Konten dari Pengguna

Tarian di Era Digital: Antara Tren, Identitas, dan Pelestarian Budaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rezhia Sylvie Marcia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tarian tradisional kini semakin mudah dikenal melalui media sosial, tetapi apakah popularitasnya benar-benar berarti budaya tersebut lestari?

Kalau mendengar kata tarian tradisional, mungkin yang langsung terbayang adalah pertunjukan di panggung, acara adat, atau kegiatan sekolah. Namun, sekarang tarian tradisional semakin mudah ditemukan di media sosial. Berbagai tarian daerah dikemas dengan gaya yang lebih modern, digunakan dalam challenge, atau dibuat menjadi konten yang menarik perhatian anak muda. Perkembangan ini menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang baru untuk memperkenalkan budaya Indonesia.

Namun, muncul pertanyaan yang menurut saya penting: apakah ketika tarian daerah semakin dikenal, berarti budaya tersebut otomatis semakin lestari? Atau justru tarian hanya menjadi sebuah pertunjukan yang dinikmati tanpa memahami makna di baliknya? Sebab, sesuatu yang banyak ditonton atau viral belum tentu membuat masyarakat benar-benar mengenal dan menghargai budaya tersebut.

Media sosial memang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tarian daerah kepada generasi muda. Seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengetahui sebuah tarian bisa tertarik setelah melihatnya di For You Page. Mereka mungkin kemudian mencoba gerakannya, membuat konten, atau membagikannya kepada orang lain. Dari sini, tren sebenarnya dapat memberikan kesempatan bagi budaya daerah untuk dikenal lebih luas.

Tetapi, dikenal belum tentu dipahami. Sebuah tarian tidak hanya terdiri dari gerakan dan musik, tetapi juga dapat memiliki sejarah, nilai, simbol, dan identitas masyarakat yang menciptakannya. Ketika seseorang hanya mengikuti gerakannya karena sedang tren, belum tentu ia mengetahui dari mana tarian tersebut berasal atau apa makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu, popularitas sebuah tarian belum bisa langsung dianggap sebagai bukti bahwa budaya tersebut telah dilestarikan.

Meski begitu, mengikuti tren juga tidak selalu berarti buruk. Ketika anak muda menggunakan media sosial untuk mempelajari dan memperkenalkan tarian daerah, mereka sebenarnya dapat membantu membuat budaya tersebut lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Cara memperkenalkan budaya memang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Selama tidak menghilangkan identitas dan nilai budaya yang ada, kreativitas justru dapat menjadi salah satu cara agar tarian tradisional tetap menarik untuk dipelajari.

Masalahnya muncul ketika tarian hanya dipandang sebagai konten yang sedang ramai. Ketika tren berakhir dan masyarakat tidak lagi tertarik untuk mempelajarinya, popularitas tersebut bisa saja hanya berlangsung sementara. Sebaliknya, jika rasa tertarik terhadap sebuah tarian membuat seseorang ingin mengetahui sejarah, asal-usul, makna, dan nilai yang ada di dalamnya, maka tren tersebut dapat berkembang menjadi bentuk kepedulian terhadap budaya.

Indonesia sendiri memiliki banyak tarian dari berbagai daerah. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam. Tarian dari Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan daerah lainnya memiliki ciri khas masing-masing. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal sebagai bagian dari satu bangsa.

Dalam kehidupan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), keberagaman budaya justru menjadi salah satu hal yang dapat memperkuat persatuan. Kita tidak harus memiliki budaya yang sama untuk dapat hidup sebagai satu bangsa. Ketika seseorang mempelajari tarian dari daerah lain, ia sedang belajar menghargai keberagaman yang ada di Indonesia. Hal ini sejalan dengan nilai Persatuan Indonesia, yaitu tetap bersatu meskipun memiliki latar belakang dan kebudayaan yang berbeda.

Upaya menjaga keberagaman tersebut juga memiliki dasar dalam UUD 1945, khususnya Pasal 32, yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan nasional. Artinya, kebudayaan tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya, tetapi juga dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Media sosial dapat menjadi salah satu ruang yang digunakan masyarakat untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya, termasuk melalui tarian daerah.

Karena itu, pelestarian tarian tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang sama seperti dahulu. Mengajarkan tarian di sekolah, menampilkannya dalam kegiatan masyarakat, membuat komunitas seni, hingga memperkenalkannya melalui media sosial merupakan beberapa bentuk usaha untuk menjaga keberadaannya. Yang paling penting bukan hanya bagaimana tarian tersebut ditampilkan, tetapi apakah generasi muda masih memiliki ketertarikan untuk mengenal dan meneruskannya.

Pada akhirnya, tantangan dalam melestarikan tarian tradisional bukan hanya membuatnya dikenal oleh banyak orang, tetapi membuatnya tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat. Tidak masalah jika seseorang pertama kali mengenal sebuah tarian karena media sosial atau karena sedang viral. Hal tersebut justru dapat menjadi awal yang baik selama ketertarikan tersebut berkembang menjadi keinginan untuk memahami dan menghargai budaya.

Jadi, sebuah tarian tidak dapat dikatakan lestari hanya karena banyak ditonton atau menjadi tren. Budaya tidak cukup hanya ditampilkan, tetapi juga perlu dipahami, dihargai, dan diwariskan. Jika generasi muda tidak hanya mengikuti gerakan tetapi juga mau mengenal cerita dan nilai di baliknya, maka sebuah tren dapat menjadi lebih dari sekadar hiburan. Dari sebuah gerakan yang terlihat sederhana, dapat tumbuh kesadaran untuk menjaga keberagaman budaya yang menjadi bagian dari Indonesia.

Dokumentasi Penampilan Tari Tradisional sebagai Bentuk Pengenalan Budaya IndonesiaSumber: Instagram @rezhiaaa