Konten dari Pengguna

Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial: Tantangan Pemerataan di Indonesia

Reyvald Pratama

Reyvald Pratama

mahasiswa manajemen universitas pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reyvald Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar ilustrasi kemiskinan sumber: https://images.pexels.com/photos/37041735/pexels-photo-37041735.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
gambar ilustrasi kemiskinan sumber: https://images.pexels.com/photos/37041735/pexels-photo-37041735.jpeg

Kemiskinan dan kesenjangan sosial di Indonesia masih menjadi tantangan dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Meskipun pembangunan ekonomi bertujuan meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, dan memperbaiki kualitas hidup, manfaat pertumbuhan ekonomi belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagian masyarakat dapat menikmati peningkatan kesejahteraan, sementara sebagian lainnya masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diimbangi dengan kebijakan pemerataan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih adil oleh masyarakat Indonesia.

Kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan dua persoalan yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemiskinan berkaitan dengan keterbatasan kemampuan seseorang atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu, kesenjangan sosial menggambarkan ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan, sumber daya, dan kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Ketika akses terhadap pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan fasilitas ekonomi tidak merata, masyarakat yang berada dalam kondisi kurang menguntungkan akan lebih sulit meningkatkan kesejahteraannya.

Fitri et al. (2024) mencatat bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 9,78% pada 2019 dan meningkat menjadi 10,14% pada 2020, sebelum turun menjadi 9,36% pada 2023. Data tersebut memperlihatkan bahwa tingkat kemiskinan dapat berubah mengikuti berbagai kondisi ekonomi dan sosial. Di sisi lain, rasio Gini Indonesia tercatat sebesar 0,379 pada Maret 2024 dan meningkat menjadi 0,381 pada September 2024. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemerataan pendapatan juga perlu mendapat perhatian.

Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi atau penurunan angka kemiskinan saja. Pemerataan kesempatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat juga perlu menjadi bagian penting dari pembangunan. Dengan memahami penyebab dan dampak kemiskinan serta kesenjangan sosial, kebijakan yang diterapkan dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Kemiskinan di Indonesia: Penyebab dan Dampaknya

Kemiskinan sering kali dipahami sebagai keadaan ketika seseorang tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pandangan tersebut memang penting, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan kompleksitas persoalan kemiskinan. Kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan yang layak, tempat tinggal, dan sumber daya ekonomi.

Kemiskinan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk. Kemiskinan absolut terjadi ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum. Kemiskinan relatif menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki tingkat kesejahteraan lebih rendah dibandingkan standar kehidupan masyarakat di sekitarnya. Sementara itu, kemiskinan struktural berkaitan dengan kondisi sistem sosial dan ekonomi yang membatasi kesempatan masyarakat untuk berkembang. Adapun kemiskinan multidimensional mencakup berbagai kekurangan yang dialami seseorang, tidak hanya dari sisi pendapatan, tetapi juga dalam pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup.

Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat kemiskinan. Satrya dan Dewi (2025) menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia selama periode 2018–2023 memberikan perhatian pada persoalan kemiskinan dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi dan sosial. Faktor seperti kesempatan kerja, tingkat pendidikan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi perlu diperhatikan ketika membahas perubahan kesejahteraan masyarakat. Dampak pandemi COVID-19 juga memperlihatkan bahwa guncangan ekonomi dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan pendapatannya.

Pendidikan menjadi salah satu aspek penting karena dapat membantu masyarakat memperoleh keterampilan dan kesempatan kerja yang lebih baik. Namun, masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi dapat menghadapi kesulitan untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan keterampilan. Akibatnya, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang memadai menjadi lebih terbatas.

Persoalan tersebut dapat membentuk siklus kemiskinan. Pendapatan yang rendah membatasi akses terhadap pendidikan dan pengembangan keterampilan. Keterbatasan tersebut kemudian dapat mengurangi peluang memperoleh pekerjaan yang lebih baik, sehingga peningkatan pendapatan menjadi semakin sulit. Karena itu, penanggulangan kemiskinan perlu dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada bantuan pendapatan, tetapi juga pada peningkatan kemampuan masyarakat untuk memperbaiki kondisi kehidupannya.

Kesenjangan Sosial di Indonesia dan Hambatan Pemerataan

Kemiskinan berkaitan erat dengan kesenjangan sosial karena ketidakmerataan sumber daya dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kesenjangan sosial tidak hanya terlihat dari perbedaan pendapatan antara kelompok masyarakat, tetapi juga dari perbedaan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, teknologi, dan fasilitas publik.

Fabela dan Khairunnisa (2024) membahas dampak kesenjangan sosial di Indonesia, sedangkan Herdiana (2022) menyoroti keterkaitan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan pembangunan desa. Kedua kajian tersebut relevan untuk memahami bahwa ketimpangan kesempatan dapat menjadi hambatan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apabila pembangunan belum memberikan akses dan manfaat yang seimbang, kelompok masyarakat tertentu berpotensi tertinggal dibandingkan kelompok yang memiliki sumber daya lebih besar.

Salah satu bentuk kesenjangan dapat dilihat dari akses pendidikan dan pekerjaan. Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan fasilitas pendidikan terbatas mungkin menghadapi hambatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Kondisi serupa dapat terjadi pada akses layanan kesehatan dan kesempatan kerja. Ketika fasilitas dan peluang ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah tertentu, masyarakat di daerah lain dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat pembangunan secara optimal.

Perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Teknologi dapat membuka peluang usaha, memperluas pasar, dan memudahkan akses terhadap informasi. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak selalu dapat dinikmati secara merata. Keterbatasan jaringan internet, perangkat digital, dan kemampuan menggunakan teknologi dapat menghambat sebagian masyarakat untuk memanfaatkan peluang ekonomi digital.

Ningsih et al. (2024) membahas kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, termasuk penyebab, dampak, dan solusi kebijakan. Perspektif ini memperlihatkan pentingnya melihat kesenjangan sebagai persoalan yang memiliki banyak dimensi. Perbedaan kesempatan dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan akses ekonomi dapat memengaruhi kemampuan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Dengan demikian, mengurangi kesenjangan sosial bukan berarti menyamakan seluruh kondisi ekonomi masyarakat. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk berkembang. Pemerataan akses terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan kerja menjadi bagian penting agar masyarakat tidak terus terhambat oleh kondisi lingkungan maupun keterbatasan sumber daya.

Solusi Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia

Penanggulangan kemiskinan membutuhkan kebijakan yang saling mendukung. Bantuan sosial tetap diperlukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, terutama ketika menghadapi tekanan ekonomi. Namun, bantuan tersebut perlu dilengkapi dengan program pemberdayaan yang membantu masyarakat meningkatkan kemampuan dan kemandirian ekonominya.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperluas akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan. Program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dapat membantu masyarakat meningkatkan kompetensi dan memperbesar peluang memperoleh pekerjaan. Di samping itu, penciptaan lapangan kerja yang layak dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pendapatan masyarakat.

UMKM memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi karena dapat menyediakan barang dan jasa serta membuka kesempatan kerja. Namun, pelaku UMKM sering menghadapi keterbatasan modal, pemasaran, teknologi, dan kemampuan pengelolaan usaha. Oleh sebab itu, dukungan berupa akses pembiayaan, pendampingan usaha, pelatihan, dan perluasan pasar dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan produktivitasnya. Dukungan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan usaha agar tidak hanya meningkatkan jumlah kegiatan ekonomi, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan usaha.

Pemerataan pembangunan antarwilayah juga perlu mendapat perhatian. Pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, serta perluasan akses internet dapat membantu masyarakat di berbagai daerah memperoleh kesempatan yang lebih seimbang. Kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah sehingga manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di daerah yang sudah berkembang.

Selain melalui kebijakan pemerintah, penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan sosial dapat didukung oleh instrumen sosial seperti wakaf. Yuniara dan Afrianty (2024) membahas wakaf sebagai instrumen untuk membantu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial. Wakaf berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas apabila dikelola secara produktif untuk mendukung kebutuhan dan kegiatan ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, pemanfaatannya memerlukan pengelolaan yang baik, transparansi, dan program yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat agar dampaknya dapat berkelanjutan.

Berbagai langkah tersebut perlu dijalankan secara terpadu. Bantuan sosial dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak, sedangkan pendidikan, pelatihan, penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, dan pembangunan wilayah dapat mendukung peningkatan kesejahteraan dalam jangka panjang. Pelaksanaan kebijakan juga perlu dievaluasi secara berkala agar pemerintah dapat mengetahui apakah program yang dijalankan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan persoalan yang saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kebijakan. Kemiskinan berkaitan dengan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan kesenjangan sosial berhubungan dengan ketidakmerataan sumber daya dan kesempatan. Keduanya dapat saling memperkuat ketika masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi juga menghadapi hambatan dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan akses terhadap teknologi.

Oleh karena itu, pembangunan ekonomi perlu diikuti dengan upaya pemerataan kesejahteraan. Bantuan sosial, peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, pengembangan UMKM, pemerataan infrastruktur, dan pengelolaan wakaf secara produktif dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Setiap kebijakan perlu dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang dicapai, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Ketika kesempatan untuk berkembang semakin terbuka dan akses terhadap sumber daya menjadi lebih merata, upaya mengurangi kemiskinan sekaligus memperkecil kesenjangan sosial akan memiliki landasan yang lebih kuat.

Artikel ini disusun oleh Muhammad Reyvald Pratama, Gilang Ramadhan, Hiskia Aldo, dan Mia Fatima sebagai bagian dari tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia yang diampu oleh Widya Candra Dewi S.E. , M.M., Universitas Pamulang.