Mereka Bilang Anak SD Nakal, Tapi Pernahkah Kita Dengarkan Ceritanya?

Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Reza Elsya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali ada anak SD yang ribut di kelas, berlarian di koridor, atau bersuara keras saat jam pelajaran, label "nakal" sering langsung ditempelkan tanpa ampun. Padahal, di balik setiap perilaku yang dianggap mengganggu itu, ada cerita yang sering kali tak sempat kita dengarkan.
Sebagai orang dewasa, kita terbiasa memandang anak-anak dari atas. Kita ingin mereka duduk rapi, menuruti perintah, dan paham aturan seolah mereka sudah punya pemahaman penuh tentang dunia seperti kita. Padahal, usia 6–12 tahun adalah masa di mana otak anak sedang berkembang pesat, termasuk dalam hal mengatur emosi dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka.
Menurut psikolog perkembangan Jean Piaget, anak usia SD masih berada dalam tahap operasional konkret. Mereka mulai bisa berpikir logis, tetapi masih sangat bergantung pada pengalaman langsung.
Maka wajar jika mereka seringkali "mencoba" sesuatu tanpa tahu itu salah atau benar. Satu anak melempar penghapus ke temannya mungkin bukan karena niat jahat, tapi karena ingin bermain atau mencari perhatian.
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih menekankan pada disiplin ketat dan pengukuran prestasi semata. Anak yang tak bisa duduk diam dianggap pembangkang, bukan pembelajar aktif. Guru dan orang tua pun kadang lebih fokus menghentikan perilaku tanpa sempat bertanya, “Kenapa kamu melakukan itu?” Padahal, mendengarkan bisa menjadi kunci. Seorang anak yang sering membuat keributan mungkin sedang menghadapi tekanan di rumah orang tua yang bertengkar, kurang perhatian, atau sekadar belum sarapan pagi. Kita tak akan pernah tahu jika tak mencoba membuka ruang dialog.
Sebagai masyarakat, sudah saatnya kita berhenti memandang anak nakal sebagai masalah, dan mulai melihat mereka sebagai anak-anak yang butuh bantuan untuk memahami dunia. Membuka percakapan, memberi mereka ruang untuk bercerita, dan mengajak mereka berpikir bersama tentang akibat dari tindakan itu, ini adalah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar.
Karena sering kali, anak-anak itu tidak nakal. Mereka hanya belum dimengerti.
Reza Elsya Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang
