Sebab, Bangkit itu Tak Pernah Selesai

Santri - Alumni Lirboyo Kediri - Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reza Fauzi Nazar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Bangkitlah seperti bunga meski tanah tak menyambut hujan." — Rumi.
Pada suatu pagi yang gelap dalam sejarah Indonesia, di awal abad ke-20, beberapa anak muda mendirikan sebuah organisasi kecil bernama Boedi Oetomo. Barangkali mereka tak tahu, atau justru mungkin sangat sadar, bahwa dari celah itulah suara-suara kebangkitan lahir. Hari itu, 20 Mei 1908, yang kini kita sebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional—adalah sebuah penanda, bahwa negeri ini pernah dan ingin terus bangkit. Tapi pertanyaannya kemudian: bangkit dari apa? Dan menuju ke mana?

Dalam kehidupan hari ini yang semakin kompleks, Hari Kebangkitan Nasional terdengar seperti gema yang mengambang di antara seremoni dan slogan. Ia hadir saban tahun, dibacakan di podium-podium, lalu ditinggalkan di balik naskah-naskah pidato. Padahal, bila kita menyimak ulang maknanya, kebangkitan bukan sekadar momentum sejarah. Ia adalah kerja panjang yang tak pernah selesai, sebuah proses penuh luka dan kesadaran, seperti yang ditulis Franz Fanon “Setiap generasi harus menemukan misinya, mengisinya atau mengkhianatinya.”
Fanon berbicara dari Afrika yang babak belur oleh kolonialisme. Tapi luka-luka yang ia sebut tak asing bagi Indonesia. Bangsa ini pun lahir dari hasrat untuk keluar dari penindasan, tapi juga dari pergulatan makna tentang apa itu “bangsa”. Benedict Anderson menyebut bangsa sebagai “komunitas yang dibayangkan” (imagined community). Menurut Anderson, bangsa tidak hadir secara alamiah. Ia dibentuk oleh narasi, oleh bahasa, oleh perasaan senasib. Maka kebangkitan nasional sesungguhnya adalah proyek membayangkan bersama, bukan hanya dalam arti politis, tetapi juga kultural dan eksistensial.
Namun memang, benang-benang imajinasi itu terasa kian kusut. Kita hidup dalam zaman di mana “bangsa” sering kali menjadi kata yang dipakai untuk menutup percakapan, bukan membukanya. Ia menjadi slogan kosong dalam kampanye, bukan ajakan untuk berpikir. Kita melihat bagaimana identitas kebangsaan dikerdilkan dalam kerangka sempit: suku, agama, partai, bahkan merek. Sementara itu, krisis kepercayaan pada institusi, merosotnya kualitas pendidikan, dan hegemoni media sosial membuat generasi muda mudah jenuh terhadap kata-kata besar seperti “kebangkitan”.
Namun apakah kebangkitan harus selalu monumental? Atau justru ia hadir dalam hal-hal yang kecil? Entahlah, namun perhatian yang murni adalah bentuk kasih yang paling langka. Kebangkitan, barangkali, adalah soal memberi perhatian pada hal-hal yang selama ini luput: pada guru-guru yang digaji seadanya tapi terus mengajar, pada petani yang menjaga benih di tengah krisis iklim, pada aktivis yang melawan lupa di tengah arus pragmatisme. Di sinilah kebangkitan menjelma menjadi tindakan-tindakan sunyi yang terus menghidupi ruang sosial kita, jauh dari panggung besar.
Maka Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya perihal sejarah yang sudah lewat, tapi tentang sejarah yang masih berlangsung. Kita sedang—atau harusnya sedang—membentuk ulang makna kebangsaan kita: apakah ia sekadar garis di peta atau rasa dalam dada? Apakah ia ditentukan oleh proyek infrastruktur atau oleh ketahanan budaya? Dan siapa yang kita sebut “bangsa”? Apakah hanya mereka yang mengibarkan bendera, atau juga mereka yang bertahan hidup dalam ketidakadilan sistemik?
Kebangkitan hari ini juga diuji oleh jenis kolonialisme baru yang tak selalu datang dengan meriam. Ia hadir dalam bentuk data yang dicuri, pasar yang dimonopoli, dan budaya yang dilunturkan. Dalam dunia yang semakin tersambung tapi tak selalu saling memahami, kita melihat bentuk baru penjajahan: ketika algoritma dari Silicon Valley lebih tahu kebiasaan kita ketimbang pemerintah sendiri. Apakah kita sedang bangkit, atau justru tenggelam dalam keterikatan baru?
Mungkin kita bisa kembali pada gagasan Paulo Freire tentang conscientização—kesadaran kritis. Freire percaya bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan menundukkan. Ia harus membuat manusia memahami dunia dan berani mengubahnya. Jika Hari Kebangkitan Nasional ingin tetap relevan, maka ia harus kembali menjadi panggilan untuk mendidik, bukan hanya menghafal. Ia harus menghidupkan semangat bertanya, bukan tunduk pada narasi tunggal.
Hari Kebangkitan Nasional bukanlah ritus tahunan yang kering, tetapi momen refleksi: apakah kita masih punya keberanian untuk membayangkan Indonesia? Apakah kita masih sanggup merumuskan apa yang ingin kita bangkitkan? Sebab bangkit tak selalu tentang melawan penjajah, tapi juga melawan ketidakpedulian, ketakutan, dan keengganan berpikir.
Pada akhirnya, kebangkitan adalah soal memilih: apakah kita ingin menjadi bangsa yang hanya mengenang, atau bangsa yang terus bertanya dan bergerak. Kita bisa saja hidup nyaman dalam nostalgia, tapi seperti yang ditulis Albert Camus, “Menjadi manusia adalah menjadi pemberontak.” Dan pemberontakan hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tapi mengangkat kesadaran. Tentang siapa kita, dan apa yang masih perlu kita perjuangkan.
Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya cerita tentang masa lalu, tapi cermin untuk hari ini. Cermin yang tak selalu menyenangkan, tapi justru karena itu penting untuk ditatap. Sebab dari tatapan itulah, kebangkitan bisa dimulai kembali—pelan-pelan, dalam sunyi, tapi pasti. [ ]
