Walkot Surabaya Minta Pengelola Mal Tak Tinggikan Pagar: Orang Merasa Takut

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi berkoordinasi dengan pengelola mal di Kota Surabaya. Ia meminta pengelola mal untuk tidak meninggikan pagar.
Eri mengatakan, jika pagar ditinggikan, maka akan mengurangi estetika. Selain itu, ia memastikan soal keamanan dan kenyamanan pengunjung mal di Kota Surabaya.
"Jadi insyaallah nanti kami koordinasikan, yang saya ingin ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut gitu. Padahal kota Surabaya ini aman," kata Eri lewat keterangannya, Rabu (5/8).
Namun, ia tidak meminta untuk membongkar pagar mal, namun hanya menurunkan ketinggian pagar.
"Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar) karena tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua atau tiga mal saja," ucapnya.
Eri menyampaikan, pembangunan pagar mal ini bukan untuk mengantisipasi adanya massa aksi. Namun, untuk estetika dan keamanan pengunjung mal.
Ia mencontohkan seperti di Tunjungan Plaza Mal. Pengunjung seringkali menyeberang sembarangan ketika melewati Jalan Basuki Rahmat.
Hal itu bisa membahayakan pengunjung mal dan pengendara yang melintas. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sering menegur pejalan kaki yang menyeberang sembarangan, baik yang masuk atau keluar dari Tunjungan Plaza Mal.
"Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang lompat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyeberang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada JPO (Jembatan Penyeberangan Orang). Mereka (pemilik mal) menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan atau kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir nanti ada apa-apa atau rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu," ungkap Eri.
Pemkot Surabaya juga telah memasang barrier atau pembatas beton di Jalan Basuki Rahmat. Hal itu dilakukan agar pengunjung mal atau pejalan kaki tidak langsung menyeberang, sehingga haru melewati JPO.
Makanya kalau dilihat dahulu (barrier plastik) itu kan miring-miring nggak karuan. Maka ayo saling menjaga Surabaya dan saya berharap dijaga lah, kalau ada tanda larangan parkir jangan parkir (sembarangan), kalau sudah ditutup barrier jangan belok memotong jalan, agar apa? Nggak ada kecelakaan," kata dia.
Setidaknya dua mal di Kota Surabaya dipasangi pagar di halaman depannya. Satu masih proses pembangunan, satunya lagi sudah selesai.
Pantauan kumparan, pada Jumat (31/7), salah satu mal di kawasan Surabaya Selatan, tepatnya Jalan Ahmad Yani, telah dipasang pagar besi. Pagar itu terpasang mengelilingi area halaman depan mal.
Pagar dengan cat berwarna hijau itu menjulang sekitar 2 meter. Ujung atas pagar besi tersebut berbentuk runcing dan terdapat besi berukuran 10 cm yang menjorok ke depan.
Pagar di mal kawasan Surabaya Selatan itu, di beberapa sisinya, dipasang di atas pagar beton dengan tinggi sekitar 60 sentimeter.
Sementara, mal di kawasan Surabaya Tengah, tepatnya di Jalan Basuki Rahmat, juga tampak terpasang pagar besi yang sama persis seperti di mal kawasan Surabaya Selatan.
Namun, di mal tersebut, pagar besi tidak dipasang di atas pagar beton. Saat ini sebagian masih dalam proses pemasangan pagar.
Tampak terdapat tumpukan pasir di salah satu area di mal kawasan Surabaya Tengah yang digunakan untuk memasang pagar. Terlihat juga beberapa pekerja sedang membangun dan memasang pagar.
Belum ada penjelasan dari pihak mal terkait pemasangan pagar tersebut.
