tidak melakukan pendakian kilat (tektok) dan ingin menikmati suasana malam di alam bebas, Pos 5 menjadi titik terbaik dan paling ideal untuk mendirikan tenda.
Area ini memiliki kontur yang relatif datar dan berada di sekitar kawasan cekungan yang menyerupai danau kecil atau sumber air di ketinggian, menyuguhkan suasana bermalam yang asri sekaligus menantang di tengah dinginnya kabut Flores.
Estimasi Waktu Tempuh: Bagi pendaki yang sudah terbiasa naik gunung atau memiliki fisik terlatih dengan gaya tektok, durasi trekking naik memakan waktu sekitar 2 hingga 4 jam perjalanan. Sementara itu, bagi pendaki yang membawa perlengkapan camping menuju Pos 5, waktu tempuh dapat disesuaikan dengan membawa beban (packing) secara lebih santai (steady pace).
Strategi Waktu Terbaik: Tektok Pukul 04.00 Pagi vs Berkemah
Bagi pendaki yang tidak bermalam di Pos 5 dan memilih metode tektok (pulang-pergi tanpa tenda), memulai perjalanan pada pukul 04.00 pagi adalah strategi terbaik:
Berangkat pukul 04.00 pagi memungkinkan pendaki tiba di punggungan atas saat fajar untuk menikmati keindahan lautan awan, sekaligus menghindari risiko terjebak badai kabut tebal atau hujan sore hari.
Sementara bagi yang memilih camping di Pos 5, pendakian bisa dimulai lebih santai pada siang atau sore hari agar bisa mendirikan tenda sebelum malam menjelang.
Informasi Tiket Masuk dan Perizinan Kawasan
Setiap pengunjung atau pendaki yang ingin mengeksplorasi jalur resmi Gunung Poco Likang wajib memperhatikan aturan administratif:
Biaya Retribusi/Tiket Masuk: Dikenakan biaya tiket masuk kawasan sebesar Rp25.000 per orang, yang dialokasikan untuk pengelolaan jalur, kebersihan, dan koordinasi dengan pos pendaftaran setempat.
Registrasi Pendakian: Wajib melapor kepada pengelola atau pemandu lokal sebelum memulai pendakian, baik bagi yang ingin berkemah di Pos 5 maupun pendaki tektok.
Standar Keselamatan (Safety) dan Perlengkapan Wajib
Mengingat suhu di ketinggian 2370 MDPL dan area sekitar Pos 5 bisa merosot drastis hingga mendekati titik beku, standar perlengkapan pendakian wajib dipatuhi:
Perlengkapan Berkemah yang Memadai: Jika bermalam di Pos 5, pastikan menggunakan tenda tahan angin (windproof), sleeping bag bersuhu ekstrem, matras tebal, dan flysheet tambahan.
Pakaian Hangat Berlapis (Layering System): Gunakan jaket tahan angin/air (windproof/waterproof), pakaian termal, sarung tangan tebal, dan kupluk wol untuk mencegah hipotermia.
Alas Kaki dan Alat Bantu: Gunakan sepatu trekking bersol kuat karena jalur tanah vulkanik sangat licin. Membawa headlamp bagi yang berangkat pukul 04.00 pagi atau beraktivitas malam hari di tenda.
Logistik, P3K, dan Pemandu: Membawa persediaan air dan makanan berkalori tinggi yang cukup, obat-obatan pribadi, serta sangat dianjurkan didampingi oleh guide lokal.
Larangan Ketat dan Kepedulian Lingkungan-Adat
Kelestarian ekosistem di sekitar jalur pendakian hingga kawasan Pos 5 dan danau wajib dijunjung tinggi oleh setiap pendaki melalui aturan tegas berikut:
Dilarang Membuang Sampah Sembarangan: Wajib membawa turun kembali seluruh sampah pribadi (pack it in, pack it out) demi menjaga kemurnian alam dan sumber air.
Dilarang Merusak Lahan dan Tanaman Warga: Menjaga kebun di pos-pos bawah dan tidak mengganggu flora-fauna di dalam kawasan hutan.
Dilarang Membuat Titik Api Sembarangan: Menghindari potensi kebakaran hutan akibat angin gunung yang kencang.
Dilarang Melanggar Norma Sosial dan Adat: Menjaga etika, kesopanan, dan tutur kata selama berada di wilayah adat Manggarai.
