Konten dari Pengguna

Kebaya di TikTok: Tren Anak Muda atau Pelestarian?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rezhia Sylvie Marcia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebaya semakin populer di kalangan anak muda melalui TikTok, tetapi apakah tren tersebut benar-benar menjadi bentuk pelestarian budaya?

Kebaya sebagai pakaian tradisional Indonesia yang dikenakan dalam gaya modern oleh generasi muda. @rezhiaaa
zoom-in-whitePerbesar
Kebaya sebagai pakaian tradisional Indonesia yang dikenakan dalam gaya modern oleh generasi muda. @rezhiaaa

Kalau mendengar kata kebaya, mungkin yang langsung terbayang adalah pakaian tradisional yang dipakai saat acara resmi, pernikahan, atau kegiatan adat. Namun, sekarang kebaya mulai punya wajah yang berbeda. Di media sosial, khususnya TikTok, kebaya bisa ditemukan dalam berbagai gaya: dipadukan dengan jeans, digunakan untuk kegiatan kampus, hingga dijadikan konten Get Ready With Me (GRWM). Rezhia Sylvie Marcia Ramadhani berpendapat bahwa perubahan tersebut menunjukkan adanya cara baru bagi generasi muda untuk mengenal dan menggunakan kebaya di tengah perkembangan zaman.

Perubahan ini tentu menjadi hal yang menarik. Kebaya yang sebelumnya dianggap “terlalu formal” atau identik dengan generasi terdahulu, kini justru mulai digunakan oleh anak muda dengan gaya yang lebih kekinian. TikTok pun menjadi salah satu ruang yang membuat kebaya semakin mudah dikenal oleh generasi muda.

Tapi, ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk dibahas: apakah kebaya yang semakin viral di TikTok benar-benar berarti semakin lestari? Atau jangan-jangan kebaya hanya sedang mengikuti tren yang suatu saat bisa hilang?

Viral Belum Tentu Lestari

Sesuatu yang viral biasanya menunjukkan bahwa sebuah konten sedang mendapatkan banyak perhatian. Konten tersebut banyak ditonton, disukai, dibagikan, atau dibicarakan dalam waktu tertentu. Sementara itu, pelestarian budaya memiliki makna yang lebih panjang. Melestarikan budaya berarti ada usaha untuk mengenal, menghargai, menggunakan, serta meneruskan budaya tersebut agar tetap hidup meskipun zaman terus berubah.

Artinya, viral dan lestari bukanlah dua hal yang sama.

Kebaya memang bisa mendapatkan jutaan penayangan di TikTok. Namun, apakah orang yang melihat konten tersebut kemudian menjadi lebih mengenal kebaya? Apakah mereka tertarik menggunakannya? Apakah mereka memahami bahwa kebaya bukan hanya sekadar pakaian yang sedang tren? Dan yang paling penting, apakah ketertarikan tersebut akan tetap ada ketika tren kebaya sudah tidak lagi memenuhi For You Page?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menurut saya perlu diperhatikan.

Ketika Kebaya Masuk ke FYP

Fenomena tersebut sebenarnya bisa dilihat dari beberapa konten TikTok yang menampilkan kebaya dengan gaya anak muda.

Salah satunya adalah konten “Mix & Match Kebaya” yang diunggah pada 3 Maret 2025. Konten tersebut tercatat memperoleh sekitar 2,8 juta views dan 239,4 ribu likes. Konten tersebut memperlihatkan kebaya sebagai salah satu pilihan outfit yang bisa dikreasikan sesuai dengan gaya anak muda.

Ada juga konten “GRWM Pakai Kebaya” yang diunggah pada 20 April 2026 dan memperoleh sekitar 328,8 ribu views serta 31,2 ribu likes. Konten seperti ini menunjukkan bahwa kebaya tidak hanya digunakan untuk acara adat atau acara resmi, tetapi juga dapat hadir dalam keseharian anak muda.

Contoh lainnya adalah tren “Kebaya Jeans” yang memadukan kebaya dengan celana jeans sebagai outfit kasual. Konten tersebut memperoleh sekitar 731,4 ribu views, menunjukkan bahwa perpaduan antara pakaian tradisional dan fashion modern cukup menarik perhatian penggunaan media sosial.

Data tersebut menunjukkan bahwa kebaya memperoleh perhatian yang cukup besar di TikTok. Beberapa konten bahkan mencapai ratusan ribu hingga jutaan penayangan. Namun, tingginya angka tersebut belum dapat menjadi bukti bahwa kebaya telah benar-benar dilestarikan. Angka views menunjukkan popularitas suatu konten, sedangkan pelestarian budaya membutuhkan keberlanjutan setelah tren tersebut berakhir.

Dengan kata lain, TikTok bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kebaya, tetapi belum tentu menjadi bukti bahwa kebaya sudah benar-benar lestari.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Mengikuti tren sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah.

Justru, ketika anak muda mulai memakai kebaya dengan cara yang lebih modern, hal tersebut bisa menjadi kesempatan untuk membuat kebaya semakin dekat dengan kehidupan mereka. Kebaya tidak harus selalu dipakai dengan gaya yang sama seperti masa lalu. Selama tidak menghilangkan identitas dan nilai budayanya, kreativitas dalam memadukan kebaya dengan fashion masa kini dapat menjadi salah satu cara agar budaya tetap relevan.

Masalahnya muncul ketika kebaya hanya dilihat sebagai “outfit yang lagi viral”.

Kalau seseorang memakai kebaya hanya karena melihatnya raai mai di TikTok, tentu belum bisa langsung dikatakan bahwa ia sedang melakukan pelestarian budaya. Namun, jika dari tren tersebut kemudian muncul rasa ingin tahu, rasa bangga, keinginan untuk mengenal sejarahnya, menggunakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mengajak orang lain untuk mengenalnya, maka tren tersebut bisa menjadi langkah awal menuju pelestarian.

Jadi, mungkin persoalannya bukan “tren atau pelestarian?”, tetapi “apakah tren tersebut bisa berkembang menjadi kesadaran untuk melestarikan?”

Lalu, Apa Hubungannya dengan Pancasila?

Di sinilah fenomena kebaya di TikTok menjadi menarik jika dilihat dari perspektif Pendidikan Pancasila.

Kebaya bukan hanya persoalan fashion. Ia merupakan salah satu bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Ketika generasi muda mengenal dan merasa bangga terhadap budaya sendiri, terdapat nilai yang berkaitan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.

Indonesia memiliki banyak suku, bahasa, pakaian tradisional, kesenian, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman merupakan bagian dari identitas Indonesia. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan yang menyatukan.

Dalam konteks ini, mengenalkan kebaya melalui TikTok dapat menjadi salah satu bentuk adaptasi budaya terhadap perkembangan zaman. Media sosial yang awalnya hanya digunakan untuk hiburan ternyata dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya kepada kelompok yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Hal ini sejalan dengan Pasal 32 UUD 1945 mengenai pemajuan kebudayaan nasional. Oleh karena itu, menjaga budaya bukan hanya tanggung jawab generasi terdahulu, melainkan juga generasi muda yang memiliki ruang untuk memperkenalkannya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari FYP Menjadi Kepedulian

Tantangan sebenarnya bukan sekadar membuat kebaya viral di TikTok, tetapi memastikan tren tersebut berkembang menjadi kepedulian. Tidak masalah jika anak muda mengenal kebaya karena tren. Yang penting, ketertarikan itu berlanjut menjadi keinginan untuk menggunakan, memahami, menghargai, dan menjaga kebaya sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Karena itu, jumlah views tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pelestarian budaya. TikTok memang dapat membuat kebaya masuk FYP, tetapi generasi mudalah yang menentukan apakah kebaya hanya menjadi tren sesaat atau tetap hidup di tengah masyarakat.