Konten dari Pengguna

Lala dan Aurel

Reza Kaisar

Reza Kaisar

Saya adalah lulusan STMIK Profesional Makassar jurusan Sistem Informasi tahun 2017. Saat ini saya memliki passion untuk menulis, fotografi dan masig banyak lagi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reza Kaisar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lala (kiri) dan Aurel (kanan)
zoom-in-whitePerbesar
Lala (kiri) dan Aurel (kanan)

Di sebuah sudut perpustakaan sekolah yang beraroma buku tua dan kopi dari termos Pak Penjaga, duduklah dua remaja dengan kepribadian yang bertolak belakang: Lala dan Aurel.

Lala adalah definisi dari "angin ribut". Rambutnya selalu sedikit berantakan, tasnya penuh dengan gantungan kunci berisik, dan ia tidak bisa duduk diam lebih dari lima menit. Sebaliknya, Aurel adalah "danau yang tenang". Ia rapi, bicara seperlunya, dan selalu memiliki rencana cadangan untuk rencana cadangannya.

Insiden Proyek Sains

Persahabatan mereka diuji saat Pak Broto memberikan tugas besar: membangun model ekosistem dalam akuarium mini.

"Rel, kita bikin konsep hutan hujan tropis tapi ada lampunya yang bisa kelap-kelip!" seru Lala antusias, tangannya bergerak heboh di udara.

Aurel menghela napas, merapikan letak kacamatanya. "La, ini proyek biologi, bukan dekorasi kamar tumblr. Kita harus fokus pada siklus nitrogen dan filtrasi airnya. Kalau lampunya konslet, ikannya mati."

Lala mengerucutkan bibir. "Kamu terlalu kaku, Rel. Hidup itu butuh bumbu!"

Ketika "Bumbu" Menjadi Bencana

Satu minggu kemudian, di rumah Aurel, kekacauan terjadi. Lala, yang mencoba menambahkan "estetika" pada akuarium tanpa sepengetahuan Aurel, secara tidak sengaja menjatuhkan sekarung kecil pasir warna-warni yang ternyata belum dicuci bersih. Air yang semula bening seketika berubah menjadi keruh kecokelatan.

"Lala!" Aurel berdiri, wajahnya memerah karena kesal. "Aku sudah bilang, ikuti prosedur! Sekarang lihat, filternya macet!"

Lala terdiam. Ia melihat Aurel yang biasanya tenang kini terlihat benar-benar lelah. "Maaf, Rel... aku cuma mau ini kelihatan beda dari yang lain."

Aurel memijat pelipisnya. "Beda itu bagus, La. Tapi kalau fungsionalitasnya hilang, apa gunanya?"

Titik Temu

Suasana sempat dingin selama satu jam. Namun, melihat Lala yang tertunduk lesu sambil mencoba membersihkan pasir dengan saringan kecil, hati Aurel luluh. Ia menyadari bahwa tanpa ide-ide "gila" Lala, proyek mereka mungkin akan sangat membosankan dan terlalu teknis.

"Sini," kata Aurel lembut, mengambil alih selang penyedot. "Kita kuras setengahnya. Terus, pasir warna-warni kamu itu... kita pakai buat hiasan di bagian luar akuarium saja, bukan di dalamnya. Gimana?"

Mata Lala langsung berbinar. "Jadi semacam bingkai mozaik?"

"Tepat. Keamanan terjamin, estetika dapat."

Hasil Akhir

Pada hari presentasi, proyek mereka menjadi yang paling menonjol. Bukan hanya karena ekosistem di dalamnya bekerja dengan sempurna sesuai teori biologi, tapi karena tampilannya yang sangat artistik hasil sentuhan tangan Lala.

Pak Broto memberikan nilai A.

Sambil berjalan pulang, Lala merangkul pundak Aurel. "Ternyata kita emang pasangan maut ya, Rel? Struktur ketemu imajinasi."

Aurel tersenyum tipis—sesuatu yang jarang ia lakukan di depan orang lain. "Ya, tapi tolong, proyek depan jangan pakai lampu kelap-kelip lagi, ya?"

Lala tertawa lepas, suaranya memenuhi koridor sekolah, sementara Aurel hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil memastikan langkah mereka tetap lurus menuju gerbang. Persahabatan mereka mungkin tidak selaras dalam nada, tapi mereka menciptakan harmoni yang indah.