Mahasiswa FISIP Sosiologi UB Gelar Aksi Lingkungan di Bajulmati, Gedangan

Mahasiswa sosiologi Universitas Brawijaya yang memiliki hobi dalam menulis dan membaca buku, khususnya tentang teori sosiologi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Reza Firmansyah Putra Kartika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

STARLING UB dan BSTC untuk Edukasi Penyu, Sekolah Alam, serta Penanaman Mangrove
Pada Minggu, 2 November 2025, mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang tergabung dalam divisi STARLING menjalankan program kerja lingkungan di kawasan pesisir Bajulmati, Kecamatan Gedangan, Malang Selatan. Berbeda dari kegiatan lapangan pada umumnya, inisiatif ini menonjol karena dibangun atas kerja sama langsung dengan Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), komunitas lokal yang selama bertahun-tahun menjadi garda terdepan dalam penyelamatan penyu dan pemulihan ekosistem pesisir. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bagaimana kemitraan kampus–komunitas dapat menjadi model penting bagi konservasi berbasis masyarakat.
Program tersebut diprakarsai oleh Reza Firmansyah Putra Kartika, mahasiswa Sosiologi angkatan 2023 sekaligus staf ahli SOSLING. Reza tidak hanya merancang kegiatan ini sebagai rutinitas organisasi, tetapi sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman empiris para pegiat konservasi. Dalam pelaksanaannya, ia didampingi oleh Azwa Safrina Primaputri yang berperan sebagai Wakil Kepala Pelaksana. Azwa memastikan seluruh teknis di lapangan berjalan terarahmulai dari pendataan peserta, penyiapan sesi sekolah alam, koordinasi dengan pihak BSTC, hingga pengawasan selama penanaman mangrove. Peran keduanya menjadi kunci kelancaran rangkaian kegiatan yang terstruktur sepanjang hari itu.
Sekolah Alam tentang Penyu dan Mangrove bersama BSTC
Melalui dukungan BSTC, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai kondisi ekologis Bajulmati. Dalam sesi sekolah alam yang dipandu oleh Mbak Tien selaku Humas BSTC, mahasiswa diperkenalkan pada realitas konservasi penyu yang jarang terlihat oleh publik. Mereka belajar bahwa perburuan telur penyu, kerusakan habitat, serta dampak perubahan iklim masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan satwa ini. Penjelasan mengenai fungsi hutan mangrove, mulai dari perannya menahan abrasi hingga menjadi habitat biota laut, memperluas perspektif peserta tentang betapa kompleksnya ekosistem pesisir.
Kunjungan Lapangan ke Area Konservasi Penyu Bersama BSTC
Kolaborasi ini semakin terasa penting ketika mahasiswa diajak melihat area konservasi penyu secara langsung. Dipandu oleh Mas Iqbal dari BSTC, mereka menyaksikan bagaimana pemantauan sarang dilakukan, bagaimana telur dipindahkan demi menghindari predator, serta bagaimana tukik dirawat sebelum dilepasliarkan. Pengalaman ini membuat peserta menyadari bahwa konservasi bukan sekadar kampanye, melainkan rangkaian kerja berkelanjutan yang membutuhkan tenaga, pengetahuan, dan kedisiplinan.
Penanaman Mangrove sebagai Aksi Pemulihan Ekosistem
Salah satu bagian terpenting dari kegiatan ini adalah aksi penanaman mangrove di area pesisir yang mengalami degradasi. Sekitar 40 bibit berhasil ditanam dengan pendampingan BSTC. Aktivitas ini tidak hanya menjadi simbol partisipasi mahasiswa, tetapi kontribusi nyata terhadap pemulihan ekosistem pesisir Bajulmati. Penanaman ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi mahasiswa dan komunitas lokal dapat menghasilkan dampak ekologis yang terukur.
Sesi Wawancara untuk Mengetahui Tingkat Perburuan di Malang Selatan
Selain edukasi dan aksi lapangan, mahasiswa juga melakukan sesi wawancara mendalam bersama BSTC. Informasi yang diperoleh menjadi bahan kampanye bertema “Stop Perburuan Penyu, Lindungi Satwa di Malang Selatan” yang mereka susun untuk meningkatkan kesadaran publik. Melalui wawancara tersebut, terlihat jelas bahwa upaya konservasi membutuhkan dukungan lebih luas, termasuk dari institusi pendidikan dan generasi muda yang mampu memproduksi wacana serta memperluas jangkauan informasi.
Kegiatan kemudian ditutup pada pukul 16.00 WIB setelah seluruh area dipastikan bersih dari sampah. Pihak BSTC menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa yang dinilai membawa energi positif sekaligus membantu penguatan sosialisasi konservasi di masyarakat. Melalui kerja sama ini, STARLING UB dan BSTC menunjukkan bahwa pelestarian pesisir tidak bisa dikerjakan sendirian. Sinergi antara komunitas lokal, mahasiswa, dan institusi pendidikan adalah contoh bahwa gerakan ekologis yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui kolaborasi yang solid.
