Konten dari Pengguna

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Kita Kekurangan Kemampuan untuk Berpikir

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reza Valevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Arus informasi yang melimpah di era digital perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu membedakan fakta, opini, dan disinformasi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Arus informasi yang melimpah di era digital perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu membedakan fakta, opini, dan disinformasi.

Setiap hari kita bangun dengan banjir informasi. Sebelum benar-benar memulai aktivitas, layar telepon genggam sudah dipenuhi notifikasi berita, video pendek, unggahan media sosial, hingga berbagai pendapat yang datang silih berganti. Dalam hitungan detik, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di Jakarta, Tokyo, New York, atau belahan dunia lain. Namun, di tengah kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah melimpahnya informasi benar-benar membuat kita lebih memahami dunia?

Kemajuan teknologi telah menghapus banyak batas dalam mengakses informasi. Mesin pencari, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan siapa pun memperoleh jawaban dengan cepat. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Persoalan terbesar hari ini bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana membedakan informasi yang akurat, menyesatkan, atau sekadar dibuat untuk menarik perhatian.

Laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap kebenaran informasi di internet masih tinggi. Di banyak negara, lebih dari separuh responden mengaku khawatir terhadap sulitnya membedakan berita yang benar dan yang salah di ruang digital. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masalah utama bukan kekurangan informasi, melainkan kemampuan masyarakat dalam menilai kualitas informasi yang mereka konsumsi. Sumber: Reuters Institute Digital News Report 2025.

Indonesia tidak berada di luar persoalan tersebut. Reuters Institute juga mencatat bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memperoleh berita melalui platform digital seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, Instagram, dan TikTok. Perubahan ini membuat masyarakat semakin akrab dengan informasi yang datang begitu cepat. Namun, kecepatan sering kali tidak diikuti dengan kebiasaan untuk membaca secara utuh, memeriksa sumber, atau memahami konteks sebelum mempercayai dan membagikannya.

Fenomena tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang langsung menyimpulkan isi sebuah berita hanya dari judulnya. Potongan video berdurasi beberapa detik dianggap sudah cukup untuk menilai seseorang. Bahkan, sebuah unggahan yang telah dibagikan ribuan kali sering dianggap benar hanya karena viral. Padahal, popularitas tidak pernah menjadi ukuran kebenaran. Informasi yang paling banyak dilihat belum tentu merupakan informasi yang paling akurat.

Kondisi ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut mampu membantu manusia mencari referensi, merangkum bacaan, bahkan menyusun tulisan dalam hitungan detik. Namun, AI tetap memiliki keterbatasan. Jawaban yang dihasilkan bisa saja kurang lengkap, keliru, atau tidak sesuai konteks jika tidak diperiksa kembali. Karena itu, AI seharusnya menjadi alat untuk membantu berpikir, bukan menggantikan proses berpikir manusia.

UNESCO melalui konsep Media and Information Literacy menegaskan bahwa masyarakat digital tidak cukup hanya mampu mengakses informasi. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Dengan kata lain, literasi digital bukan sekadar soal cepat menemukan informasi, tetapi juga soal kecakapan berpikir kritis dalam menghadapi derasnya arus informasi.

Ironisnya, semakin mudah memperoleh jawaban, semakin sedikit orang yang bersedia meluangkan waktu untuk mempertanyakan jawaban tersebut. Kita mulai terbiasa menerima informasi tanpa verifikasi, membagikan berita tanpa membaca isinya, dan membentuk opini tanpa memahami persoalan secara menyeluruh. Kebiasaan inilah yang perlahan mengikis kemampuan berpikir kritis, padahal kemampuan tersebut menjadi bekal utama dalam menghadapi era digital.

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era informasi bukanlah kekurangan data atau berita. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga agar manusia tetap menjadi makhluk yang berpikir. Sebab, teknologi akan terus berkembang dan informasi akan terus bertambah. Namun, jika kemampuan berpikir kritis tidak ikut berkembang, manusia hanya akan menjadi penerima informasi yang pasif. Kita tidak kekurangan informasi. Yang mulai kita kehilangan adalah kebiasaan untuk berpikir sebelum percaya, sebelum membagikan, dan sebelum mengambil kesimpulan.

Persoalan ini juga dipengaruhi oleh cara kerja algoritma media sosial. Platform digital dirancang untuk menampilkan konten yang paling mungkin menarik perhatian pengguna, bukan selalu yang paling akurat atau paling bermanfaat. Akibatnya, informasi yang memancing emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau sensasi sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Dalam situasi seperti ini, perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan, sementara kualitas informasi sering kali berada di urutan kedua.

Di tengah arus informasi tersebut, masyarakat dituntut untuk menjadi pengguna media yang lebih bijak. Membaca secara utuh, memeriksa sumber, membandingkan informasi dengan media lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum terverifikasi merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar. Sayangnya, kebiasaan seperti ini mulai tergeser oleh budaya serba cepat. Banyak orang lebih ingin menjadi yang pertama membagikan informasi daripada memastikan bahwa informasi tersebut benar.

Fenomena ini juga menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik untuk mencari jawaban. Yang jauh lebih penting adalah membiasakan mereka bertanya, menganalisis, berdiskusi, dan menyusun argumen berdasarkan fakta. Di era AI, kemampuan menghafal informasi tidak lagi menjadi keunggulan utama. Yang membedakan manusia dari mesin adalah kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, dan mengambil keputusan secara etis.

Hal yang sama berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan berdiskusi dan mengajarkan anak untuk tidak mudah percaya pada setiap informasi yang diterima. Di sisi lain, media massa juga memikul tanggung jawab besar untuk terus menghadirkan jurnalisme yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika ruang digital dipenuhi berbagai informasi, kehadiran media yang kredibel justru menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang kedewasaan dalam memanfaatkannya. Masyarakat perlu menyadari bahwa setiap klik, komentar, dan unggahan memiliki dampak. Informasi yang dibagikan tanpa verifikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman, merusak reputasi seseorang, bahkan memicu keresahan di tengah masyarakat. Karena itu, berpikir sebelum membagikan informasi merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga digital.

Kita tentu tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. AI akan semakin canggih, media sosial akan terus berkembang, dan informasi akan semakin mudah diakses. Namun, satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemampuan manusia untuk berpikir secara mandiri. Teknologi seharusnya memperluas wawasan, bukan membuat manusia berhenti menggunakan akal sehatnya. Sebab, secanggih apa pun teknologi, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menemukan informasi, melainkan bagaimana tetap berpikir di tengah melimpahnya informasi. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak mudah terpengaruh oleh judul sensasional, tidak cepat percaya pada kabar yang belum jelas, dan tidak malas memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan. Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang memiliki informasi paling banyak, melainkan oleh mereka yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi tindakan yang membawa manfaat bagi sesama.