Budaya Komentar: Semua Merasa Paling Benar

mahasiswa aktif jurnalistik Islam universitas Islam UIN Sultan Thaha Saifudin Jambi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reza Valevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial awalnya diciptakan untuk memudahkan orang berkomunikasi dan bertukar gagasan. Namun, seiring waktu, ruang diskusi perlahan berubah menjadi ruang pertarungan pendapat. Hampir setiap isu, mulai dari politik, agama, olahraga, hiburan, hingga kehidupan pribadi seseorang, selalu dipenuhi komentar yang saling menyerang. Yang paling mencolok bukan lagi perbedaan pendapat, melainkan keyakinan bahwa diri sendirilah yang paling benar.
Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat berdialog kini sering berubah menjadi arena adu emosi. Banyak orang lebih cepat mengetik daripada berpikir. Mereka membalas tanpa membaca utuh, menghakimi tanpa memahami konteks, bahkan menyerang pribadi ketika kehabisan argumen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang mengalami perubahan budaya komunikasi. Perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang wajar, tetapi dianggap sebagai ancaman yang harus dilawan. Akibatnya, diskusi kehilangan tujuannya untuk saling belajar dan justru menjadi ajang mencari kemenangan.
Ironisnya, algoritma media sosial justru sering memperkuat keadaan tersebut. Konten yang memancing kemarahan, kontroversi, dan perdebatan biasanya memperoleh lebih banyak komentar dan interaksi. Semakin ramai sebuah pertengkaran, semakin besar pula peluangnya muncul di beranda pengguna lain.
Tidak sedikit orang akhirnya ikut berkomentar hanya agar dianggap tahu. Padahal, mereka belum tentu memahami persoalan yang sedang dibahas. Opini dibangun dari potongan video, judul berita, atau unggahan yang belum tentu benar. Informasi yang belum diverifikasi pun dengan mudah berubah menjadi "kebenaran" di mata banyak orang.
Survei Digital Civility Index dari Microsoft dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa perilaku tidak sopan di ruang digital masih menjadi persoalan di berbagai negara. Ujaran kebencian, penghinaan, dan serangan pribadi masih sering ditemukan dalam interaksi di internet. Fakta ini menjadi pengingat bahwa literasi digital bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tentang etika dalam berkomunikasi.
Padahal, tidak semua pendapat harus dibalas. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Dalam kehidupan demokratis, berbeda pandangan adalah hal yang wajar. Yang seharusnya dijaga adalah cara menyampaikan pendapat dengan tetap menghormati orang lain.
Kemampuan menerima kritik dan mengakui kemungkinan bahwa diri sendiri bisa saja keliru merupakan bagian dari kedewasaan berpikir. Sayangnya, budaya komentar hari ini sering mendorong orang mempertahankan ego daripada mencari kebenaran. Mengalah dianggap kalah, padahal mengubah pendapat setelah menemukan fakta baru justru menunjukkan kecerdasan.
Jika budaya ini terus dibiarkan, ruang digital akan semakin bising tetapi miskin makna. Kita akan memiliki jutaan komentar setiap hari, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar menghasilkan pemahaman. Yang tersisa hanyalah suara-suara yang saling bertabrakan tanpa pernah benar-benar saling mendengarkan.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan ketika kolom komentar berubah menjadi ruang penghakiman massal. Seseorang dapat dicap bersalah, dibenci, bahkan kehilangan reputasinya hanya berdasarkan potongan video atau informasi yang belum utuh. Proses mencari fakta sering kali kalah cepat dibanding derasnya opini publik.
Laporan Digital News Report dari Reuters Institute menunjukkan bahwa masyarakat semakin banyak memperoleh informasi dari media sosial. Di sisi lain, arus informasi yang begitu cepat membuat pengguna sering terpapar berbagai klaim tanpa sempat memeriksa kebenarannya. Dalam situasi seperti ini, kemampuan berpikir kritis menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang paling cepat berkomentar.
Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan internet. Literasi digital harus mencakup kemampuan memverifikasi informasi, memahami konteks, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga etika dalam berdiskusi. Tanpa itu, teknologi justru memperbesar konflik daripada memperluas wawasan.
Sudah saatnya kita mengubah cara memandang kolom komentar. Ia tidak seharusnya menjadi arena saling menjatuhkan, melainkan ruang bertukar pikiran. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Justru melalui perbedaan itulah seseorang dapat melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Menahan diri untuk tidak langsung bereaksi, membaca informasi secara utuh, serta menghormati orang yang berbeda pandangan merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi polarisasi di masyarakat.
Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologinya, tetapi juga dari kualitas percakapan warganya. Jika ruang digital dipenuhi hujatan, ejekan, dan saling merasa paling benar, maka yang berkembang bukanlah pengetahuan, melainkan kebisingan. Sebaliknya, jika masyarakat mampu berdialog dengan terbuka dan saling menghargai, media sosial dapat menjadi ruang belajar yang bermanfaat bagi semua.
Budaya komentar bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling bijak menyampaikan pendapat. Dunia digital membutuhkan lebih banyak orang yang mau mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menghakimi, dan mencari kebenaran sebelum merasa paling benar. Sebab, komentar yang baik bukanlah yang memenangkan perdebatan, tetapi yang mampu memperluas pemahaman.
